Surplus Janji Defisit Bukti dan Ahli Humas

Wednesday, October 7th, 2015 - Opini Publik

Pembaca yang baik, ternyata, selain menghadapi ancaman krisis ekonomi, pemerintah juga tengah berhadapan dengan ancaman krisis komunikasi. Dalam waktu dekat pemerintah akan merekrut para ahli komunikasi untuk mendukung humas-humas yang saat ini ada di lembaga pemerintah. Tahap awal akan direkrut sebanyak 100 orang tenaga ahli dan bakal digaji cukup tinggi! (belum disebutkan angka “cukup tinggi” itu). Bahasa kerennya: Government Public Relation (GPR).

Tenaga ahli ini bisa dari PNS atau profesional. Jalur perekrutan melalui mekanisme seperti CPNS tetapi sifatnya temporer.

Mengapa pemerintah butuh tenaga ahli komunikasi? Alasannya, banyak hal baik yang sudah dilakukan oleh pemerintah tetapi tidak tersampaikan dengan baik kepada publik.

Informasi di atas sepenuhnya saya comot dari website resmi Sekretariat Kabinet. Jadi pasti sahih bin anti-hoax.

*
Pertanyaannya: 1. Orang yang ahli komunikasi/humas itu kriterianya apa sehingga layak digaji cukup tinggi?; 2. Kriteria hal baik yang sudah dilakukan oleh pemerintah itu apa sehingga layak dikomunikasikan kepada publik (kenapa ini jadi urusannya soal kebaikan? Bukankah pemerintah itu urusan yang dinilai adalah kebijakannya? Ini bernegara apa pacaran?)?; 3. Humas-humas yang saat ini ada di lembaga pemerintah ngapain aja selama ini?

Kita sedang tidak bicara di menara gading. Tentang teori kehumasan dan komunikasi yang intinya berputar-putar antara komunikator-pesan-komunikan. Tak juga secara naif menganggap mereka yang bergelar doktor ahli komunikasi adalah otomatis benar-benar ahli dalam dirinya sendiri. Banyak fakta yang menunjukkan, sulit kita membedakan ahli komunikasi yang saking ahlinya sampai melakukan overlap menjadi seolah-olah ahli hukum, ahli politik, ahli ekonomi. Masyarakat termakan retorika dari si ahli, padahal bidang keilmuannya dan pengalamannya bukan di situ, dan media mengutipnya sebagai multiahli (pernah ada satu ahli yang dikutip dalam satu koran yang sama dengan atribut yang berbeda-beda sebagai pengamat hukum, pengamat ekonomi, pengamat politik, dan praktisi).

Kita sedang bicara dunia praktis, kenyataan. Apakah humas yang ideal itu seperti Bro Johan Budi SP? Saking idealnya, kita seolah terkejut dan tidak percaya bahwa mantan wartawan Tempo itu kini sudah menjadi pimpinan KPK? Johan Budi juga bisa merangkap redaktur/editor karena mungkin adalah humas yang bisa sering banget nyuruh wartawan untuk riset, riset, riset topik dulu sebelum menulis, selain mengusulkan lead berita.

Atau apakah humas yang ideal itu seperti Pak Gatot S. Dewabrata yang tahan banting dalam tekanan pengurus PSSI, baik di darat, laut, maupun udara, dengan mimik yang tetap begitu-begitu saja (salah satu kelebihannya adalah selalu mengucapkan alhamdulilah setelah meng-upload rilis di web. Beliau tipikal orang yang bersyukur dalam keadaan Piala Kemerdekaan sepi sekalipun)? Atau mungkin seperti Humas BNPB Mas Sutopo Purwo Nugroho, yang kecepatan informasinya melebihi kejadian bencana itu sendiri baik banjir, gempa bumi, kebakaran, gunung meletus, dsb (kelebihan yang tak perlu diragukan lagi adalah bahwa semua informasi bencana darinya selalu benar terjadi, dijamin bukan hoax)?

Atau seperti humas di perusahaan konsultan swasta dan asing yang Bahasa Inggris dan Power Point untuk presentasinya menawan sekali, blink-blink dan “hidup”, dan rate-nya pakai dolar? Atau humas yang akademisi fakultas komunikasi yang bisa merangkap jadi presenter, komentator, narasumber, sekaligus pemohon uji materi?

Atau humas yang dekat dengan aktivis antikorupsi, yang foto demo dan kongkownya banyak di media sosial sambil meneriakkan slogan antikorupsi. Yang tidak bersih-bersih amat, sulit bergabung dalam komunitasnya? Atau humas yang jago menyusup di konferensi pers sambil membawa buku catatan, kartu pers, dan bisa melontarkan pertanyaan kepada narasumber untuk “tes air” isu klien di hadapan wartawan beneran (kadang pertanyaannya bentrok dengan intel yang juga menyusup di konpers)? Atau humas yang dekat dengan forum wartawan sehingga konferensi pers TERBATAS-nya bisa cepat dilakukan? Atau humas yang jago SEO dan bikin tagar sehingga bisa mengalahkan tagar #JokowiJKGameOver di daftar trending topic?

Atau mungkin humas yang jago banget menyelipkan amplop ke ransel wartawan, jago pula menyelipkannya di antara bahan rilis/press briefing? Atau humas yang jago nyanyi, menyiapkan pemandu lagu, dan menge-pas-kan antara anggaran entertainment dengan rate di TKP? Atau humas yang bukan merupakan tipikal anggota UNDP (United Nation Delayed Payment) alias partun alias partai tunda kepada “rekanan”?

Atau humas yang jago bikin klipping barbuk koran (saya pernah melihat PNS humas salah satu instansi jago sekali menggunting koran untuk diklipping, tanpa melihat, jarinya lincah banget, saking sudah bertahun-tahun kerjanya begitu)? Atau humas yang merangkap ahli horoskop. Istri/pacar wartawan belum mengucapkan selamat ulang tahun, ucapan selamat dari dia sudah masuk duluan? Atau humas tipikal jujur dan bukan ahli gunting. Maksudnya jatah wartawan tidak dia gunting di belakang, supaya diterima pas, cash and carry? Atau humas yang merangkap media planner. Cara membagi kue iklan ke medianya “adil”, hujannya merata, meskipun ada sedikit kecurigaan partnership: kita yang partner, dia yang sip?

Atau tipikal humas pusat penerangan militer tempo dulu yang rilisnya pakai huruf kapital semua dan jabatan narasumbernya pakai singkatan semua yang kerap bikin bingung karena wartawan harus bolak-balik Googling?

Tinggal dipilih dan dipadupadankan, ahli humas model mana yang pemerintah mau dari beberapa jenis tadi.

Tapi, di atas semuanya itu, saya cuma ingin mengutip istilah seorang kawan yang kini sudah jadi lawyer kondang: surplus janji, defisit bukti. Jangan sampai ini terjadi. Apa yang sudah dijanjikan kepada rakyat negara ini waktu kampanye, ya segera dibuktikan saja sekonkrit-konkritnya. Bila masyarakat merasakan manfaatnya, saya kira tipe-tipe humas yang dibutuhkan tak perlu yang ahli-ahli amat sih, tak perlu juga jebolan kampus luar negeri dengan gelar mentereng. Cukup yang jujur dan jadi diri sendiri.

Rakyat, sebagai konsumen sekaligus pemegang saham terbesar negara ini, akan menyiarkan dan membuat testimoni sendiri tentang kondisi lebih baik yang mereka rasakan. Pada akhirnya, rakyatlah humas yang terbaik bagi pemerintah dan wartawan akan menuliskan berita tanpa beban, independen, dan profesional.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Surplus Janji Defisit Bukti dan Ahli Humas | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: