Mental Bisnis Orang Indonesia

Saturday, October 10th, 2015 - Bisnis Media

Saat ini, banyak orang yang enteng sekali bicara angka miliar dan triliun dalam bisnis online (internet). Ringan sekali bicara investasinya: bikin aplikasi, dibeli oleh perusahaan investasi (lokal maupun internasional), kaya-raya. Mungkin karena banyak sekali berita di media massa tentang kesuksesan start up seperti Gojek, Kaskus, bukalapak, dsb. Lantas, ramai-ramai orang memburu bisnis online dengan harapan valuasi perusahaannya bisa dibikin sampai jutaan USD (bahkan miliaran USD mungkin).

Tujuh atau delapan tahun lalu, sebenarnya saya sudah diwanti-wanti oleh seorang pengusaha (yang lumayan besar juga). Duit bakal semakin “tidak punya arti”. Sudah terlalu banyak di Indonesia, orang yang punya duit miliaran. Kata dia, punya duit Rp1 miliar itu sama dengan punya duit Rp100 ribu!

Kendati dia bilang begitu, jangan anggap uang didapat tanpa kerja keras. Dia kasih dua ilustrasi. Pertama, kita bukan sinterklas. Semua ada hitungannya. Kedua, hati-hati dan hati-hati. Kita sudah benar mengemudikan mobil saja, masih ada kemungkinan kita ditabrak orang dari belakang, samping, dsb.

Oleh karena itu, maraknya angka-angka miliaran kucuran dari investor juga harus disikapi secara bijak. Bukan berarti semua gampang diperoleh tanpa harus bersusah-payah, tanpa ada pengorbanan fisik maupun mental. Misal, copot itu lambang Levis dari jeans anda dan niscaya jeans itu tidak akan punya makna mendalam dan mahal harganya, akan jadi tak lebih sebagai penutup kemaluan belaka. Tapi pasang kembali lambang Levis dan akan muncul nilai yang berharga dari merek tersebut yang didirikan sejak 1800-an, melalui berbagai periode revolusi di AS, melakoni kerasnya dunia pertambangan dan buruh selama bertahun-tahun, dsb. Ada nilai dari kerja keras, perjuangan, pengorbanan, dan air mata di situ.

Dunia bisnis start up media massa (online terutama) juga begitu. Sampai sekarang masih saya dengar dan saksikan sendiri, banyak wartawan/mantan wartawan yang ingin mendirikan media online supaya beberapa tahun kemudian (kisarannya 2-3 tahun) bisa dijual kepada investor seharga miliaran. Padahal, sama dengan ilustrasi Levis tadi, kita tahu betapa murahnya bikin website (Rp1 juta juga sudah bagus), banyak template-nya. Bagaimana mimpi valuasi ratusan miliar itu diwujudkan, justru jarang saya dengar rencana detailnya.

Salah-salah berpikir, membangun media hanya bertujuan untuk pencitraan pejabat/pengusaha belaka bukan untuk membela publik. Lebih parah lagi, membangun media cuma untuk dijual nanti buat Pemilu 2019 supaya bisa goreng-menggoreng berita dan opini.

Berikut ada sedikit poin yang bisa saya share kepada pembaca sekalian tentang dunia usaha online, berdasarkan sedikit yang saya alami dan ketahui selama hampir tujuh tahun terakhir, berbisnis media massa. Saya memulainya juga dengan modal ventura, jumlahnya tak banyak, dalam usia 20-an tahun, tanpa predikat wartawan senior, tanpa status anak konglomerat, dan asal kampus yang biasa-biasa saja nan dari kampung sana.

1. Jangan pernah berpikir kaya-raya apalagi dalam sekejap
Percayalah, ketika anda membangun usaha ini, bukan duit dan harta melimpah yang didapat, justru anda akan jatuh miskin-semiskin-miskinnya, walaupun berstatus sebagai pemilik usaha. Jangan heran ketika selesai menggaji karyawan di akhir bulan, uang langsung ludes tersisa (sisa Rp5.000 di dompet sangat sering saya alami). Jadi pintar-pintarlah menyikapi kemiskinan itu. Apalagi bagi yang total keluar (resign) dari pekerjaan sebelumnya dan tak ada cantolan pendapatan lagi. Karena satu-satunya andalan adalah bisnis yang baru dibuka, ya mati-matianlah di situ. Kalau kuat, terus. Kalau tidak kuat, ganti bisnis lain atau melamar pekerjaan lagi seperti orang “normal”.

2. Siap dicemooh dan direndahkan
Dicemooh, dihina, direndahkan itu pasti. Berbeda dengan ketika saya masih berstatus wartawan koran nasional, rasanya semua orang segan, takut ditulis mungkin (tapi percayalah, itu semua semu. Kadang orang melihat hanya dari status dan baju, bukan diri yang sebenarnya. Orang menghargai saya mungkin hanya karena status saya sebagai wartawan koran itu bukan diri saya). Makanya saya justru senang ketika orang/narasumber yang biasanya mudah dikontak, menjauh.

Jadi sampai di sini sudah ada dua derita ya: miskin dan dihina-dina.

3. Sikap mental dan etika
Lalu saya pelajari dan amati satu per satu mereka yang sukses benar-benar. Ternyata kalau dari sisi produk tidak istimewa-istimewa amat, banyak yang bisa melakukan dan membuat yang jauh lebih bagus. Namun mereka punya sikap mental positif dan etika yang terbangun dengan baik. Nah, hal ini yang sangat langka di negara ini. Sikap mental yang positif menghadapi situasi sulit dan hinaan; etika yang bagus terjaga yang menimbulkan apa yang namanya integritas dan kejujuran. Mereka menjaga kepercayaan dan komitmen dengan baik. Seringkali saya lihat orang deal miliaran tanpa ada perjanjian tertulis, tapi komitmen dibayarnya nyata. Ini saya alami sendiri juga. Satu sama lain tidak ada niat dan perbuatan saling gocek-menggocek.

Tak tahulah saya, dimana harusnya dipelajari yang namanya sikap mental positif dan etika ini. Tapi yang jelas ini penting. Selama masih diabaikan, mau paket kebijakan ekonomi sampai paket ke-1000 juga sulit membangun ekonomi kita jadi raja dunia.

4. Seni mengelola manusia
Berbisnis sama prinsipnya dengan berkeluarga. Perasaan harus dijaga, etika harus dijunjung tinggi. Saling menghormati, menghargai. Bersimpati dan berempati. Membuka usaha, berarti bersiaplah menghadapi persoalan mencapai hal yang saya sebut itu. Beda manusia, beda kepala, beda sikap dan cara berpikirnya. Tak mudah mengelola hubungan antarmanusia. Apalagi kalau unsur duit sudah bicara. Mungkin teori SDM ada banyak diajarkan, tapi situasi nyata, biasanya jauh berbeda. Ini seni.

5. Jadi diri sendiri
Jadilah diri sendiri. Jangan pernah berubah karena uang/harta (uang sedikit maupun banyak sama potensi mengubah orangnya). Jangan menilai orang dari uang/harta/asetnya. Kehidupan berproses terus. Kadang di atas, kadang di bawah. Teruslah bekerja mewujudkan impian.

6. Terus belajar
Di dunia wiraswasta, percayalah, kita tidak akan pernah berhenti dalam status sebagai orang pintar. Kita senantiasa bego, makanya harus belajar terus sampai mati nanti, tentang apapun, dari siapapun. Jadi sudah betul itu enterpreneur yang di-back up modal oleh satu grup usaha besar pernah bilang suatu kali ke saya bahwa saya adalah orang bego.

Saya pikir, semakin bangsa ini menjadi dirinya sendiri yang autentik, jujur, bekerja keras, belajar, dan tidak pongah, kita bisa beberapa langkah lebih maju lebih cepat dari sekarang.

Selamat berakhir pekan. Semoga doa dan impian pembaca masing-masing bisa tercapai. Sukses selalu dan Tuhan memberikan berkah terus menerus.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Mental Bisnis Orang Indonesia | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: