Kebakaran Hutan dan Panggung Sandiwara

Tuesday, September 29th, 2015 - Opini Publik

Tak enak juga baca komentar Menteri Luar Negeri Singapura K. Shanmugam via Facebook tentang kebakaran hutan ini: “Kami mendengar pernyataan-pernyataan mengagetkan di tingkat pejabat-pejabat senior dari Indonesia, yang mengatakan bahwa di beberapa wilayah Indonesia, Indeks Standar Pencemaran sudah mencapai hampir 2.000. Bagaimana bisa, seorang pejabat senior pemerintahan mengeluarkan pernyataan seperti itu, tanpa kesadaran atas nyawa masyarakatnya, atau warga kami, dan tanpa rasa malu, atau rasa tanggung jawab.”

Memang sang menlu tak tunjuk hidung siapa pejabat Indonesia yang dimaksud. Tapi, diduga kuat maksudnya adalah Wapres JK, yang juga pernah berkomentar, negara tetangga Indonesia seharusnya bersyukur karena 11 bulan mendapat udara bersih. Dengan logika yang hampir mirip, Kepala Staf Presiden Teten Masduki berkomentar menanggapi kritik Singapura, dengan mengatakan, Singapura selama ini cukup menikmati supply oksigen dari Indonesia. Selama 9 bulan (dikorting 2 bulan dari pernyataan JK) dapat oksigen, “Dan kita tahu banyak industri kebun dan tambang yang juga menyimpan hasil ekspor di Singapura.”

Kira-kira begitu respons pejabat kita terhadap “serangan” tetangga. Respons yang saya nilai aneh bin kekanak-kanakan. Tak penting 9 bulan atau 11 bulan dapat oksigen. Faktanya, dampak terbesar kebakaran hutan dan asapnya adalah warga kita! Ribuan orang sudah terkena sakit ISPA, anak-anak libur sekolah, dsb.

*
Dunia ini panggung sandiwara, kata salah satu lirik lagu lawas. Jika kita semua tak cermat, sandiwara bisa terus dipertontonkan melalui media massa. Apa masalah sebenarnya soal asap ini? Bisnis siapa yang bikin negara jadi kacau begini? Bagaimana penegak hukum menegakkan aturan?

Saya tetap berpraduga tidak bersalah. Apalagi terhadap lembaga bisnis yang namanya akan saya sebut. Namun, berita tentang langkah kepolisian menetapkan tersangka pelaku pembakaran hutan dan tindakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membekukan izin perusahaan yang diduga terlibat pembakaran hutan, sepertinya ada potensi digocek ke kanan-kiri.

Begini: Saya baru baca surat penjelasan dari pihak PT Provident Agro Tbk. (PALM) yang ditujukan kepada otoritas bursa mengenai pemberitaan di media massa terkait kebakaran hutan ini. Per 28 September 2015, PALM menjawab bahwa perusahaan belum menerima pemberitahuan resmi terkait pembekuan izin PT Langgam Inti Hibrindo (LIH), anak perusahaan PALM. Malahan PALM menjelaskan bahwa LIH menjalankan kebijakan zero burning, sudah punya SOP dan Tim Kesiapsiagaan Tanggap Darurat (TKTD).

Ada surat PALM juga ke bursa pada 23 September 2015 yang menjelaskan bahwa pada minggu terakhir bulan Juli 2015 telah terjadi kebakaran di areal PT LIH dan saat ini administratur PT LIH berinisial FK telah ditetapkan sebagai tersangka.

Persoalan pentingnya ada dua: pertama, mengapa PALM berkata belum menerima pemberitahuan pembekuan izin hingga kemarin? Padahal, Kementerian LHK sudah melansir hal itu sejak sepekan lalu. Pura-pura tidak tahu? Atau memang Kementerian LHK-nya yang gertak sambal?

Kedua, bagaimana bisa pihak PALM menjawab hanya administraturnya yang ditetapkan sebagai tersangka (FK)? Padahal ada lho keterangan dari Polda Riau (22 Agustus 2015) bahwa selain menetapkan 27 tersangka, polisi juga menetapkan LIH selaku korporasi sebagai tersangka pembakaran hutan dan lahan seluas 400 hektare di Riau itu.

*
Masyarakat punya hak untuk mengetahui duduk soal yang seterang-terangnya. Apalagi, LIH ini adalah “pemain sawit” skala besar yang menjadi pertaruhan bagi penegak hukum untuk menunjukkan keseriusannya mengungkap kasus ini. Mari kita dukung polisi bekerja sebaik-baiknya.

Telah ramai pula berita bahwa LIH ini adalah salah satu perusahaan yang ada kaitannya dengan Sandiaga Uno, seorang pengusaha muda yang di Jakarta justru ramai beritanya tentang rencana pencalonannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, bukan soal asap. Tapi mari kita sedikit lihat kait-mengaitnya dari data resmi laporan keuangan perusahaan.

PALM perusahaan sawit yang besar. Tahun lalu pendapatannya mencapai Rp1 triliun lebih. Asetnya Rp4,2 triliun. LIH adalah anak usaha PALM (99% saham LIH dikuasai PALM) yang memiliki 7.690 hektare di Kecamatan Langgam, Pangkalan Kuras, Rantau Baru, Palas, K. Tarusan, Pelalawan; dan 1.026 hektare di Langgam, Pangkalan Kuras, P. Gondai, Penarikan, Pelalawan. Status lahan adalah HGU dan berlaku hingga 2030. LIH ini juga punya anak yakni Saban Sawit Subur (SSS) di Kalimantan Barat, Mutiara Sawit Seluma di Bengkulu, dan Nusaraya Permai di Kalimantan Barat.

Pemegang saham PALM adalah: PT Saratoga Sentra Business (44,16%), PT Provident Capital Indonesia (44,16%), dan masyarakat (11,68%). Dalam susunan pengurus perusahaan terdapat nama penting yakni Michael W.P Soeryadjaya sebagai komisaris.

Nah, Singapura jangan banyak omong juga dalam soal yang satu ini. Faktanya, Development Bank of Singapore (DBS) adalah satu dari tiga pemberi kredit (selain Bank Mandiri dan Bank Permata) kepada PALM. Utang jangka panjang PALM ke DBS Indonesia per 30 Juni 2015 adalah Rp442 miliar (dalam rupiah) dan USD383 juta. DBS adalah kreditor terbesar PALM.

Kaitannya dengan Saratoga? Saratoga Sentra Business adalah anak perusahaan Saratoga Investama Sedaya, Tbk (SRTG) dengan persentase kepemilikan 99,99%. Pemegang saham mayoritas SRTG adalah Edwin Soeryadjaya (29,15%) dan Sandiaga S. Uno (29,15%), selain PT Unitras Pertama (31,54%) dan publik (10,16%). Michael W. Soeryadjaya yang di PALM menjadi komisaris, di SRTG menjadi direktur. Asal tahu saja, SRTG juga punya investasi di Seroja Investment, Ltd Singapura, Interra Resource Ltd Singapura, dan kontrak memasok minyak mentah ke Ampolex (Cepu) Pte., Ltd., Singapura.

Makanya, media di Singapura seperti Straits Times langsung pasang gertak dengan memberitakan, perusahaan agrobisnis terbesar kedua di dunia, Golden Agri Resources (GAR), stop membeli sawit dari perusahaan pemasok yang bikin kebakaran hutan di Indonesia, seperti LIH ini. Mereka sepertinya tahu peta: semua ini soal bisnis saja.

Sudahlah. Indonesia-Singapura bisa jadi 11-12.

*
Mari nyanyi lagi: “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura”

Semoga bermanfaat untuk pembaca semua.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Kebakaran Hutan dan Panggung Sandiwara | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: