Politik Tagar untuk Jokowi yang Kesepian

Saturday, September 26th, 2015 - Rumor

Ini kali kita bicara ringan tentang topik yang berat: tagar merongrong pemerintahan Jokowi. Perhatikan saja belakangan ini, begitu sering kita melihat di media sosial, ada beragam tagar yang menyudutkan Jokowi. Tagar terakhir yang di-tag ke saya adalah: #JokowiGagalRupiahAnjlok. #MahasiswaMana?

Menarik saja bagi saya melihat gerakan tagar ini. Sebagai bagian dari perwujudan demokrasi, boleh dibilang gerakan semacam itu sah-sah saja. Meskipun perlu diingat bahwa hukum positif kita masih memberlakukan pidana tentang makar, penghinaan terhadap kepala negara, UU ITE, dan sejenisnya. Jadi, berhati-hatilah “mengolah” tagar.

Mengenai tagar terakhir #MahasiswaMana? sebenarnya sudah saya dengar sejak lama di dunia industri “pengolahan isu”. Ada kawan yang mengajak saya untuk segera membuat gerakan konkrit melalui media massa supaya mahasiswa segera bergerak. Bergerak apa? Ya, tahu sendirilah. Tapi saya menghindar dengan sopan atas ajakan itu. Menurut saya, saya tidak berbakat menjadi penggerak massa di jalanan. Bakat saya ngobrol, impian saya jadi rocker.

Ada yang bilang, paling cepat akhir tahun ini pemerintahan jatuh. Entah apa dasarnya, saya tak mendalami betul. Yang saya tahu, secara hukum konstitusi ada syarat pemberhentian presiden dan wakil presiden: bahwa Presiden dan /Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) atas usul Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan / atau Wakil Presiden (terkait kewarganegaraan, mampu rohani dan jasmani, serta tidak pernah mengkhianati negara).

Entah kalau ada cara lain di luar hukum itu.

*
Cerita tagar itu ada di sisi seberang pemerintahan. Asal tahu saja, tagar adalah kependekan dari tanda pagar atau hashtag dalam istilah media sosial. Biasanya dipakai untuk menghimpun netizen dalam suatu topik/keperluan tertentu. Dalam kamus Bahasa Indonesia, tagar artinya guruh bin gemuruh. Bertagar berarti bergemuruh. Meraung-raung suaranya. Bising.

Namun, anehnya — ini dari sisi pemerintahan — dari hasil ngobrol-ngobrol dengan seorang analis yang beberapa waktu lalu ikut bertemu Jokowi di Istana, saya dengar bahwa menurut si analis tadi, presiden seperti orang kesepian. Sepi dalam kebisingan. Kenapa? Terlihat dari gestur dan topik pembicaraannya yang relatif dangkal. Presiden seperti tidak memiliki kumpulan negarawan yang ahli di sekelilingnya. Presiden tidak mendapatkan input yang bermutu tentang suatu topik sehingga terkesan kurang up-to-date dan pada beberapa titik salah mendapatkan data.

Analis itu bilang, pidato Jokowi pada pembukaan Rakernas Partai Nasdem beberapa waktu lalu yang menyebutkan “pemimpin harus punya ideologi” itu sebenarnya mengarah kepada diri presiden sendiri. Presiden tengah mengalami disorientasi ideologi, yang membuatnya sepi dan kebingungan sendiri.

Itu pendapat analis tadi. Saya cuma mendengarkan.

Lantas saya berpikir, kemana pejuang antikorupsi yang saat ini menjadi Kepala Staf Presiden — Kantor Staf Presiden berfungsi menjadi back office presiden. Fungsinya antara lain melakukan pengendalian program prioritas, mengelola isu strategis, melakukan komunikasi eksternal dan internal, serta menjadi pemasok data? Setahu saya dulu Kang Teten Masduki (TM) adalah sosok yang gaduh dalam peperangan melawan korupsi dan memperbaiki negara ini. Terakhir, kira-kira 5 tahun lalu, saya masih dengar semangat TM untuk mendorong penuntasan kasus sebesar BLBI. Apa dunia politik dan sejuknya kantor Istana telah menghilangkan semangat itu?

Ungkapan di atas sekadar kritik saya yang merasa tidak ada gebrakan berarti dari pemerintahan yang saat ini diisi juga oleh aktivis antikorupsi seperti TM. Mengapa beliau bisa membiarkan sosok sekelas presiden menjadi dinilai kesepian dan kehilangan ideologi?

Saya ingin bersikap wajar dan proporsional saja, sama seperti rakyat pada umumnya yang menginginkan gebrakan keberpihakan kepada rakyat negara ini dari presiden menjadi kenyataan yang betul-betul dirasakan oleh rakyat banyak. Saya berharap presiden bisa memberikan arah yang tegas dalam pergulatan melawan mafia migas, mafia garam, mafia dll; dalam menjaga posisi dan kewibawaan di hadapan negara lain; dalam peperangan melawan koruptor kakap dan unsur birokrasi yang korup; dalam mengembalikan aset-aset negara yang hilang entah kemana; dalam melakukan perubahan politik hukum ke arah yang lebih adil; dsb.

Saya justru khawatir kehadiran TM sebagai aktivis antikorupsi di Istana tidak memberikan warna pembeda dari pemerintahan sebelumnya. Artinya ya negara berjalan begini-begini saja. Kacaunya lagi, bila kehadirannya justru larut pada rutinitas dan kegiatan programatik belaka bak mengurus kegiatan lembaga donor. Padahal, rakyat negara ini amatlah berharap pemerintahan saat ini melakukan perubahan yang mendasar dalam perikehidupan masyarakat yang juga mendasar, seperti pangan, kemiskinan, pendidikan, kesehatan.

Tapi, ya sudahlah. Jika kondisinya tetap datar-datar saja seperti sekarang ini, jangan salahkan jika gerakan revolusi tagar semakin membesar dan merongrong pemerintahan.

Sekian corat-coret saya. Semoga menjadi manfaat. Selamat berakhir pekan dan bergembira bersama keluarga.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Politik Tagar untuk Jokowi yang Kesepian | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: