Peta Modal Bisnis Gojek dan Sebagainya

Saturday, September 12th, 2015 - Bisnis Media

Ternyata banyak juga pencarian di Google dengan keyword semacam ini: darimana Gojek mendapatkan uang untuk subsidi drivernya atau darimana biaya promosi Gojek. Rupanya banyak orang penasaran dengan kinerja dan sumber uang bisnis yang resminya berada di bawah bendera PT Go-jek Indonesia itu. Pendeknya, banyak yang ingin tahu modal bisnis Gojek.

Beberapa waktu lalu, secara “kasar”, saya pernah menulis tentang hitung-hitungan valuasi Gojek. Lantas beberapa hari lalu, saya membaca laporan wartawan gresnews.com yang mendalami tentang akal bulus pelanggan ojek online semacam Gojek. Nah, dalam artikel tersebut, terdapat keterangan dari Corporate Officer Gojek, Maulana Pandu, yang menyatakan Gojek tak pernah menyiapkan anggaran promosi! Tapi, karena Gojek tak menyiapkan anggaran promosi melalui penayangan iklan besar-besaran, mereka “beriklan” hanya melalui jaket para pengemudi dan model mulut ke mulut. Maka, perusahaan Gojek mengalihkan anggaran yang seharusnya untuk promosi iklan itu untuk mensubsidi para pengemudinya. Jadilah muncul promo Gojek itu, yang bayar hanya Rp10 ribu untuk maksimal 25 km.

image

Foto: go-jek.com

Namun, jangan pula keliru. Anggaran untuk menyubsidi pengemudi selama masa promo itu besarnya bisa sama atau bahkan lebih besar dari pemasangan iklan konvensional. Dalam tulisan saya tentang valuasi Gojek sebelumnya, saya sudah memberikan reka-reka alias perkiraan sangat kasar, berapa subsidi digelontorkan. Bisa mencapai puluhan miliar bahkan ratusan miliar jika masa promo diperpanjang lebih lama lagi.

Meskipun sudah ada sejak 2011, lewat sebuah kontes start up (sebelumnya ada satu start up media sosial bidang fashion yang juga menjadi pemenang bersama Gojek dan mendapatkan investasi Rp3 miliar berupa software), namun Gojek melesat sejak awal tahun ini. Soal kemampuan dana, rasanya tak perlu diragukan lagi. Ada investor besar di belakang mereka.

“Lumbung” pertama tentulah Northstar Group. Ini perusahaan investasi yang berbasis di Singapura. Mereka mengelola dana setidaknya US$1,8 miliar (Rp25 triliunan) yang diperuntukkan untuk investasi di perusahaan berkembang di Indonesia, utamanya. Berdiri sejak 2003, mereka telah menanamkan modal di lebih dari 30 perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, asuransi, retail, migas, pertambangan, telekomunikasi, dan agribisnis.

BFI Finance, Breadlife, Bank BTPN, Centratama, Buma, Multistrada, PBCom Filipina, ThaiCredit, Trimegah, Nera, Okeshop adalah beberapa perusahaan yang didanai oleh Northstar, selain mereka juga mengakuisisi sebagian saham Bumi Resources-nya Bakrie Group, Persib Bandung, dsb.

Orang kunci di balik Northstar adalah Patrick Walujo. Dia orang Indonesia. Menantu dari petinggi Astra TP. Rachmat. Pernah gawe di Goldman, Sachs & co. Jebolan Cornell University. Figur lainnya adalah Glen Sagita, yang terkenal sebagai pemilik Alfamart. Dia juga Dirutnya Persib Bandung. Jebolan profesional di PricewaterhouseCoopers dan Bahana Sekuritas, lulusan kampus Tennessee Technological University. Satu lagi adalah Ashish Shastry, yang belasan tahun pernah berkutat di Texas Pacific Group (TPG), lulusan Princeton University. TPG ini yang pernah ramai diberitakan melirik akusisi saham Adaro Energy (ADRO) yang salah satunya dimiliki Sandiaga Uno.

Ada informasi juga tentang angel investor Gojek yang bernama Arthur Benjamin. Dia yang membantu Gojek pada awal-awal dibangun. Namun nama itu tak terangkat ke permukaan. Pendiri Gojek sendiri, Nadiem Makarim, bukan orang “biasa”. Dia pernah bekerja di McKinsey, Kartuku, Zalora (Rocket Internet), jebolan MBA Harvard yang asal Pekalongan, Jateng. Jadi jaringannya berputar-putar di sekitar situ.

Jadi, kalau pertanyaannya adalah darimana dana promosi (dan operasional) Gojek, kita sudah bisa lihat gambarannya di atas. Mereka punya cukup besar kapital untuk itu karena di-back up oleh banyak perusahaan kapital. Apalagi saya dengar Sequoia Capital, perusahaan investasi yang basisnya di California, AS, mau masuk ke Gojek dengan bawa dana Rp200 miliaran.

Soal duit, selesai. Banyak logistik mereka. Gojek terus berkembang dengan jaringan driver yang sudah lebih dari 30 ribu dan pengunduh aplikasi yang mencapai lebih dari 2 juta.

Selanjutnya, masih terkait promosi. Perusahaan internet sekarang makin edan perputaran kapitalnya. Terakhir ini, Mataharimall.com yang merupakan usaha di bawah Lippo Group, mengumumkan investasi US$500 juta (Rp7 triliun). Mereka mau kejar target penjualan di situs belanja itu sebesar US$1 miliar (Rp14 triliun). Hitungan kasar saja, jika anggaran promosi mereka 30% dari target penjualan, maka Rp4,2 triliun sudah siap digelontorkan untuk promosi. Makanya banyak lihat banner dan iklan mataharimall.com kan akhir-akhir ini. Wajar.

Mereka melempar iklan ke perusahaan digital kelas dunia semacam Facebook dan Google. Kuartal kedua 2015, Facebook mendapatkan pemasukan iklan Rp54 triliun (US$4,04 miliar), terdapat kenaikan melesat untuk pengiklan mobile. Sementara Google meraup pada tahun 2014 saja, US$4,39 miliar (Rp62 triliun).

Kalau situasi pasarnya sudah begini, kapitalistik sekali, jika masih hidup, Karl Marx juga pusing bikin teorinya. Tapi kita tetap harus jujur, kreatif, dan bekerja keras pada bidang masing-masing. Manfaatkan setiap peluang yang ada dengan baik dan jangan bermalas-malasan. Tantangan ke depan makin berat dan kita tak perlu meributkan hal-hal yang tidak penting, jika tidak ingin perikehidupan dan potensi ekonomi negara ini dinikmati segelintir orang lain.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Peta Modal Bisnis Gojek dan Sebagainya | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: