Nasib Kedoya setelah Kasus OCK dan Rio Capella

Friday, October 16th, 2015 - Bisnis Media, Opini Publik

Tak seharusnya bangsa sebesar Indonesia menjadi bangsa yang pemaki-maki. Tukang nyinyir. Termasuk dalam urusan pemberantasan korupsi. Pemberantasan korupsi seharusnya adalah domain hukum, bukan permainan intrik politik. Jadi biarlah hukum yang menyelesaikan semuanya melalui forum pengadilan.

Jadi, jika ada mantan sekretaris jenderal partai yang “lumayan” besar menjadi tersangka (sebelumnya fungsionaris partai ini yang juga pengacara kondang OCK juga dijadikan tersangka oleh KPK), lantas berita yang berkembang dikait-kaitkan dengan nama ketua umumnya yang juga merupakan pemilik grup media, sepatutnya kita prihatin. Mencela atau bersorak-sorai bukanlah merupakan sikap yang bijak. Menjadi tersangka korupsi sudah merupakan penderitaan yang teramat besar. Nama baik cemar, proses hukum melelahkan, dan sebagainya. Namun, pemberantasan korupsi tak bisa berhenti. Harus jalan terus!

Saya sengaja menunggu berita yang diturunkan oleh koran Media Indonesia hari ini. Saya alumnus dan didikan dari koran itu yang berlokasi di Kedoya. Dan sampai hari ini saya tetap bangga menjadi bagian dari keluarga besar Kedoya. Sejarah tak boleh dilupakan.

Media Indonesia menurunkan berita headline halaman 3 edisi hari ini berjudul “Jadi Tersangka, Patrice Rio Mundur”. Angle-nya adalah kesepakatan di Partai Nasdem bahwa sekecil apapun perkara hukum yang menimpa kader partai itu, jika sudah jadi tersangka, cuma ada dua pilihan: mundur atau diberhentikan. Dalam berita itu juga ada keterangan Surya Paloh yang mengakui bahwa Patrice Rio Capela adalah orang yang turut membesarkan Partai Nasdem.

Menurut saya, ini berita menunjukkan sikap Media Indonesia yang tidak reaktif dan membabi-buta menyerang fakta hukum yang ditemukan KPK. Ini sikap yang simpatik, menunjukkan bahwa baik Nasdem maupun Media Group, berhati-hati sekali mengambil posisi, ketimbang diserang balik dan dituding sebagai media dan partai koruptor.

Bagi Partai Nasdem sendiri, status kadernya sebagai tersangka korupsi adalah pukulan telak. Sebagai partai anyar yang moncer dengan perolehan suara legislatif 6,7% plus jabatan strategis yakni posisi jaksa agung dan menteri agraria, plus lagi posisi Taufik Basari, aktivis antikorupsi yang menjadi salah satu fungsionaris, menjadikan Nasdem harus berhati-hati sekali mengelola citra partai akibat kasus Rio ini.

Salah satu “serangan” frontal terhadap Nasdem datang dari Partai Demokrat, ruling party sebelumnya. Jubir Demokrat Kastorius Sinaga berkata begini:

“Pasca penetapan tersangka Patrice Rio Capella, Sekjen Partai Nasdem oleh KPK, KPK harus segera memeriksa Suryo Paloh, Ketum Partai Nasdem. Mengapa ? Ini demi hukum untuk mengusut aktor utama kasus ini hingga ke akar2nya. Bila KPK hanya berhenti di Patrice Rio Capela publik akan menilai bahwa KPK tebang pilih dan tidak berani mengusut kasus ini hingga ke level lebih tinggi. Apalagi dalam berbagai kesaksian nama Surya Paloh disebut turut dalam berbagai pertemuan untuk mengurus perkara yg menimpa mantan gub Sumut Gatot tsb.

Kasus ini menjadi momentum bagi KPK untuk menunjukkan komitmennya memberantas korupsi tanpa memandang figur atau posisi yg terlibat. Publik pun sudah mengetahui bahwa Surya Paloh merupakan figur ketum partai yg saat ini berkuasa dan punya pengaruh terhadap hukum dan politik di Indonesia sehubungan dengan kadernya yang menjabat di kementerian dan Jaksa agung. KPK harus mengembangkan kasus ini hingga ke Surya Paloh agar hukum di mata masyarakat tidak habya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.

Penetapan TSK atas patrice membuktikan bahwa parpol berikut jejaring politiknya masih arena rawan praktik korupsi. Hanya hukumlah yang menjadi tumpuan harapan masyarakat untuk membersihkan praktik kotor tersebut. karenanya KPK harus berani utk mengusut tuntas aktor politik termasuk Surya Paloh selaku ketua nasdem. Di kasus ini dipertaruhkan apakah hukum tunduk pada politik atau tidak. Lewat kasus ini, masyarakat sangat menunggu rasa keadilan dan harapan yang tinggi akan tegaknya hukum di negara ini. Apalagi di saat sekarang ini, ada upaya2 politik yang ingin menghancurkan KPK lewat revisi UU KPK, dengan kasus ini KPK harus membuktikan bahwa pemberantasan korupsi masih relevan bagi kepentingan bangsa.

Gerindra saya pikir juga menyiapkan ancang-ancang untuk menyerang. Kita tunggu saja.

*
Proses hukum biarlah berjalan, kita tidak tahu apakah tersangka ini terbukti salah atau tidak, sampai pengadilan memutus. Proses politik biarlah berjalan. Tentu dengan disertai niat bahwa politik memiliki basis moral, etika, dan kesantunan untuk kepentingan rakyat.

Tapi posisi Surya Paloh sebagai pemilik media massa punya konsekuensi lain bagi politik keredaksian media-media di bawah Media Group. Tentu kita berharap bahwa Surya Paloh fair dan tidak menjadikan medianya sebagai instrumen untuk mencuci-otak publik dengan tujuan mempengaruhi proses hukum. Percayalah, tak ada gunanya membela diri melalui forum media massa untuk kasus pidana semacam ini. Satu-satunya pembelaan yang paling tepat adalah pada proses pembuktian di persidangan.

Saya menduga, isu kasus ini akan berkembang luas dan lebar. Menyeret masa lalu, menghantan masa kini, dan berpotensi merusak masa depan jika baik Media Group maupun Partai Nasdem tidak berlaku bijak dan berhati-hati. Bukan tidak mungkin isu tentang pajak diungkap kembali. Bukan tidak mungkin juga isu perkara kredit macet yang saat ini mangkrak di Kejaksaan Agung akan digesek-gesek lagi. Bukan tidak mungkin pula isu melebar hingga soal impor minyak Angola, dimana ada perusahaan patungan antara Surya Paloh dan Sam Pa. Keduanya juga membangun gedung di Thamrin senilai Rp8 triliun yang peresmiannya dilakukan oleh Jokowi Mei lalu.

Inilah sulitnya bagi grup media yang menjadikan antara citra pemilik sebagai pebisnis-politisi identik dengan citra media itu sendiri. Sejarah membuktikan, perkara hukum yang menimpa pemilik kerap menjadikan medianya rontok. Kasus Harian Merdeka dan media online yang digawangi oleh Muhammad Nazaruddin dulu menjadi bukti teranyar premis tersebut.

Kesimpulannya: patutlah kita prihatin dengan adanya peristiwa korupsi-politik semacam ini. Semoga ke depan, tidak terjadi lagi hal-hal semacam ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Nasib Kedoya setelah Kasus OCK dan Rio Capella | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: