Sahabat Sandiaga Uno dan Teman Ahok Menuju Tiga Jutaan

Sunday, October 4th, 2015 - Opini Publik

Jangan lihat buku dari sampulnya. Sampul bisa menipu. Jangan pula lihat tokoh dari rilisnya. Rilis bisa memperdaya orang. Jangan percaya sama satu orang tapi jangan juga tidak percaya pada setiap orang. Intinya, tetaplah rasional menilai. Lihat faktanya. Lihat kata, lihat perbuatannya. Mengapa saya bilang begitu?

Saya lihat aroma persaingan menuju Pilkada DKI 2017 mulai semerbak. Proyek pembentukan citra mulai ramai dimana-mana. Di lapangan media, Ahok dan Sandiaga Uno kelihatannya mulai pasang aksi. Kalau Ahok terang-terangan dengan Teman Ahoknya kumpulkan dukungan KTP, di sisi lain Sandiaga Uno (jabatannya: Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra) mulai bergerilya opini via Sahabat Sandiaga Uno. Secara terminologi kamus Bahasa Indonesia, “teman” dan “sahabat” punya arti yang mirip satu sama lain. Karib.

Jujur saja, saya kenal dengan beberapa teman yang ada di dua kubu itu. Memang betul adanya, mereka mulai melancarkan perang opini publik. Media massa (cetak, online, elektronik) dan media sosial menjadi sasaran mereka. Kalau kepentingan saya sederhana, silakan saja Sahabat dan Teman itu bergerilya, yang penting masyarakat harus diberi tahu fakta-fakta yang sebenarnya. Jangan sampai proyek pembentukan citra dan persepsi bikin yang salah jadi benar, yang benar jadi salah. Masyarakat jangan mudah terbius oleh pembentukan opini media. Bisa bahaya negara ini.

*
Saya bukan Tuhan yang bisa menentukan baik-buruknya seseorang. Saya juga tidak tahu, apakah Ahok bagus/buruk, apakah Sandiaga Uno mantap/butut. Ya, kita sama-sama lihat saja ujungnya bagaimana. Cuma menarik saja mengamati Ahok yang dicitrakan kasar tapi konon jujur berhadapan secara diametral dengan Sandiaga Uno yang dicitrakan alim/santun tapi konon sarat kepentingan bisnis-politik.

Kalau Ahok saya kira hitungannya matematis. Bikin opini publik yang baik — salah satunya dengan cara beberapa waktu lalu menyebarkan gambar sungai kotor masa lalu dan sungai bersih masa kini — dengan tujuan 1 juta KTP dulu. Kalau merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi terakhir tentang perubahan syarat dukungan calon independen yang kini berbasis daftar pemilih tetap dan bukan penduduk, Ahok sebenarnya cukup kumpulkan 500-an ribu KTP untuk maju dari jalur independen. Tapi Teman Ahok rasanya ngotot tetap target 1 juta KTP. Perhitungannya, menurut saya, waktu Pilkada 2012, dengan DPT 6,9 juta, pasangan Jokowi-Ahok dapat kemenangan di angka 2,4 juta suara (53%). Jadi kalau Ahok kumpulkan 1 juta KTP, berarti dia akan maju dengan bekal minimal 41%-an kemenangan. (Hitungan ini saya kira bisa berubah nanti. Kemenangan bisa diraih jika mencapai jumlah suara pemilih 3 jutaan).

Persoalan Ahok yang senang berkata kasar, memaki dan marah-marah, biarlah publik menilai sendiri: kalau senang ya dipilih, kalau tidak, ya jangan. Yang jelas ujung-ujungnya ya itu: mengumpulkan suara pemilih sebisa mungkin lebih dari 2,4 juta (jika bisa sampai 3 jutaan), supaya menang Pilkada 2017.

*
Kalau Sandiaga Uno, belum kelihatan matematikanya. Sibuk pencitraan terus. Hari Sabtu pekan ini ada rilis bombastis dari timnya yang intinya bilang, Jakarta jangan cuma jadi ibukota tetapi jadi raksasa Asia Pasifik. Tapi tidak dirinci maksudnya apa raksasa Asia Pasifik itu. Masih kelabu nan malu-malu.

Sandiaga Uno ini juga bukan barang baru. Waktu Pilkada 2012 juga digadang-gadang untuk maju, tapi akhirnya tidak jadi. Sekarang dia kembali lagi menyemarakkan jagat berita Pilkada 2017. Pada tulisan sebelumnya, saya sudah merinci dugaan saya tentang bisnis taksi Express yang bisa jadi bertalian dengan niat dia maju Pilkada 2017. Per hari ini, dia gasak lagi isu dengan raksasa Asia-Pasifik tadi.

Kalau bagi saya, istilah “raksasa Asia Pasifik” ini kemungkinan besar istilah yang disodorkan oleh konsultan komunikasinya. Bila kita jeli, istilah Asia-Pasifik itu sebenarnya tidaklah secara persis bisa dikategorikan sebagai terminologi geografis (Beda dengan istilah macan Asia dalam sepakbola yang dengan mudah kita asosiasikan dengan juara Piala Asia dan mewakili Asia di Piala Dunia). Istilah Asia-Pasifik lebih kepada terminologi geografi-ekonomi. Bahkan Wikipedia mencantumkan bahwa istilah Asia-Pasifik dipergunakan sesuai dengan konteks dan keperluan. Contoh, Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) mencakup bahkan sampai Amerika Serikat, Kanada, Chili, Rusia, Meksiko, Peru.

Jadi bisa pembaca bayangkan bagaimana konsultannya berkecap bahwa Sandiaga Uno yang seorang pengusaha muda dan dicitrakan sukses, memiliki visi lokal, nasional, regional, global dalam memandang Jakarta. Mantap sekali. Apalagi, Sandiaga Uno adalah penasihat Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) yang beranggotakan katanya 12 juta orang, makin bisa bluffing bahwa Sandiaga Uno adalah satria piningit antitesis Ahok yang punya visi ekonomi kerakyatan sekaligus bervisi global. Alim dan — katanya — ganteng lagi.

Tapi kembali lagi, kita harus kritis dan faktual menilai orang dan situasi. Tetap harus dipertanyakan, selama ini seberapa besar andilnya dalam ekonomi kerakyatan, menciptakan lapangan kerja, mendorong kreativitas dan karya, menciptakan contoh good corporate governance, bebas korupsi dan hanky panky, dsb. Pendeknya kata saya, apa yang sudah Saratoga dan Recapital buat untuk negara ini?

*
Jujur saja, kalau saya khawatir dengan kemungkinan Sandiaga Uno menjadikan jabatan publik sebagai instrumen untuk memperbesar profit di lapangan bisnis. (Tapi ini pendapat bukan berarti saya mendukung Ahok juga ya). Selain soal bisnis transportasi, ada bisnis lain yang bertalian dengan Sandiaga Uno (langsung maupun tidak langsung) yang potensial membuatnya berada dalam situasi tawar-menawar politik yang rumit.

Ini fakta dan data resmi. Bukan tidak mungkin Sandiaga Uno harus bolak-balik berurusan dengan penegak hukum karena kasus asap berkaitan dengan dugaan keterlibatan tersangka korporasi PT Langgam Inti Hibrindo (LIH). Asal tahu saja, LIH ini selain punya anak perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan sawit di Kalimantan Barat dan Bengkulu, juga ada tiga perusahaan yang berlokasi di Jakarta (meskipun dalam status tidak operasional) yang bergerak di bidang perdagangan: PT Alam Permai, PT Kalimantan Sawit Raya, dan PT Sarana Investasi Nusantara.

Kaitan bisnis dan politik terkait Bank Pundi juga bisa jadi rumit. MNC Capital/BCAP (yang dikomandani Hary Tanoe, yang juga pimpinan Perindo) tercatat memiliki perjanjian per 16 Februari 2015 dengan Bank Pundi (BEKS) yakni penempatan dana senilai Rp100 miliar yang dapat dikonversikan menjadi saham. Saham Bank Pundi (yang asetnya tercatat Rp7 triliunan per Juni 2015) dimiliki oleh: Recapital Securities (67,85%), IF Services Netherland BV (13,34%), Pershing LLC (10,71%), dan masyarakat (8,10%). Sandiaga Uno adalah pihak berelasi dengan Bank Pundi. Dia pemegang saham PT Recapital Advisors yang punya deposito berjangka Rp5 miliar dan tabungan Rp1,3 miliar di Bank Pundi. Salahkah semua ini? Ya, tidak. Ini cuma fakta saja.

Meskipun dalihnya bisa saja Sandiaga Uno telah melepaskan jabatan kepengurusan perseroan baik di Saratoga, Recapital, dsb, namun, potensi konflik kepentingan dalam jabatannya kelak sebagai gubernur DKI Jakarta tetap harus dikhawatirkan. Sama perlakuannya dengan Ahok yang memiliki dugaan kedekatan dengan sejumlah pengusaha properti, misalnya.

Tapi, ya sudahlah. Inti dari semua corat-coret di malam akhir pekan ini adalah bahwa kita semua harus lebih peka, kritis, dan rasional mencerna segala macam informasi yang berseliweran. Jangan sampai pikiran kita dihantui oleh opini publik bentukan para konsultan sehingga kita salah mengambil keputusan. Kalau soal keputusan dan pilihan, itu semua adalah hak anda sebagai warga negara.

Salam hangat. Selamat berakhir pekan bersama keluarga.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Sahabat Sandiaga Uno dan Teman Ahok Menuju Tiga Jutaan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: