Dugaan Terorisme Orang Katholik

Friday, October 30th, 2015 - Dapur Berita, Opini Publik

Dalam berbagai tayangan berita ada disebutkan Leopard Wisnu Kumala adalah orang Katholik dan telah ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana terorisme. Profesional di bidang teknologi informasi itu diduga merakit dan meletakkan bom jenis Triacetone Triperoxide (TATP) di Mall @ Alam Sutera. Menurut polisi, bom jenis TATP ini berdaya ledak tinggi. Motif Leopard menebar teror diduga adalah butuh uang karena terlilit utang bank. Dia meminta uang Rp300 juta kepada pengelola mal di bawah grup properti milik The Ning King itu dalam bentuk bitcoin. Tapi yang dikirim hanya Rp750 ribu.

Lalu masyarakat ramai memperbincangkan tentang Leopard ini (yang saya duga nama baptisnya merujuk pada nama seorang budak di Roma yang mati sebagai martir pada tahun 1100-an). Ada lontaran pertanyaan dari sebagian kalangan, apakah karena tidak berjanggut maka Leopard tidak disebut teroris? Ini cenderung menguatkan persepsi orang bahwa yang disebut teroris adalah dari kalangan Islam semata.

Sebetulnya, tak sepenuhnya betul persepsi yang demikian. Tindakan teror tidak bisa dikaitkan dengan agama tertentu. Dalam kasus si Katholik Leopard ini, misalnya, kalau kita amati pemberitaan kompas.com (yang dalam beberapa segi sering dikaitkan dengan “medianya orang Katholik”), mereka menyebut terang-terangan Leopard sebagai teroris Mall Alam Sutera, bahkan tanpa atribut sebagai tersangka. Kompas.com mengulang-ulang penyebutan itu baik di judul berita, badan berita, keyword terkait, sehingga secara langsung mendongkrak SEO “Teroris Mall Alam Sutera” di mesin pencari seperti Google.

Polisi juga mengkategorikan perbuatan Leopard dalam ranah terorisme. Makanya, penanganannya diserahkan kepada Densus 88. Aturan hukum yang dijadikan acuan adalah UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-Undang.

Ancaman maksimalnya adalah hukuman mati!

Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. (Pasal 6).

Dalam kasus-kasus terorisme, peristilahan status pelaku seperti ditulis dalam berita-berita di media massa, memang kerap menimbulkan salah paham baik di kalangan media massa maupun masyarakat. Bahkan, kerap dimunculkan istilah “terduga” teroris dalam kasus-kasus tertentu oleh media massa. Padahal istilah “terduga” adalah istilah yang tidak dikenal dalam proses hukum (yang dikenal hanya saksi, tersangka, terdakwa, terpidana).

Mungkin para ahli hukum dan Dewan Pers bisa berunding untuk memberikan panduan khusus peristilahan dalam pemberitaan kasus terorisme, supaya tidak timbul salah pengertian di masyarakat. Selain itu, untuk memberikan aspek keadilan informasi juga, terutama bagi pihak-pihak yang selama ini dipojokkan dengan isu/berita tentang terorisme.

Namun, yang jelas, perlawanan terhadap terorisme — sama seperti perlawanan terhadap narkoba, korupsi, dan kejahatan lainnya — harus terus dilakukan. Tak peduli dari agama, suku, golongan, ras, apapun pelakunya berasal. Jangan karena salah paham, kita jadi tak bersatu untuk melawan itu semua.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Dugaan Terorisme Orang Katholik | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: