Berita Relokasi dan “Penjual Fleksibel”

Saturday, August 22nd, 2015 - Opini Publik

Nah, tajuknya Kompas hari ini pas dengan tulisan terdahulu. Rekomendasinya adalah di tengah tekanan kuat terhadap pasar properti dengan indikator menurunnya penjualan rumah segmen menengah atas 30%-40%, adalah kesempatan menata kembali pasar properti nasional dengan fokus pada penyediaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Selama ini industri properti sudah mengalami pertumbuhan dan keuntungan. Sekarang saatnya, berpihak kepada masyarakat kecil yang sebenarnya memiliki daya beli, namun tanah dan bangunan sudah terlanjur jadi alat investasi dan alat spekulasi, sehingga mereka sulit punya rumah. Kira-kira begitu.

Harga tanah bergerak liar. Surabaya sudah teriak: “Tak ada rumah di bawah Rp500 juta.” Itu pun untuk LT. maksimal 90m2, LB. maksimal 60m2. Kalau mau murah, kejar ke Gresik, Sidoarjo, Mojokerto. Yogyakarta idem dito. Liar. Harga tanah bisa naik 3 kali NJOP. NJOP diatur oleh pemerintah. Pemerintah mengambil data dari pasaran penawaran broker lapangan. Broker lapangan menawarkan berdasarkan “situasi”. Liar.

Depok juga mati kutu. Tak ada IMB baru untuk pembangunan rumah tapak di bawah 120m2 oleh pengembang. Kalau ini dituruti, mau jual di harga berapa pengembangnya? Padahal favoritnya yang pas di kantong, LT.72, LB.36. Makanya lari ke Citayam, bikin apartemen murah. KDB kecil gak papa, asal menjulang tinggi, luas bisa diatur supaya harga pas di konsumen.

Defisit rumah saat ini 15 juta unit. Program sejuta rumah yang diproyeksikan kelar akhir 2015 masih sayup-sayup pelaksanaannya. Nanti diprediksi pengembang besar akan main di rumah tapak untuk menengah ke bawah. Dan gak tahu bakal seliar apa lagi spekulasi bergerak.

Gimana di Kampung Pulo, Jatinegara? Dari dulu sudah gerah kita dengan berita tentang permainan mafia properti di lahan negara. Ingat kasus Rusun Marunda? Ingat Jakpro? (Baca: Relokasi Pluit: Jakpro dan Adu Domba Warga).

Nah, begitulah. Sebelum digusur, “orang-orang” tertentu disusupkan. Dapat jatah unit rusun, langsung lempar ke pembeli. Pembeli lempar lagi. Dst, sampai harga bergerak liar. Orang kecil yang mau benar-benar menghuni rusun dipalak 20 juta uang muka. Mana punya mereka cash cepat segitu. Akhirnya yang berhak malah tak dapat tempat. Diisilah sama preman-preman.

Masih ingat Kalibata City, rusunami besutan grup pengembang gede? Dibuka awal harga Rp100 jutaan. Orang menyemut. Hitungan bulan harga bergerak terus sampai Rp250 jutaan. Lalu orang jual lagi dengan fleksibel bilang, “Loe bayar setengah aja dulu bro, sisanya gampang.” Setengah dari 250 juta adalah 125 juta. Dia beli 100 juta, untung 25 juta cepet. Sertifikat masih di dia sampai pembeli lunasin. Bisa digoreng lagi sertifikat. Nilai properti naik terus, liar. Apalagi iklan gila-gilaan di media.

Makanya saya bilang kemarin, rusun Jatinegara harus dijagain benar, dikunci benar jangan sampai diperjualbelikan. Karena kalau itu “dikomersialkan”, sekarang ancang-ancang harga sudah 500 jutaan (ada anggota DPRD DKI yang juga prediksikan di angka segini) dan bakal gampang naik. Lihat Perda 1/2004 DKI Jakarta tentang Tata Ruang. Lihat di wilayah situ bakal dijadikan apa: ada kawasan energi terpadu, teknologi informasi, “wisata waduk”, pusat bisnis dan perdagangan. Moncer sekali buat spekulan mengerek psikologi dan harga. Percayalah, bukan orang kecil yang untung melainkan orang-orang kaya yang duitnya bakal bekerja buat mereka-lah yang bakal gemuk kantongnya.

Orang kadang abai tentang prinsip jual beli dan psikologisnya. Nyari pembeli itu mudah sebenarnya. Yang sulit itu nyari penjual. Penjual yang macam apa? Penjual yang fleksibel, yang santai, yang seperti kasih keringanan buat pembeli, yang kayak malaikat gitulah. Semodel tadi si bro yang beli 100 jual 250 dan bilang sisanya gampang. Jadi kalau ada spekulan beli murah dengan model nyusup-nyusupkan orang, lalu dia lempar lagi dengan menaikkan harga 2-3 kali lipat dan bilang, sisanya santai aja yang penting tempatin dulu, pembeli bakal senang, padahal dia gak tahu bahwa penjualnya udah narik untung duluan.

Nah, “penjual-penjual yang fleksibel” dan para bandarnya ini banyak di situasi-situasi bernama penggusuran. Jadi harus jeli juga kita melihat peristiwa.

Saya bukan ahli HAM atau ahli properti. Cuma demikianlah yang saya tahu dan alami sendiri. Semoga ada manfaatnya buat tukar pikiran dan pengalaman.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Berita Relokasi dan “Penjual Fleksibel” | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: