Bela Negara dan Planet Pluto

Wednesday, October 14th, 2015 - Opini Publik

Menteri Pertahanan bilang, yang tidak suka dengan bela negara, angkat kaki dari sini! Pernyataan ini tersebar di berbagai media massa sepanjang hari ini. Gemetarankah Anda mendengar “ancaman” jenderal tempur ini? Target bela negara ini adalah 100 juta orang dalam 10 tahun. Never ending process. Dari TK hingga perguruan tinggi.

Jika menilik latar belakang dan sejarahnya, tak diragukan lagi beliau adalah Merah-Putih sejati. Beberapa tahun lalu sewaktu masih meliput di lapangan, saya pernah melihat dan mendengar sendiri dalam sebuah wawancara tentang kemungkinan Indonesia menyerang Malaysia. Ada wartawan bertanya tentang kekuatan jumlah tentara kita dan bagaimana mencapai wilayah Malaysia. Apakah naik kapal perang, sementara kondisi kapal perang kita memprihatinkan? Beliau jawab: berenang!

Sebenarnya, menurut saya, persoalan bela negara — atau apapun sebutannya — bukanlah persoalan suka atau tidak suka melainkan amanat Konstitusi UUD 1945. Selama ini kita meneriakkan terus Pasal 27-28 tentang hak warga negara (terutama kalangan LSM yang banyak disokong donor asing), nah sekarang giliran “ditagih” Pasal 30-nya. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara (Pasal 30 Ayat (1)). Untuk pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung (Pasal 30 Ayat (2)).

Namun, seperti mudah diterka, aroma berita tentang bela negara ini bercampur aduk pemahamannya dengan wajib militer. Akhirnya, berbincanglah ramai masyarakat tentang hal-hal yang berbau militeristik seperti angkat senjata, baris berbaris, latihan fisik, hingga kedisiplinan bangun pagi dan melipat selimut serapi mungkin. Substansinya justru luput dibicarakan.

Lagipula, kalau penekanannya pada kedisiplinan dan melipat selimut serapi mungkin, bukankah lebih baik itu kita serahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Tenaga Kerja untuk membangun sebanyak-banyaknya SMK: Sekolah Melipat Kemul (Bahasa Jawa “Kemul”= “Selimut”)

*
Mungkin banyak yang belum tahu. Di Rumpin, Bogor, Jawa Barat, pemerintah sedang membangun Pusdiklat Bela Negara di atas lahan seluas 7 hektare. Bela Negara — yang merupakan icon Kemhan saat ini — akan digiatkan di Pusdiklat yang pembangunannya¬†akan selesai akhir 2015 ini, dengan menggunakan duit negara. Jadi mulai tahun depan, Bela Negara sudah akan dimulai.

Beberapa infrastruktur yang dibangun antara lain, pembangunan Mako Pusdiklat Bela Negara, rumah susun, barak untuk putra dan putri, lapangan sepak bola tribun, mountenering, ruang kelas lapangan, halang rintang, masjid dan rumah khusus sebanyak 10 unit, alat penjernih air, dan kolam berenang.

Kegiatan Bela Negara sebetulnya sudah dimulai. Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk misalnya sudah mengadakan MoU dengan Kemhan untuk pelatihan Bela Negara para pegawainya. Telah dibentuk pula 4.500 kader pembina Bela Negara di 45 kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Bela Negara ada lima dasar. Pertama, adalah cinta tanah air. Kedua, memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara. Ketiga, yakin kepada Pancasila sebagai ideologi negara. Keempat, rela berkorban untuk bangsa dan negara, dan kelima adalah memiliki kemampuan awal bela negara yang menyangkut kemampuan untuk memiliki sikap dan perilaku yang disiplin, ulet, kerja keras, pantang menyerah, serta kemampuan fisik/jasmani, kesehatan yang prima dan ketangkasan jasmani.

Pembaca tidak perlu khawatir. Informasi di atas valid karena saya kutip dari website resmi Kementerian Pertahanan. Cuma kalau nilai proyek pembangunan Pusdiklat 7 hektare tidak tercantum. Kita tunggu saja auditnya dari BPK.

*
Jadi teranglah bahwa usaha pertahanan (ke luar) dan keamanan (ke dalam) negara adalah hak dan kewajiban warga negara menurut Konstitusi. Rakyat adalah kekuatan pendukung pertahanan dan keamanan negara itu. TNI dan polisi adalah kekuatan utama.

Masalahnya, sebagai kekuatan pendukung, apakah rakyat Indonesia  kurang Bela Negara-nya, kurang cinta tanah air, selama ini? Atau justru rakyat kita itu kurang piknik?

Coba kita lihat sekeliling kita. Saat Timnas bertanding — meskipun hasil akhirnya kalah terus — stadion selalu penuh dukungan supporter. Ketika Lagu Indonesia Raya mengalun, saya lihat banyak pasang mata penonton berkaca-kaca, begitu juga pemainnya. Hasilnya: pejabat pemerintahan dan pengurus sepakbola kita justru kurang cinta Indonesia, yang berarti kurang bela negara juga. Malah berkelahi dan ada yang diduga korupsi. Bahkan hadiah Piala Kemerdekaan Rp1,5 miliar saja lama banget dibayarnya.

Sebagian besar rakyat membayar pajak. Mulai dari pajak motor sampai pajak hiburan. Masalah target penerimaan kurang Rp200-an triliun, itu soal lain. Tapi, pengemplang pajak yang adalah pengusaha-pengusaha kakap melarikan duit negara ke luar negeri dan akan diampuni (via RUU Pengampunan Pajak). Penyelenggara negara kurang bela negara, tidak cinta tanah air. Kalau cinta, buktikan, tangkap dan penjarakan pengemplang pajak dan koruptor. Jangan malah 86.

Lebih dari 60% APBN dipakai untuk menggaji birokrasi penyelenggara negara berikut fasilitas-fasilitas dan tunjangannya. Rakyat biasa berkeringat kerja cari uang supaya bisa hidup dan bayar pajak. Yang petani mencangkul, yang karyawan antre busway untuk berjibaku sampai ke tempat kerja. Tak usah diajari baris-berbaris, sudah rapi sendiri setiap hari antre naik bus. Tak usah pula diajari bangun pagi, sebelum subuh mereka sudah bangun dan menyalakan motor, mengejar macet. Hasilnya: indeks korupsi tidak membaik, duit negara dikorupsi, KKN dimana-mana. Cinta negarakah?

Kalau martabat negara ini diganggu, misalnya Reog diaku Malaysia, Timnas diledekin Koran Utusan Malaysia, dsb, sebelum peluru sampai ke Kuala Lumpur, hacker-hacker warnet sudah menyerang duluan. Website Malaysia kita acak-acak, media online kita yang segambreng hantam terus Utusan Malaysia. Teritori maya sudah dikuasai kurang dari semalam oleh “anak-anak” muda Indonesia yang kata pemerintah “kurang disiplin” ini.

Bapak/Ibu pejabat, percayalah, sebagian besar rakyat negara ini cinta Indonesia, meyakini Pancasila sebagai tatanan hidup bersama, rela berkorban untuk negara ini. Pemain Timnas rela merogoh kocek sendiri untuk tiket ke lokasi TC, gaji telat, asal bisa pakai lambang Garuda. Bahkan yang pemain-pemain saham pun masih ada nasionalismenya untuk menggocek bandar asing. Kita sadar Indonesia adalah darah kita bersama. Cuma memang kalau baris-berbaris, ketepatan membidik sasaran tembak, melipat selimut yang rapi, masih diragukan kemampuannya. Tapi kalau Indonesia diganggu, kita semua marah.

Makanya, bukankah sebaiknya konsep dan praktek Bela Negara dibahas bersama terlebih dahulu? Bukankah yang terpenting kita memerlukan postur TNI/Polri yang mumpuni: anggaran alutsista ditambah, kesejahteraan prajurit diperbaiki, infrastruktur dipoles, pendidikan modern militer ditingkatkan, dana riset tempur ditambah, dikasih asuransi jiwa yang bikin keluarga mereka ayem, dsb, supaya sebagai kekuatan utama, TNI/Polri kita segar-bugar luar-dalam?

Bukankah tidak lebih baik konsep dan praktik bela negara disesuaikan dengan keunikan profesi dan sumber daya masing-masing individu rakyat ini? Yang jago meretas diarahkan supaya meretaslah untuk kepentingan bangsa. Yang jago nulis berita, menulislah untuk kepentingan bangsa. Yang jago menyanyi, belalah martabat negara ini di kontes-kontes internasional. Yang jago nyari duit, besarkanlah perusahaan, pekerjakan sebanyak-banyaknya karyawan Indonesia, supaya pajak dan manfaatnya balik ke negara ini, asal jangan dikorupsi. Yang jago mengajar, ajarilah anak-anak mulai dari kecil supaya cinta negara ini tanpa perlu “dicuci” di Rumpin, dsb, dsb.

Perang sekarang adalah perang modern. Tak usah angkat senjata, misalnya, Yunani hancur karena utang. Penjajahan finansial jauh lebih mudah dilakukan ketimbang angkat senjata.

Kita semua Merah-Putih. Mereka yang bukan Merah-Putih adalah: koruptor, pengemplang pajak, birokrasi korup, pembakar hutan, pengkhianat yang menggadaikan aset negara, politisi busuk, oknum aparat yang menembaki rakyat, teroris yang menakut-nakuti masyarakat, pemecah belah bangsa dengan isu SARA, pengusaha yang membekingi pengerukan sumber daya alam, dsb.

Nah, mereka yang bukan Merah-Putih itu rasanya layak disuruh baris-berbaris di Rumpin. Dibungkus pakai karung. Disuruh bangun pagi. Lari 12 menit keliling stadion. Lalu dikirim ke Pluto biar cepat beku dan diterkam alien.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Bela Negara dan Planet Pluto | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: