Bela Negara dan Hitungan Freeport

Sunday, October 25th, 2015 - Opini Publik, Rumor

Saya berpikiran begini. Materi Bela Negara seharusnya menyertakan juga pelajaran akuntansi. Ilmu hitung-hitungan duit yang “nasionalis”. Caranya bagaimana, ya kita minta para ahli keuangan di negeri ini meramu kurikulumnya. Tujuannya apa? Supaya ketika negosiasi dengan pihak asing, kita tidak dibodoh-bodohi.

Kalau seluruh elemen bangsa ini jago menghitung, kita tidak akan kebingungan menghadapi negosiasi dengan perusahaan multinasional seperti Freeport. Topik tentang Freeport ini semakin diberitakan semakin membuat bingung masyarakat. Semakin jauh dari inti persoalan yang sebenarnya. Terakhir malah ada berita kalau Taspen (perusahaan BUMN yang bergerak di bidang asuransi hari tua), digadang-gadang untuk ikutan beli saham Freeport yang mau didivestasi saat ini sebesar 10,64%. Walah!

Sekarang, sambil bersantai pada akhir pekan, coba kita sama-sama berhitung pakai kalkulator orang awam saja. Supaya kita tidak bingung dengan istilah divestasi, contract of work (COW), valuasi, share swap, laporan konsolidasi, dsb.

*
Freeport Indonesia (FI) itu adalah bagian dari Freeport-McMoRan Inc (FCX) yang kantor pusatnya ada di Phoenix, Arizona, USA. FI dimiliki oleh FCX (81,28%), PT Indocopper Investama/anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki FCX (9,36%), dan Pemerintah Indonesia (9,36%). Jadi FCX ini sebenarnya menguasai 90,64% dari total kepemilikan saham Freeport Indonesia.

Memangnya sekaya apa Freeport dari menambang emas, tembaga (uranium?) di Papua sana, termasuk di Grasberg sejak 1973? Per Desember 2014, portofolio aset tambang FCX adalah 103,5 miliar ton tembaga, 28,5 juta ons emas, dan 3,11 miliar ton molybdenum. Harga kisarannya US$2 per ton tembaga, US$1000 per ons emas, dan US$10 per ton molybdenum. Nah, Indonesia itu berkontribusi terhadap 16% total aset tembaga dan 93% aset emas dari FCX yang menambang juga di Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.

Aset Freeport Indonesia per 2014 adalah US$7,97 miliar (Rp108,5 triliun berdasarkan kurs saat ini). Kata pihak Freeport, per 2012 luas wilayah penambangan sudah menciut 75% menjadi tinggal 212.950 hektare saja atau setara 7,78% saja dari luas wilayah eksplorasi tahun 1991. Kata mereka lagi, investasi yang sudah dikeluarkan dari tahun 1973-2014 sebesar US$10,7 miliar (Rp145,7 triliun). Ini mereka masih memperkirakan ada investasi US$16 miliar – US$18 miliar tambahan untuk tambang bawah tanah.

Karena arus kas negatif, tahun lalu tak ada dividen buat pemerintah Indonesia. Dividen terakhir ada pada 2011, “cuma” Rp1,7 triliun. Tapi Freeport klaim berkontribusi bagi negara ini karena bayar PPH badan saja 35%, lebih tinggi dari aturan yang cuma 25% plus mereka kasih pembayaran royalti emas, tembaga, dan perak sebesar US$118 juta (Rp1,6 triliun).

Jadi, Freeport itu menghitungnya begini. Keuntungan langsung bagi Indonesia terdiri dari pajak, royalti, dividen, biaya, dan dukungan langsung lainnya yang per 1992-2014 jumlahnya US$15,8 miliar (Rp215 triliun). Keuntungan tidak langsung berupa gaji dan upah, pembelian dalam negeri, pengembangan regional & investasi dalam negeri langsung lainnya yang per 1992-2014 hitungan mereka US$29,5 miliar (Rp401,7 triliun).

Jadi, kalau menurut kacamata Freeport, harusnya kita yang berterima kasih sama mereka. Bisalah mereka bilang, jangan lihat keadaan sekarang dong, lihat kondisi Papua dulu waktu awal buka pertambangan. Medan sulit, investasi besar. Emang Indonesia bisa? (Meskipun kata kawan saya, ANTAM sebenarnya bisa kok dari dulu kalau dikasih kesempatan).

Sebagai informasi saja, total aset FCX (Freeport Mc-Moran/perusahaan induk) per 31 Desember 2014 adalah US$58,7 miliar (Rp799 triliun). Banyak ya.

Freeport sendiri menyadari pada tahun-tahun belakangan ini ada yang mereka sebut sebagai “regulatory restrictions in Indonesia”. Ini yang menyebabkan keuntungan mereka berkurang dan arus kas negatif. Meskipun direksi FCX bilangnya begini: “We achieved important progress in our efforts to secure our long-term operating rights in Indonesia and remain positive about our long-term partnership and benefits that our Grasberg operations will continue to provide to all stakeholders.”

Pada 25 Juli 2014, Freeport Indonesia bikin MoU dengan pemerintah terkait negosiasi kontrak karya yang di dalamnya ada perubahan mengenai area konsesi, royalti, pajak, smelter, divestasi, kontem lokal, dan rencana pasca-2021. Freeport diminta bangun smelter, divestasi 30% saham AT FAIR VALUE, supaya bisa perpanjangan kontrak karya periode 2022-2041.

Setelah MoU diteken, katanya, Freeport keluar duit US$115 juta untuk bikin smelter, menaikkan royalti jadi 4% (dari 3,5%) untuk tembaga dan 3,75% (dari 1%) untuk emas, bayar pajak ekspor 7,5% yang mereka klaim pada 2014 sebesar US$77 juta.

Nah, masalahnya sekarang, persentase 10,64% yang akan didivestasikan saat ini berapa harganya? (nanti akan ada divestasi 10%-an saham lagi pada tahap berikutnya untuk memenuhi ketentuan 30% kepemilikan saham Indonesia di Freeport). Sekarang Bahana Securitas lagi menghitung itu. Disuruh pemerintah.

– Kalau basisnya adalah aset total per 2014 sebesar Rp108,5 triliun, berarti 10,64%-nya adalah Rp11,5 triliun.
– Kalau basisnya adalah total investasi yang sudah dikeluarkan dari awal sampai sekarang Rp145,7 triliun, berarti 10,64%-nya adalah Rp15,5 triliun.

Pertanyaannya dua: 1) Memangnya mau Freeport hitungannya segitu? Lihat saja tuh perhitungan mereka tentang keuntungan langsung maupun tidak langsung yang sudah diberikan ke Indonesia tadi. Belum lagi kalau mereka hitung juga intangible asset; 2) Kalau pun mau angkanya segitu, memangnya kita punya duit segitu sendiri? Memangnya mau pakai APBN (yang di RAPBN 2016 sudah direncanakan ada Rp100 triliun untuk akuisisi saham ini tapi ditolak DPR)? Memangnya BUMN seperti ANTAM, INALUM, dsb sanggup nih kucurin duit segitu (Ingat, Freeport belum buka harga lho untuk 10,64% itu)?

Kalau prediksi saya, istilah “divestasi” itu cuma pemanis di media massa aja. Ujung-ujungnya nanti yang putar-putar uang di situ-situ juga. Paling juga prediksi saya nanti kalau Freeport sudah buka harga, dananya “diusahakan” dari utang lembaga asing lagi, sindikasi perbankan, dan sedikit-sedikit APBN. Tapi lembaga keuangan mana yang mau kasih utangan ke kita (pemerintah/BUMN) untuk ambil 10,64% itu? Ini yang seru.

Paling “cakep” sih ambil dana dari sindikasi lembaga keuangan tempat Freeport menaruh uangnya selama ini. Jadi, kita (pemerintah/BUMN) pinjam uang dari lembaga itu buat akuisisi 10,64% dengan bunga dan syarat tertentu. Lembaga itu ambil dana dari duit Freeport yang tersimpan di situ. Kita dapat 10,64% itu plus harus mencicil pokok dan bunganya. Siapa yang untung? Ya, Freeport dan lembaga keuangan yang dapat bunga itu. Sementara kalau pun kita kuasai sampai 30%, kita tak bisa jadi pengendali Freeport dan keuangan tetap terkonsolidasi ke Arizona sana.

Sekian. Salam Bela Negara.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Bela Negara dan Hitungan Freeport | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: