Bisnis Supporter Sepakbola di Indonesia

Tuesday, October 20th, 2015 - Dapur Berita, Opini Publik

Setelah libur sejenak selama tiga hari, blog ini akan “mengudara” kembali. Saya dan keluarga butuh rehat, berakhir pekan ke luar kota, supaya kembali segar. Jakarta sumpek sekali. Pikiran penat.

Topik setahun pemerintahan Jokowi-JK sudah banyak ulasannya di mana-mana. Ada yang puas, ada yang kurang puas, ada yang tidak puas. Wajar saja, sulit bagi pemimpin menyenangkan semua orang. Silakan anda pribadi menilai sendiri, enak atau tidak di bawah pemerintahan Jokowi-JK setahun terakhir ini.

Topik tentang sepakbola justru menarik perhatian saya. Kemarin petang, ada kawan yang menelepon saya, memberi kabar tentang penangkapan Sekjen Jakmania dalam kasus yang berkaitan dengan UU ITE dan KUHP. Dia diduga sebagai provokator sejumlah insiden kekerasan supporter jelang Final Piala Presiden 2015 yang akhirnya dimenangkan Persib Bandung 2-0 atas Sriwijaya FC. Yang bersangkutan juga mengaku sebagai wartawan media online.

Ya, sudahlah, Biarkan proses hukum berjalan saja. Tapi tetap saja, saya menyampaikan rasa prihatin dan simpati atas peristiwa itu karena sedikit banyak saya mengenal yang bersangkutan. Semoga semua proses berjalan adil dan proporsional. (Saya mencoba selalu bersikap adil dan empati terhadap siapapun yang menghadapi proses hukum. Itu situasi yang berat bagi siapapun juga, terlepas dari putusan benar/salah oleh pengadilan nantinya).

Persoalannya sekarang adalah: bagaimana seharusnya supporter klub bola di Indonesia “naik kelas” dari sekadar menjadi tukang sorak dan (kadang-kadang) berantem, menjadi supporter yang cerdas dan bermanfaat bagi kemajuan klub?

*
Fanatik, arti harafiahnya, teramat kuat kepercayaan (keyakinan) terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Fanatik terhadap klub sepakbola berarti teramat kuat kepercayaan (keyakinan) terhadap klub. Hal ini sah-sah saja. Yang tidak boleh adalah misalnya karena fanatik lantas melanggar hukum: merusak stadion, menyerang orang, memprovokasi, dsb. Jika ada kelompok supporter, berarti secara gampang bolehlah kita sebut itu merupakan kumpulan orang yang memiliki kesamaan kepercayaan (keyakinan) terhadap suatu klub.

Dalam sepakbola, percayalah, fanatisme yang berujung pada kebencian dan kekerasan, tak ada gunanya terhadap kemajuan klub. Terhadap kemajuan sepakbola nasional. Menurut saya, peperangan antarsupporter bukanlah peristiwa fanatisme sepakbola an sich melainkan peristiwa yang multidimensi: ada faktor sosiologis, psikologis, ekonomi, dsb yang mempengaruhi. Kadang urusan sepakbola seolah-olah menerabas semua sekat ekonomi, psikologi, politik, budaya, dsb.

Saya, misalnya, juga termasuk orang yang menjadikan sepakbola sebagai wahana saya untuk menempatkan identitas. Ibu saya Yogyakarta, bapak saya Solo. Saya besar di Depok, lalu menetap di Jakarta. Kuliah di Bandung. Tapi saya bukan fans PSIM Yogyakarta atau Persis Solo. Apalagi fans Persikad Depok yang sekarang sudah dibeli Purwakarta. Terkadang saya jadi supporter Persija, tapi pertandingan Persib tidak pernah saya lewatkan. Dulu saya fans Gendut Doni, jadi dimana ada dia, saya mendukung klub itu baik sewaktu di Persikota, Persib, Arema, maupun Persija. Sama seperti saya penggemar Evan Dimas, otomatis saya senang juga dengan Persebaya. Tapi saya senang dengan gaya bermain Alfarizi, makanya saya tonton juga Arema. Kadang saya mendukung Persita Tangerang, karena di sana ada kawan futsal saya main sebagai sayap kanan. Pun, Makan Konate. Saya senang permainan dia, sejak di PSPS Pekanbaru, makanya saya suka nonton Persib, karena faktor Konate juga. Di Piala Presiden kemarin saya mendukung Bali United, yang saya kira juga akan jadi kuda hitam contoh pengelolaan sepakbola usia dini.

Tapi satu yang jelas, saya adalah penggemar fanatik timnas Indonesia. Hampir tak ada satu pun pertandingan timnas (termasuk uji coba) yang tidak saya tonton (baik di stadion maupun tv) selama 20 tahun terakhir.

*
Menurut saya, pengelolaan klub profesional adalah kunci semuanya. Pembinaan usia dini juga baru bisa maksimal selama klub dikelola profesional mulai dari tahap SSB. Faktor penting pengelolaan klub profesional adalah pendanaan. Dan pendanaan klub dipengaruhi oleh jenis badan hukum dan model bisnis yang hendak dikembangkan. Karena menyangkut model bisnis maka syarat-syarat pengelolaan bisnis yang baik menuju keuntungan maksimal juga harus dilakukan seprofesional mungkin.

Statuta FIFA menegaskan bahwa klub harus berbadan hukum. Akhirnya seluruh klub pun mendirikan badan hukum, kebanyakan perseroan. Bahkan ada yang sudah melantai di bursa efek seperti Manchester United PLC (MANU), Newcastle United, Lazio, Borrusia Dortmund, AS Roma, Juventus, dsb.

Ada juga yang berbadan hukum layaknya koperasi, seperti Barcelona, Real Madrid, Athletico Bilbao, dan Osasuna. Keputusan tertinggi ada di tangan rapat anggota yang saat ini jumlahnya mencapai lebih dari 100 ribu pihak, sebagian besar supporter. Pengelolaan klub didasarkan pada prinsip-prinsip koperasi yang sebagian besar mirip dengan yang digariskan dalam UU Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian, seperti keanggotaan yang sifatnya sukarela dan terbuka, partisipasi aktif anggota, independen, melayani kepentingan anggota, dsb.

Bagaimana dengan Indonesia? Saya lihat Persib Bandung adalah klub yang arahnya jelas ke depan: IPO. Beberapa waktu lalu terdengar kabar PT Persib Bandung Bermartabat bakal melepas 45% kepemilikan sahamnya untuk publik. Saat ini mayoritas (70%) saham Persib dimiliki PT Surya Eka Perkasa milik keluarga Thohir (Erick Thohir). Saya dengar ada juga sokongan investasi dari Northstar yang digawangi Patrick Walujo (yang investasi di Gojek juga). Makanya Dirut Persib Glen Sagita ada di situ juga. Glen juga pengurus Northstar.

Dengan basis pendukung yang diestimasikan 6 juta orang, Persib Bandung saya kira akan bisa meraih tangga pionir sebagai klub yang pertama kali IPO di Indonesia. Dengan model bisnis dan pengelolaan yang tepat, mereka bisa menjalankan berbagai lini usaha mulai dari pemasukan tiket, merchandise, hak siar, off air programme, dsb.

Dengan demikian, para supporter yang masih berorientasi teriak-teriak dan berantem bakal ketinggalan zaman dengan sendirinya. Sepakbola modern yang berbasis industri tak membutuhkan kerusuhan dan sentimen SARA. Bisnis sepakbola membutuhkan kepastian (sama dengan bisnis lain pada umumnya) keamanan, kebijakan pemerintah, legalitas, infrastruktur. Sebagai industri, sepakbola membutuhkan profesionalitas supaya enak ditonton dan menarik sebanyak-banyaknya peminat untuk berinvestasi.

Saya pikir semua kekisruhan sepakbola baik perkelahian di jalanan maupun perkelahian di kalangan pejabat dan pengurus PSSI dan pemerintah harus segera berakhir. Dengan estimasi basis penggemar fanatik sepakbola di Indonesia yang sekira 70% dari total jumlah penduduk, sayang sekali jika kita cuma disajikan berita tentang kerusuhan, kerusuhan, dan kerusuhan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Bisnis Supporter Sepakbola di Indonesia | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: