Gosip Dicampur Berita yang Menjengkelkan

Thursday, August 20th, 2015 - Teknik Liputan

Taruhlah betul ada “hubungan” antara Menteri RR dan artis CA. Terus kenapa? Apakah ada pelanggaran hukum misalnya zina dsb yang ada aturannya di KUHP? Apakah ada pelanggaran kode etik penyelenggara negara?

Susah juga kalau pemberitaan arahnya gosip. Meskipun harus diakui, “berita” model begini bikin traffic membumbung tinggi.

Apakah semua topik tentang “hubungan laki-cewek” itu membantu kita menemukan solusi tepat bagi rakyat negara ini yang listriknya masih byar-pet bahkan tak ada sama sekali? Apakah membantu kita menemukan solusi untuk memberantas illegal fishing? Apakah bisa bikin aset negara yang sudah dikuasai asing kita kuasai kembali? Apakah bisa bikin triliunan duit negara yang menguap karena korupsi bisa ditarik lagi dan pelakunya dihukum? Apakah membantu kita semua mengungkap kasus BLBI?

Rakyat itu sekarang semakin pandai dan jauh lebih tahu dari wartawan. Sering saya dengar informasi (yang masih perlu diverifikasi kebenarannya) dari beberapa orang tentang pejabat A, B, C punya selingkuhan siapa, “mainnya” di mana, berapa biasa kasih tip buat beli rokok, “dokternya” siapa kalau lagi nyabu, PL/LC favoritnya siapa, dsb. Persoalannya, bisa dibuktikan secara hukum tidak? Bisa diverifikasi tidak informasinya?

Kita semua tahu, perilaku semacam itu bertentangan dengan hukum, moral, dan etika publik. Tapi, kalau sebatas gosip-gosip dan dikipas menjadi seperti berita, repot juga bangsa ini buat maju. Bukan berarti isu seperti ini tidak boleh diangkat di media, karena memang jabatan publik melekat dalam diri orang yang bersangkutan. Namun, penyajian dan niatnya harus lurus untuk kepentingan publik. Misalnya, terbukti zina, korupsi, narkoba, ya cepat ganti, karena pejabat model begini dekat dengan kekufuran dan tak layak memimpin urusan negeri ini. Hukum dia seberat-beratnya.

Ada pula urusan Wapres dengan Menteri yang cekcok. Masalahnya, malah cekcoknya yang dibikin dramatis. Harusnya, justru prosesi pembelian pesawat yang harganya mahal itu bagaimana, justru kita banyak yang tidak tahu. Banyak duit BUMN yang dipakai sekena hati orang-orang tertentu, malah kita abai. Mengapa kita jadi lebih senang dan menikmati percekcokan?

Bukankah sebaiknya kita tanya, dalam proyek 35.000 MW itu hitungannya bagaimana, siapa pelaksana proyeknya, klan Bosowa ikutan tidak, pencairan duitnya bagaimana, terus dugaan-dugaan korupsi di PLN yang katanya marak itu bagaimana, dan seterusnya.

Di dunia online yang riuh-gemuruh saat ini, kita semua perlu ingat. Para pemain besar yang meraup keuntungan triliunan, termasuk Facebook, mendapatkan semua keuntungan finansial itu tanpa pernah menciptakan konten satu pun! Mereka akan sangat menikmati lalu lintas perbincangan para pengguna di negara-negara yang warganya senang bergunjing. Begitulah bisnis berjalan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Gosip Dicampur Berita yang Menjengkelkan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: