Santun Meminta Artis Buka Baju?

Tuesday, October 13th, 2015 - Opini Publik

Pembaca yang budiman, bukan berarti kita membenarkan sikap dan tindakan Ahok yang dalam beberapa pengertian disebut tidak santun. Santun sendiri berarti 1 halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan; 2 penuh rasa belas kasihan; suka menolong. Tentu saja mengucapkan kata-kata kotor apalagi dalam tayangan live TV yang disaksikan jutaan orang termasuk anak kecil adalah hal yang tidak layak dilakukan seorang penyelenggara negara atas alasan apapun, termasuk alasan melawan korupsi.

Tapi, kita patut jengah juga dengan kemunafikan. Poles sana-sini untuk mencitrakan bahwa seseorang itu santun. Karena sarat informasi yang berbasis pencitraan, kita digiring untuk tak lagi objektif melihat fakta. Karena tak objektif bin rasional menilai dan memverifikasi fakta, alhasil kacaulah semua bangunan persepsi dan berpikir kita.

Janganlah bermain-main dengan citra kesantunan.

*
Dalam negara hukum seperti Indonesia, harusnya keputusan bersalah-tidaknya seseorang adalah berdasarkan hukum. Misalnya, boleh saja membentuk tim dan opini untuk menguatkan citra bahwa seseorang itu santun. Tapi fakta bahwa lini bisnisnya diduga terlibat dalam kasus asap juga harus dijadikan ukuran untuk menilai. Dalam hal ini saya bicara tentang PT Langgam Inti Hibrindo (LIH) yang sudah dibekukan izinnya oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan menjadi tersangka kasus perusakan lingkungan hidup/asap.

Ada juga fakta tentang video di Youtube yang menunjukkan pernyataan artis Dewi Persik pernah diminta untuk buka baju oleh seorang pengusaha yang dicitrakan santun dan beritanya sudah beredar dimana-mana. Saya pikir soal ini harus segera diklarifikasi secara hukum. Jika pengakuan Dewi Persik itu salah, mengapa yang bersangkutan tidak menuntut saja pencemaran nama baik via KUHP dan UU ITE? Supaya hukum bisa menyelesaikan dugaan-dugaan yang bisa menjadi bumerang terhadap pencitraan santun yang bersangkutan. Jika tuntutan tidak dilakukan, wajar jika ada masyarakat yang menganggap bahwa diam adalah membenarkan kejadian.

Saya sendiri sudah muak dengan model-model pencitraan yang terlampau keterlaluan dan manipulatif. Model-model tindakan seperti itu cuma menguntungkan organisasi public relation tanpa pernah memikirkan dampaknya bagi masyarakat luas. Para pembentuk citra terkadang berpikir keliru dan sesat dengan menutup-nutupi kebenaran, membenarkan yang salah, menyalahkan yang benar. Komunikasi jadi ditafsirkan bukan sebagai instrumen untuk mencerdaskan massa dengan informasi yang berkualitas melainkan cuma menjadi corong klien semata. Memang tidak semua PR begitu, tapi ada juga yang demikian.

Saya pikir, masyarakat luas seharusnya jangan terus menerus dijadikan objek pesan-pesan yang sesat dan manipulatif. Masyarakat cuma butuh fakta yang sebenar-benarnya, selebihnya mereka sudah cerdas untuk memilih.

Terkait dengan kesantunan, bukankah bagus jika kita mulai membangkitkan sikap kritis justru terhadap mereka yang menonjol-nonjolkan kesantunan? Bukankah sejarah membuktikan korupsi misalnya banyak juga dilakukan oleh mereka yang dari luar terlihat santun? Asal tahu saja, saya pernah diberitahu “tips” oleh seorang hakim bahwa hakim itu justru curiga dengan mereka-mereka yang menampakkan sikap santun yang berlebihan di ruang pengadilan. Begitulah sang hakim menilai.

Tentu saja idealnya adalah santun dan amanah membela rakyat plus tidak korupsi. Berapa persen pejabat di Indonesia yang semacam itu? Siapa yang tahu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Santun Meminta Artis Buka Baju? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: