Tuhan Tahu Tapi Menunggu

Sunday, August 30th, 2015 - Dapur Berita

Akhir pekan yang kurang menyenangkan. Punggung diserang nyeri. Hajar obat pereda, hilang sebentar, lalu muncul lagi. Akhirnya paksa saja olahraga jalan kaki. Malah enak. Bisa “manggung” lagi. Meskipun menyesal juga. Satu hari libur lenyap. Harusnya bisa jalan-jalan sama Aruna, berenang di Matoa atau pergi ke mana.

Akhirnya terkapar saja di rumah. Sambil lihat-lihat lalu lintas berita dan berbalas kontak dengan kolega. Dibawa ringan dan santai saja.

Kabar pertama soal stasiun televisi Bloomberg TV Indonesia yang dikelola kawan baik saya harus menghentikan operasinya. Semoga semua urusan bisa selesai dengan baik dan tak ada ribut-ribut. Tetap sehat dan semangat untuk bangkit lagi. Apapun alasannya, sudah membuka lapangan kerja di bidang yang sangat sulit yakni media massa, adalah hal yang patut dihargai. Tapi, cuaca mungkin tengah tidak bersahabat. Banyak angin, banyak ombak.

Mungkin begitulah hukum kehidupan. Bangun, jatuh, bangun lagi, jatuh lagi, bangun lagi, dan seterusnya. Saya turut menyatakan simpati. Sama seperti ketika saya hancur, terpuruk, dan harus siap melakoni sejumlah keterpurukan lagi, ada saja sedikit orang yang tetap di sisi dan menyatakan simpati. Terlalu banyak yang kita simpan dan tak perlu banyak orang tahu. Kita cuma berdoa dan berusaha sekerasnya melakukan yang terbaik.

Leo Tolstoy bisa jadi benar: Tuhan tahu tapi menunggu.

Lalu kabar tentang satu capim KPK yang bakal jadi tersangka oleh polisi. Berkembang spekulasi, kawan satu itu adalah si tersangka. Meskipun sampai saat terakhir ini dia yakin bahwa bukan dia sang tersangka itu. Ya, begitulah mungkin hukum dan politiknya. Bagian dari hidup. Pintar-pintar saja bersyukur. Kalau pun sesuatu yang buruk terjadi, pasti ada sedikit orang yang berada di sisi dan menemani pohon yang sedang tumbang. Sama, dulu juga begitu. Anda-lah yang satu-satunya membalas pesan ponsel ketika saya tak lagi punya pekerjaan dan luntang-lantung. Katanya, dia tidak peduli saya siapa dan jadi apa. Kita tetap kawan.

Pada akhirnya, setelah semua peristiwa yang kita saksikan bersama-sama, kita diajari tentang yang namanya persahabatan, simpati, dan setiakawan, dalam situasi yang sulit. Mencari semut ketika kita menjadi gula, sangat mudah. Tapi nasib tak selalu manis. Dan, percayalah, Tuhan menciptakan beberapa spesies semut yang masih doyan melumat rasa pahit.
Sampai detik ini saya selalu percaya pada perintah Allah ke-11 yang saya tambahkan sendiri: jangan pernah lupakan sedikit pun mereka yang berada bersamamu ketika kau sakit, lemah, dan terpuruk.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Tuhan Tahu Tapi Menunggu | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: