Menerka Arah Berita Sandiaga Uno Kandidat DKI I

Thursday, September 17th, 2015 - Opini Publik

Seharian kemarin heboh pemberitaan tentang Sandiaga Uno yang menyatakan diri siap bertarung dalam Pilkada DKI 2017. Beliau muncul dalam sebuah diskusi yang digelar oleh Fraksi PKS di gedung DPR. Sandi adalah juga anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra. PKS dan Gerindra adalah “karib” di Koalisi Merah Putih (KMP).

Pernyataan itu sekaligus mengkonfirmasi desas-desus selama ini bahwa pemilik PT. Saratoga Investama Sedaya, Tbk (SRTG) itu bakal menjadi lawan kuat Ahok, gubernur DKI Jakarta saat ini yang waktu dulu pernah di Gerindra juga.

Sebagian besar orang punya persepsi demikian tentang Sandi: muda, pengusaha (masuk jajaran terkaya versi Forbes, majalah yang dimiliki menantu pendiri Lippo Group), santun, cakep, cerdas, dan hal positif lainnya. Dia adalah antitesis dari Ahok yang gemar marah-marah. Sekali lagi perlu diingat, ini persepsi. Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.

Sejak tadi saya juga berpikir-pikir: apa lagi yang mau dicapai oleh seorang Sandi dengan maju Pilkada DKI? Apa kurang cukup reputasi sebagai pebisnis sukses yang mengelola Adaro, Saratoga, Recapital, dsb? Terpanggil membenahi Jakarta? Ah, itu klise. Sudah pasti pernyataan semacam itu cuma kreasi opini belaka. Ada apa di balik pikirannya untuk membombardir opini publik dengan rencana pencalonannya itu? Padahal, setahu saya, beliau sedang “sibuk” bukan kepalang setelah Bloomberg TV Indonesia (BTVI) — mayoritas saham BTVI dimiliki oleh Recapital, perusahaan investasi yang didirikannya bersama Rosan Roeslaini Perkasa — berhenti beroperasi Agustus lalu dan saat ini tengah terengah-engah membayarkan kewajiban kepada pihak ketiga dan karyawan.

Tapi, biasanya, manuver-manuver di tengah ombak semacam ini menarik untuk diikuti.

*
Beberapa kali saya berinteraksi dengan orang-orang yang berurusan dengan pilkada, beberapa kali juga saya menangkap sejumlah pikiran dan motif mengapa orang mau bersusah payah mengikuti pertarungan pilkada. Jika motivasinya adalah gaji dan fasilitas sebagai pejabat negara, itu sama sekali dangkal. Power (kekuasaan) pastilah melampaui urusan gaji dan fasilitas.

Kadang ada pikiran bahwa baru memutuskan untuk mencalonkan diri saja, akan mengangkat profil seseorang. Sekali lagi perlu diingat, politik adalah urusan persepsi. Sederhananya, berbisnis dengan calon gubernur DKI Jakarta — apalagi calon presiden — saja sudah merupakan modal berharga untuk menaikkan posisi tawar, dibandingkan dengan berbisnis dengan orang biasa saja seperti saya ini. Urusan jadi maju atau tidak, itu soal lain. Bukankah banyak tokoh yang gembar-gembor dan pasang baliho sana-sini sebagai calon, lantas diam-diam mundur sendiri. Ada apa?

Dengan maraknya pemberitaan Sandi calon DKI I, ada beberapa keuntungan yang didapat:

1. Profiling dan unjuk gigi lewat promosi gratis
Tentu saja ramai berita adalah promosi bagi Sandi. Dia bisa mendapatkan ruang untuk membangun kembali reputasinya semakin tinggi dan semakin tinggi lagi, tanpa perlu membayar iklan seperti Pelindo II beberapa hari lalu itu. Bukan hanya promosi diri pribadi, melainkan juga promosi bisnisnya, karena media akan mengaitkan sosok dirinya itu dengan usaha-usaha bisnisnya.

2. Naik kelas politik
Dengan profiling seperti disebut di poin satu itu, reputasi Sandi sebagai seorang politisi baru –dia baru merenung terjun ke politik tahun 2012 lho — langsung naik kelas. Tanpa perlu berdarah-darah mengikuti kaderisasi dari tingkat ranting, anak cabang, cabang, dsb, dia langsung beredar di orbit politik elite Jakarta.

3. Tes pasar bisnis
Untuk poin ini, saya akan uraikan sedikit lebih rinci.

Memang betul bahwa Sandi telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Direktur Saratoga sejak April tahun ini. Kendati demikian, dia masih tercatat sebagai pemegang 29,15% saham SRTG, jumlah persentase yang sama dengan Edwin Soeryadjaya. Sebagai pengetahuan saja, Saratoga adalah perusahaan investasi yang portofolio investasinya ada 3 kelompok yaitu Sumber Daya Alam (Batu bara, Perkebunan kelapa sawit, Migas, Tambang emas & Tembaga), Infrastruktur (Telekomunikasi, Pembangkit Tenaga Listrik, Kilang Minyak, Jalan Tol & Jasa Konstruksi, Perkapalan), dan Konsumer (Otomotif, Properti).

Jadi, saya duga, sulit untuk melepaskan keterkaitan Sandi dengan bisnis SRTG sekalipun kepemilikan sahamnya nol di situ. Minimal ada keterkaitan emosional.

Asal tahu saja, pada 6 Juli 2015, SRTG bersama PT Mitra Pinasthika Mustika, Tbk (MPM) dan Golden Valley Advisors, Inc menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat (PJBB) untuk pembelian sejumlah 1.094.310.000 lembar saham PT Express Transindo Utama, Tbk (TAXI), yang dikenal orang dengan taksi Express. SRTG dkk membeli dari pemegang saham pengendali TAXI yakni Rajawali Corpora, grup usaha yang dimiliki oleh Peter Sondakh. Jika transaksi selesai maka SRTG akan menjadi pemegang saham mayoritas TAXI dengan kepemilikan 51,0025%. Transaksi ini direncanakan terealisasi 90 hari setelah PJBB diteken, jika tidak ada halangan.

Tentu kita sedikitnya tahu, betapa banyaknya taksi Express beroperasi di Jakarta. Perusahaan mencatat ada setidaknya 10 ribu armada yang dimiliki oleh Express. Jika dilihat dari pendapatan segmen operasi wilayah, Jakarta-Depok-Tangerang-Bekasi (Jadetabek) adalah wilayah lumbung pemasukan Express. Dikutip dari laporan keuangan TAXI Triwulan II 2015, aset perusahaan ini sebesar Rp2,9 triliun. Perusahaan punya 16 anak. Per Juni 2015, pendapatan perusahaan mencapai Rp510 sekian miliar (taksi, sewa kendaraan, suku cadang). Dari pendapatan itu, sebesar Rp501-an miliar diperoleh dari wilayah operasi di Jadetabek.

Jadi bisa dibayangkan bahwa wilayah Jakarta dan sekitarnya adalah wilayah operasi strategis untuk Express. Dan seperti booming fenomena ojek online, menjadi bukti bahwa bisnis jasa transportasi tidak ada matinya — meskipun risikonya besar juga. Sandi (kalau transaksi pembelian saham Express terlaksana) bisa saja berkolaborasi dengan Gojek sebagai feeder transportasi Jakarta. Apalagi Northstar sebagai investor Gojek, dimiliki oleh pengusaha muda juga yakni Patrick Walujo. (Sandi dan Patrick pasti saling kenallah, kan pernah bertransaksi juga sewaktu Adaro dulu).

Begitulah, saya pikir Sandi setidak-tidaknya ada perhitungan prospek bisnis transportasi ini ke depannya, dengan ikut kontestasi pilkada DKI. Persaingan di bisnis ini semakin ketat meskipun kuenya tidak habis-habis. Ditambah lagi dengan beragam proyek infrastruktur transportasi di Jakarta, setidaknya menjadi alasan yang kuat mengapa Sandi harus hadir di sini. Di ibukota — jika sanggup kalahkan Ahok, ya.

Begitu saja corat-coret sependek pengetahuan saya. Semoga bermanfaat.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Menerka Arah Berita Sandiaga Uno Kandidat DKI I | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: