Revolusi Mental Ala Ibu Puan

Thursday, August 27th, 2015 - Opini Publik

Untuk membuat rakyat Indonesia sehat, cerdas, dan berkepribadian, harganya Rp149 miliar. Revolusi mental namanya. Bisa dimulai dengan minum jamu. Kalau tak suka pahitnya jamu, mulai dari yang tidak terlalu pahit: temulawak, beras kencur, wedang jahe, Chivas. Eh, sori kepencet.

Kalau malas minum jamu dsb itu, bisa mulai revolusi mental dari mengantre di kantin sekolah. Kalau sudah antre, makan bakwan tiga ngaku satu.

Boleh juga revolusi mental diawali dari mengurangi kunjungan ke Delta. Walau menyehatkan badan, tapi merusak mental, kantong, dan rumah tangga.

Pokoknya, revolusi mental bisa dimulai dari mana saja, dengan cara bagaimana saja. Wong, menterinya saja bingung breakdown programnya gimana. Tapi walau bingung breakdown-nya, yang penting anggaran minta dulu. Program bisa disusun. Alasannya: kan ada pengurangan subsidi BBM makanya ada tambahan dana APBN.

Konon, ada adagium begini: orang bingung dengan uang yang begitu banyak adalah pesta pora buat perampok (kerah putih atau kerah biru atau tak pakai kerah). Jadi, kalau ada orang bingung tapi pegang duit Rp444,8 miliar buat dihabiskan dalam setahun? Tafsirkan sendiri. Makanya, untuk mengisi kebingungan, sampai 22 Juni 2015, duitnya baru terpakai sedikit, Rp38,7 miliar (8,7%). Buat gaji, operasional, sama nyusun-nyusun program.

Tapi, tampaknya, setelah bingung selama satu semester, eureka! Gagasan bernas muncul dan mereka siap menghabiskan sisa Rp406 miliar. Dimulai dengan bikin website brilian berbasis wordpress.

Kalau Rp149 miliar buat website memang tidak logislah. Sebingung-bingungnya orang, pastilah mikir mau ngembat duit segitu dari website tok. Taruhlah betul Rp20 juta (banyak sedikit relatiflah, masak teman-teman programmer gak ada selisih buat dibawa pulang. Namanya bisnis lah, maklum). Tapi yang harus diwaspadai itu adalah Rp149 miliar bulatnya itu untuk program komunikasi.

Salah kita juga mungkin, mental kita masih jongkok begini. Jadilah mereka berpikir kita rakyat semua ini memerlukan sosialisasi revolusi mental lewat website, buku saku, majalah, seminar, dan iklan media. Coba kalau mental kita bagus, duit segitu kita belikan properti. Daripada buat program komunikasi.

Jadi nanti kita akan lihat sama-sama. Jantung revolusi mental bukan terletak di Ibu Puan sebagai Menteri Koordinator PMK melainkan di tangan agensi dan konsultan komunikasi. Revolusi mental kelak akan terjerumus menjadi persoalan konsep iklan seperti apa, placement di mana, berapa diskonnya, ada kick back-nya atau ndak. Nanti urusan revolusi mental jatuh jadi persoalan pembagian lapak mana media first tier mana media kenthir. Mana media dalam ruang mana media luar ruang. Simpel aja. Biar masyarakat tahu permainannya. Dan terserap dengan baiklah semua anggaran.

Kalau saya, sederhana saja. Ikut apa kata Pak Menkeu: saya pasrahkan urusan rezeki dan iklan kepada Tuhan.

Salam revolusi mental.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Revolusi Mental Ala Ibu Puan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: