Percayakah Anda pada Jurnalisme Robot?

Sunday, September 20th, 2015 - Bisnis Media

Saya tidak menentang arus kemajuan zaman dan teknologi. Justru, saya sangat mendukung segala jenis kreasi teknologi untuk mendukung kegiatan jurnalistik. Tujuannya, supaya penggunaan teknologi tersebut semakin meningkatkan mutu dan nilai dari karya jurnalistik. Tapi bagaimana dengan trend jurnalisme robot yang kekinian akhir-akhir ini? Apakah jurnalisme robot sejalan dengan cita-cita dasar jurnalisme dengan segala konsekuensi yuridis, etis, dan logisnya?

Sebagai pengetahuan saja, inti dari jurnalisme robot adalah efisiensi newsroom. Ada “mesin” dengan algoritma tertentu yang diciptakan untuk merayapi segala jenis informasi/berita di internet. Lalu “mesin” tersebut mengklasifikasikan topik-topik berita. Lantas, ada “mesin” dengan algoritma lain yang menuliskan itu kembali dengan “perintah” kelengkapan standar berita (5W+1H) yang menghasilkan suatu draft naskah berita. Kemudian editor (kurator?) mengecek lagi naskah dari robot tersebut dan menyesuaikan dengan standar penulisan jurnalistik, sehingga menghasilkan berita yang siap ditayangkan. Darimana “mesin” tersebut mendapat sumber berita? Dari beraneka ragam sumber, utamanya, portal-portal berita. Alhasil, berita yang dihasilkan oleh robot tersebut mencantumkan link (tautan) ke sumber informasi asal. Begitulah kira-kira.

LA Times dan Associated Press sudah memakai robot ini sejak 2013. Pada 2014, LA Times menggunakan robot untuk menulis berita tentang gempa bumi. Selain itu, raksasa digital China, Tencent, menciptakan dreamwriter, robot wartawan. Tulisan perdananya dimuat di situs berita qq.com tentang indeks harga konsumen. Sang robot sanggup menulis 1.000 kata dalam 1 menit. Jenis artikelnya berupa straight news. Sebagai catatan, semua informasi yang ada dalam berita hasil racikan robot itu benar, kecuali jenis kelamin pakar yang menjadi narasumber berita. (Saya kutip informasi ini dari berita berjudul Tencent Kembangkan Robot Wartawan untuk Menulis Berita Otomatis yang ditayangkan oleh situs infokomputer.com)

Trend jurnalisme robot sudah mewujud di Indonesia lewat sejumlah situs kurasi (yang menyatakan diri berbeda dengan situs aggregasi karena ada unsur menceritakan kembali yang dibuat oleh editor/kurator). Kurasi diartikan sebagai menyatukan bagian-bagian yang terpisah menjadi satu. Klaimnya, pembaca akan mendapatkan informasi yang lengkap (meskipun terlambat) sehingga tidak usah bolak-balik membuka banyak sumber berita (publisher). Cukup buka itu situs, anda dapat informasi lengkap tentang suatu topik.

*
Saya pakai tiga ukuran untuk menilai jurnalisme robot ini: yuridis, etis, bisnis.

Secara yuridis:
– Apakah ini pers? Apakah ini kegiatan jurnalistik? (Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Bdk. Pasal 1 Ayat (1) UU Pers)
– Apakah badan hukumnya perusahaan pers? (Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi. Bdk. Pasal 1 Ayat (2) UU Pers)
– Apakah wartawannya melakukan kegiatan jurnalistik? (Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik. Bdk. Pasal 1 Ayat (4) UU Pers)
– Apakah aktivitas dan produknya memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan di muka hukum? (Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak. Bdk. Pasal 4 Ayat (4) UU Pers; serta Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum. Bdk. Pasal 8 UU Pers)
– Apakah jika terjadi sengketa pemberitaan bisa diselesaikan di Dewan Pers? (Bdk. Pasal 15 UU Pers)
Catatan: Pasal-pasal ini semua memiliki konsekuensi pidana seperti diatur dalam Pasal 18 UU Pers.

Secara etis:
– Apakah proses kurasi berita yang mengambil sumber dari portal-portal berita lain apalagi tanpa disertai perjanjian mengenai hak dan kewajiban satu sama lain, meskipun disertai link ke berita asal, merupakan suatu kegiatan jurnalistik? Setahu saya, beberapa portal seperti detik.com yang menerapkan pola sindikasi berita, menyertakan perjanjian berlangganan sebesar Rp4 jutaan/bulan untuk penggunaan/penayangan kontennya. Beberapa portal luar negeri juga menggunakan kegiatan robotik ini untuk “merayapi” konten yang dihasilkan oleh wartawan mereka melalui kegiatan jurnalistik yang sebenar-benarnya dan tersimpan dalam database. Jadi secara hak cipta itu memang konten milik mereka sendiri.
– Inti dari jurnalisme adalah fakta. Apakah kegiatan penayangan informasi yang dihasilkan melalui proses robotik dan penceritaan kembali itu bisa dianggap sebagai kegiatan jurnalistik? Apakah terjadi yang namanya kegiatan reportase di lapangan (observasi, mewawancarai narasumber, pengumpulan data/dokumen, dsb) yang dilakukan oleh reporter on the spot?
– Apakah kegiatan jurnalisme robotik ini akan menumbuhkembangkan kualitas profesional, moral, integritas, dan teknikal wartawan sebagai faktor paling penting dalam organisasi berita? Hal ini berkaitan dengan hal-hal mendasar dalam jurnalisme seperti teknik menulis berita, menembus narasumber, peningkatan etika pers, membangun jaringan/narasumber, teknik menyusun pertanyaan, mengungkap apa yang di balik berita/investigatif, melakukan komunikasi dan kontrol sosial untuk kepentingan publik, dsb.
– Apakah kegiatan jurnalisme robotik ini bisa menghadirkan “emosi” dalam berita seperti yang dihasilkan secara konvensional oleh wartawan di lapangan? Apakah tercipta karya jurnalistik yang indepth, feature, dsb? Apakah robot bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan krusial mengenai topik berita yang penting bagi kehidupan masyarakat luas kepada pihak yang memiliki kekuasaan?
– Bagaimana nasib studi jurnalistik di kampus-kampus yang mengajarkan mahasiswanya untuk menjadi wartawan yang terampil dan profesional? Diabaikan dan digantikan oleh robotkah?

Secara bisnis:
– Jurnalisme robot, diakui atau tidak, akan memangkas fungsi reporter. Sudah diakui, kegiatan jurnalisme robot ini lebih efisien karena hanya membutuhkan beberapa editor/kurator untuk mengecek naskah sebelum ditayangkan. Efisiensi ini untuk kepentingan apa? Mengurangi cost untuk mendapatkan laba besarkah?
– Ada kontradiksi yang akut dalam diri jurnalisme robot itu sendiri. Dikatakan bahwa robot tidak akan menggantikan reporter. Kehadiran situs kurasi berita yang memanfaatkan teknologi robot juga tidak akan menjadi ancaman bagi portal-portal berita yang serius (serius dalam hal berinvestasi untuk SDM wartawan mulai dari rekruitmen, pembinaan, pembudayaan etika dsb; kegiatan jurnalistik lapangan; melakukan pengayaan konten, dsb), karena situs kurasi menyediakan link balik ke situs penerbit asal. Masalahnya adalah: pertama, bukankah kehadiran jurnalisme robot dalam situs kurasi semacam itu disebutkan adalah supaya pembaca tidak bolak-balik membuka situs berita asal informasi? Bukankan situs kurasi menginginkan pembaca membaca semua informasi secara lengkap dalam satu platform saja?

Kedua, mengapa portal penerbit berita “dipaksa” untuk meyakini bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan diklik oleh pembaca yang lebih luas melalui situs kurasi? Bukankah klik pertama itu jatuh di halaman situs kurasi?; Ketiga, bukankah situs kurasi itu sendiri melakukan kegiatan bisnis konten untuk mendapatkan traffic pembaca yang banyak dan kemudian dikonversi menjadi pendapatan (iklan misalnya)? Bukankah model bisnis yang sama yakni menghasilkan konten bermutu supaya pembaca datang lalu mengonversinya sebagai instrumen untuk menawarkan iklan adalah model yang dipakai oleh portal penerbit berita asal juga? Lain ceritanya jika ada perjanjian bagi hasil/sindikasi berita yang sama-sama menguntungkan secara bisnis bagi kurasi maupun penerbit. Misalnya, 80 persen pendapatan iklan dari situs kurasi berita itu dibagi proporsional dengan keseluruhan portal berita yang kontennya dijadikan bahan untuk kurasi.

*
Kendati demikian, saat ini, saya dalam posisi menghargai segala macam kreativitas teknologi untuk memberikan informasi yang bermanfaat buat masyarakat. Harus diakui, aturan perundang-undangan Indonesia masih tertinggal jauh untuk bisa menangkap fenomena penegakan hukum dalam kasus-kasus seperti jurnalisme robot ini. Penggunaan UU Hak Cipta juga masih debatable. Mau diurus di polisi, lamanya bukan kepalang.

Tapi, titik kompromi, bisalah diwujudkan. Pertama, sadar diri bahwa berita kurasi bukan produk jurnalistik. Lebih baik mengembangkan penelitian untuk menciptakan alat yang bisa membantu para wartawan untuk lebih profesional meningkatkan mutu penulisan berita. Google News Lab, bisa jadi contoh.

Kedua, secara bisnis, perlu disadari bahwa maraknya wartawan amplop itu terjadi karena perusahaan persnya tidak sehat sehingga tidak bisa menggaji wartawannya secara layak. Kenapa tidak bisa menggaji layak karena pemasukan iklannya memble. Karena itu, situs kurasi harus bisa secara fair memikirkan hal ini dengan skema bagi hasil iklan atau pemasukan lainnya dengan seluruh portal berita yang dikurasi, yang diwujudkan dengan perjanjian hukum. Sama-sama enak. Silakan situs kurasi menetapkan kategori dan kualifikasi portal-portal berita yang layak untuk dikurasi.

Ketiga, kembali ke cara konvensional dengan menetapkan diri sebagai perusahaan pers yang benar-benar melakukan kegiatan jurnalistik. Si robot bisa dipakai sebagai instrumen untuk meriset topik dan kedalamannya, sehingga wartawan-wartawan bisa melakukan liputan lapangan berbekal informasi dan amunisi yang cukup. Tentu kualitas karya yang dihasilkan bisa lebih baik dibandingkan dengan wartawan yang meliput tanpa riset toh? Karena kualitasnya bagus maka bisa mendatangkan pembaca setia yang banyak dan berujung pemasukan iklan yang bagus. Misalnya, robot bisa meriset tentang topik RUU Pertembakauan dan hasilnya bisa menjadi bahan dasar bagi reporter untuk mencari informasi dan data di lapangan. Tentu akan banyak terungkap informasi yang bermanfaat dan lengkap bagi publik mengenai proses legislasi penyusunan RUU Tembakau, para pihak dan stakeholder yang berkepentingan, apa konsekuensi perpajakannya, bagaimana nasib para petani tembakau, bagaimana melindungi anak-anak dari bahaya rokok, apa saja kepentingan pihak asing yang hendak disorongkan dalam RUU Pertembakauan, dan hal-hal sejenisnya.

Sekian corat-coret akhir pekan saya. Semoga bermanfaat. Selamat berkumpul bersama keluarga.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Percayakah Anda pada Jurnalisme Robot? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5