Kisah Hakim: Anjing saja Setia pada Majikan

Friday, October 9th, 2015 - Opini Publik

Kisah ini terus menempel di kepala saya. Kejadiannya kira-kira 2005 atau 2006. Seorang hakim agung (kini sudah almarhum) berbicara kepada saya dalam satu lift di gedung MA. Dia bilang begini: 40 tahun lebih saya jadi hakim. Kalau disuruh lahir kembali, saya tidak akan mau jadi hakim. Busuk.

Entah mengapa beliau tiba-tiba berkata begitu. Padahal saya tidak bertanya. Bertahun-tahun kemudian baru saya dengar gosip yang mengerikan. Kabarnya, beliau disantet (ini memang irasional, tapi diakui atau tidak, soal supranatural itu ada lho perbincangannya di dunia kehakiman). Ada kabar yang bilang bahwa beliau pernah memukul salah satu pegawai MA, dan sang pegawai mendendam. Benar-tidaknya saya tidak tahu. Namanya juga rumor yang saya dengar.

Kisah satu lagi terjadi pada 2006 juga. Waktu itu tengah berlangsung pemungutan suara untuk pemilihan ketua MA. Saya membuntuti seorang hakim agung yang langsung berlari meninggalkan kerumunan para hakim agung yang mengucapkan selamat pada ketua terpilih. Ternyata beliau menuju ke ruangannya. Pintu dibuka, langsung ditutup dengan keras. Braak.

Kalimat pertama yang dia ucapkan: “Anjing saja setia pada majikan. Ini manusia, tidak!”

Saya coba menenangkan. Lalu beliau tersedu-sedu. Saya tak banyak tanya dulu. Mungkin konteks ucapannya adalah soal pemilihan ketua MA tersebut. Mungkin ada kesepakatan-kesepakatan suara yang dia nilai melenceng. Sampai sekarang saya tidak tahu persisnya.

Pembaca yang bijak dan baik, begitulah sekelumit kisah yang bisa menggambarkan bagaimana dunia peradilan di negara ini.

*
Kemarin dan hari ini, ada berita tentang lanjutan persidangan perkara suap PTUN Medan. Ada pengakuan dari Ketua PTUN Medan (nonaktif) yang bilang bahwa dia menerima dua amplop berisi uang dari pengacara. Besarnya 5.000 Dolar Singapura (dengan kurs saat ini Rp47 juta) dan 10.000 dolar AS (dengan kurs saat ini kira-kira Rp130 juta). Tapi hakim itu berkata pemberian uang tidak mempengaruhi putusan. Dia hanya menerima dan disimpan dalam laci. Jumlah diketahui baru setelah penyidik KPK menghitung.

Saya pribadi sangat menghormati profesi hakim sebagai semacam wakil Tuhan di dunia. Profesi sunyi tempat dimana keadilan harusnya ditemukan. Saya sedih sekali sebenarnya jika para hakim sampai diberitakan dalam kasus-kasus hukum semacam suap/korupsi ini. Martabat dan kewibawaan seluruh profesi hakim bisa menurun di mata masyarakat. Kalau sudah menurun, kemana lagi kita melontarkan kepercayaan terhadap penentu keadilan di dunia ini?

Meskipun perlu diingat, masih banyak juga hakim yang lurus di negara ini. Yang sulit disuap agar mengikuti kehendak uang dalam putusannya. Tapi bagaimanapun juga, tak bisa kita mengharap hanya pada integritas personal. Orang bisa berubah. Oleh karena itu bagaimana caranya dibuat sistem yang ketat, pengawasan yang melekat terhadap perilaku hakim. Pengawasan yang betul-betul untuk menjaga wibawa hakim.

Tapi soal pengawasan hakim, saya juga punya memori yang masih saya kenang sampai sekarang. Suatu kali seorang komisioner KY berbincang santai dengan saya di ruangannya. Dengan percaya diri dia bilang, “Silakan KPK pakai CCTV di ruangan saya, tidak ada itu saya korupsi, makan uang.” Beberapa tahun kemudian, beliau ditangkap KPK karena kasus suap.

KY pun sudah tak bergigi lagi sekarang. Kata saya, selain karena kewenangannya dipangkas karena beragam aksi uji materiil undang-undang, juga karena kekurangcakapan KY membangun sistem pengawasan. Banyak saya amati, hasil investigasi dan peta situasinya meleset. KY tak banyak mendapat asupan informasi yang berkualitas disertai data faktual tentang suatu kasus. Entah bagaimana caranya memperbaiki kelemahan ini sehingga KY tak sebatas menjadi mesin opini untuk membangun pencitraan semata. Kalau opini, ya ujung-ujungnya seperti kasus hakim Sarpin itu. Berakhir sebagai perkara pencemaran nama baik.

Semoga kasus PTUN Medan adalah yang terakhir. Ke depan, kita berharap semoga semua hakim yang ada di Indonesia benar-benar memancarkan kualitas keadilan yang sebenar-benarnya. Hakim yang setia pada “majikannya”: hati nurani.

Salam hangat.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Kisah Hakim: Anjing saja Setia pada Majikan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: