Desa Kincir Air dan Sungai Epicentrum

Friday, October 23rd, 2015 - Opini Publik

Lucu juga. Kepala daerah pada saling ejek gara-gara sungai di Epicentrum, Kuningan. Walikota Bandung bilang desain sungai di Epicentrum adalah karya firma arsiteknya dulu. Gubernur DKI bilang, itu desain sungai tipuan. Bukan membersihkan air sungai melainkan cuma menaruh air kotor di tempat yang tidak kelihatan. Terus pendukung masing-masing bersorak-sorai dan saling nyinyir.

Saya kadang berpikir apa betul isu yang ramai diliput media massa itu adalah isu strategis. Jangan-jangan ini semua cuma ulah para konsultan dan buzzer supaya si figur tetap eksis pemberitaannya di media massa. Maklum, Belanda sudah dekat. Pilkada DKI maksudnya. Poles citra terus. Eksis terus.

Tapi yang kasihan adalah masyarakat umum. Hidup sudah sulit, cari uang susah, eh malah disuguhi terus berita-berita polemik model beginian. Coba pikir, taruhlah betul desain sungai itu karya si A. Terus kenapa? Kan sudah dibayar profesional oleh klien. Lalu, taruhlah betul juga, sungai yang bersih adalah karya gubernur X. Terus kenapa juga? Bukankah tugasnya beliau untuk membenahi yang model beginian.

Poinnya adalah wajar-wajar sajalah. Jangan berlebihan dan cepat memuji. Jangan pula berlebihan dan tak rasional menyerang.

*
Masyarakat perlu diinformasikan juga kondisi objektifnya. Menurut saya, masalah utamanya adalah bukan bersih-tidaknya sungai melainkan bagaimana sebenarnya kondisi pertarungan modal di kawasan elite Jakarta bernama Kuningan itu. Sudahkah memberi manfaat maksimal untuk kepentingan umum? Sudahkah pengembangnya taat hukum?

Boleh saja Kang Emil (Ridwan Kamil) bilang fakta bahwa sungai itu adalah karya arsitektur firmanya pada 2007-2010. Firma arsiteknya itu dapat proyek dari si empunya lokasi yakni Bakrieland (PT Bakrieland Development, Tbk/ELTY). Bakrieland adalah perusahaan terbuka yang asetnya per 31 Desember 2014 sebesar Rp14,5 triliun. Itu 53,5 hektare lahan yang disebut Rasuna Epicentrum adalah punyanya Bakrieland ini semua. Banyak ya. Ada The Grove Suites dan Condominium, The Wave condominium, Bakrie Tower, Epicentrum Walk dan Plaza Festival. Jadi, sungai cuma sebagian kecil saja.

Pasti anda pikir Bakrieland itu punyanya Bakrie kan? Mungkin begitu. Tapi tepatnya pemegang saham terbesar adalah masyarakat (75%), selebihnya ada Inventures Capital Pte.Ltd, PT Asuransi Jiwa Sinarmas, The Northern TST CO SA Fidelity Investment. Nah kawasan Rasuna Epicentrum yang sungainya bikin heboh itu dikelola oleh anak perusahaan Bakrieland, yaitu PT Bakrie Swasakti Utama.

Seingat saya, sekira dua tahun lalu, yang bikin heboh itu adalah soal kewajiban fasum/fasos 20% dari total lahan yang belum dipenuhi oleh pengembang yang bersangkutan. Ahok juga yang marah-marah soal ini waktu itu.

Dasar hukumnya Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1981 dan Surat Keputusan Gubernur DKI Nomor 540 Tahun 1990 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Surat Persetujuan Prinsip Pembebasan Lokasi/Lahan atas Bidang Tanah untuk Pembangunan Fisik Kota di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, yang mengatur penguasaan lahan di atas 5.000 meter persegi dengan kewajiban 20% dari total lahan dipakai untuk membangun rumah susun. Sementara Kepmendagri itu mengatur pengembang berkewajiban membangun fasum-fasos seluas 40% dari luas lahan yang dibangun perumahan atau gedung komersial. Sementara proses penyerahan fasum-fasos diatur dalam Surat Keputusan Gubernur No 41/2001 tentang tata cara penerimaan kewajiban dari para pemegang surat izin pemanfaatan dan penggunaan tanah (SIPPT) pada pemerintah khusus Ibu Kota Jakarta.

Sekarang kabarnya bagaimana, belum saya cek lagi.

*
Nah, sekarang mumpung lagi ramai soal Rasuna Said, Kuningan, sekalian saja kita cek apakah para pelaku bisnis properti kakap di situ sudah pada patuh aturan hukum. Di kawasan itu banyak pemain besarnya lho selain Bakrieland. Nih contohnya: Ciputra World, Pakuwon Group (Mal Kota Casablanca), Bumi Serpong Damai (Sinar Mas Land) yang mengakuisisi lahan 3 hektare senilai Rp868,9 miliar, Agung Podomoro (Mal Kuningan City), PT Jakarta Setiabudi International (Jan Darmadi) dengan Plaza Setiabudi dan Setiabudi One-nya, Tan Kian dengan JW Marriot dan Ritz Carlton, dan lain-lain. Awasi deh pajaknya, fasum/fasosnya, izin lingkungannya, dsb.

Kalau inginnya sih kata saya di kawasan itu dibikin saja seperti Desa Kincir Air-nya Akira Kurosawa. Biar tak usah banyak gedung dan beton yang bikin sumpek. Di film itu, para teknokrat dibilang mungkin pandai, tapi kebanyakan tak memahami inti dari alam. Mereka membuat sesuatu yang pada ujungnya membuat orang tidak bahagia, tapi mereka bangga dengan penemuan mereka itu. Sebagian besar orang juga melihatnya seperti keajaiban dan memujanya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Desa Kincir Air dan Sungai Epicentrum | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: