Cerita Batu Api, Pemabuk, Mahasiswa

Sunday, September 27th, 2015 - Dapur Berita

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor sudah saya kenal sejak awal berdiri tahun 1999. Pemiliknya, Bang Anton (BA), sudah seperti keluarga saya sendiri. Tak terasa, 16 tahun berlalu, dan sebentar lagi Batu Api akan menjadi salah satu dari 70 wakil Indonesia di Frankfurt Book Fair.

Tempo menuliskan kesan begini pada liputannya tentang Batu Api belum lama ini:
Anton, yang hafal persis letak setiap buku Batu Api, memperkirakan koleksinya hampir 10 ribu eksemplar. Itu belum termasuk majalah dan koran, kaset, cakram musik dan film, kliping berita, serta artikel lawas. Pria lulusan Fakultas Ilmu Sejarah Unpad ini mendeskripsikan pekerjaannya sebagai mendokumentasikan kebudayaan populer lewat media bacaan, musik, dan film.”

“Sebagian besar koleksi Anton tersimpan di ruang perpustakaan berbentuk “L” berukuran 5 x 7 meter. Terbentang teras asri di depannya. Rak kayu menjulang menutupi dinding hingga hampir menyentuh langit-langit. Isinya dari buku tentang pesantren sampai seks, kumpulan cerpen, hingga literatur sejarah dunia. Tarif sewanya, Rp 3.000 per pekan.

Ada juga lemari kaca yang dipadati kumpulan cakram musik album Frank Zappa dan Titiek Puspa. Aneka DVD film jadul Ermanno Olmi, Wong Kar-wai, dan sinema buatan Wes Anderson ikut bertengger. “Sejak awal, saya niatkan perpustakaan ini untuk menjadi tempat mahasiswa mengaso sepulang kuliah,” kata Anton, 47 tahun.”

Ya, saya tahu BA bukan tipe orang yang berambisi pada popularitas berlebihan atau perburuan kasta tinggi bernama budayawan. Dia menganggap dirinya orang biasa-biasa saja yang punya keresahan luar biasa terhadap hal-hal kecil nan remeh tapi mengganggu, karena diabaikan oleh orang-orang yang merasa diri sudah luar biasa.

Kebetulan kemarin sempat ke Batu Api dan ngobrol sebentar. Ngobrol di sini bukanlah diskusi yang rumit melainkan sekadarnya saja. Tak pernah ada yang rumit-rumit di Batu Api sepanjang yang saya tahu. Mengalir saja. Biasa-biasa saja. Kebetulan juga selintas topiknya tentang mahasiswa dan karya. Apakah kampus memproduksi mahasiswa yang bisa menciptakan karya luar biasa? Karya bisa apa saja: buku, musik, film, riset, pertunjukan, bisnis, dsb.

Boro-boro, begitu kesimpulannya.

Kalau bagi saya, karya yang bagus dihasilkan oleh pribadi yang berkarakter. Unik. Untuk mencapai karakter yang demikian, prosesnya panjang. Bergelar profesor belum tentu berkarakter. Berduit segunung belum tentu berkarakter. Menduduki jabatan kepemerintahan belum tentu cerminan orang berkarakter. Karakter memang urusan kualitas kemanusiaan yang dibentuk oleh proses panjang dan kerja keras. Mereka yang berkarakter memiliki kemampuan untuk menyikapi hidup dengan bijak dan adil. Emosinya terjaga, cerdas, eling, dsb dsb. Kira-kira begitu.

Masalahnya, perguruan tinggi/kampus semakin sulit untuk menghasilkan kualitas manusia bermutu tinggi semacam itu. Coba saja, bukankah bisa dibilang tugas berat perguruan tinggi saat ini adalah membuat surplus sumber daya manusia yang berkarakter tadi, dan membuat defisit manusia bergelar koruptor di segala bidang. Bukankah sebagian besar mereka yang berurusan dengan penegak hukum karena kasus korupsi adalah lulusan perguruan tinggi? Sederhananya begitu, meskipun bukan memukul rata bahwa semua sarjana adalah koruptor.

Saya rasa — berdasarkan apa yang saya alami sendiri — poin penting yang musti ditanamkan bagi siapa saja yang tak berhenti menuntut ilmu melalui jalur apapun adalah bagaimana menjadi diri sendiri seautentik mungkin. Pengetahuan bisa dipelajari, duit bisa dicari, jabatan mudah dibeli; tetapi menjadi diri sendiri adalah hal yang penting. Menjadi diri sendiri membuat kita tak berhenti belajar, rendah hati, menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah terombang-ambing oleh gejala dan kenyataan yang berubah-ubah.

Bagi saya, perpustakaan kecil seperti Batu Api berhasil menjadi tempat mengaso bagi mahasiswa yang ingin menemukan dan menjadi dirinya sendiri itu. Sayang sekali bila mahasiswa yang berada di Jatinangor dan sekitarnya tidak memanfaatkan “hiburan” luar biasa semacam Batu Api itu.

Saya jadi ingat buku yang saya pinjam pertama kali di Batu Api pada 1999. Judulnya Perbincangan Tiga Pemabuk tentang Pemerintahan, karya penulis Nakae Chomin, terbitan Gramedia 1989. Buku aslinya terbit pada 1887, ketika Jepang di bawah pemerintahan Meiji sedang menyusun konstitusi yang kelak menjadi titik berhentinya pemerintahan otoriter. Isi detailnya saya lupa. Yang saya ingat, di buku itu ada dibicarakan bahwa semakin banyak aturan hukum di suatu negara menunjukkan semakin korup negara itu. Apalagi, semakin banyak aturan hukum yang detail dan rinci di suatu negara, justru semakin melipatgandakan jumlah bandit di negara itu.

Benar-tidaknya saya tidak tahu.

Selamat berakhir pekan. Semoga bermanfaat.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Cerita Batu Api, Pemabuk, Mahasiswa | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: