Berapa Valuasi Perusahaan Go-Jek?

Saturday, August 15th, 2015 - Rumor

Karena weekend, kita bicara yang simpel-simpel aja. Mumpung lagi ramai soal RAPBN 2016 yang bejibun angkanya nan rumit itu, mending ngomong soal hal yang sederhana tapi luar biasa, menurut saya: Go-Jek.

Iseng-iseng sekelebat mengira-ngira, berapa besar ya uang yang berputar dalam bisnis ini dan berapa potensi keuntungan buat perusahaan aplikasi ini. Ingat ya, ini cuma menebak-nebak dan bukan hitungan ilmiah ekonomi. Cuma “main-mainan” kata Susan-nya Ria Enes yang digemari anak saya itu. Jadi kalau ada salah-salah, ya sorry. Ini cuma kekaguman saya saja sama Gojek dan supaya menginspirasi kita semua.

Kalau ada salah asumsi, kita koreksi.

Sejak 2011, Go-Jek sudah ada dan menang lomba aplikasi internasional. Investor terbetot. Infonya, angel investor yang mendanai Go-Jek ini rata-rata memberikan dana US$191 ribu (sekira Rp2,6 miliar). Ada investor lain yang siap pendanaan Seri A-Seri B hingga US$2 juta (sekira Rp27 miliar), dan investor-investor lain yang siap mungkin sampai ratusan miliar.

Bolehlah dikira-kira pengeluaran awalnya: membuat aplikasi; beli helm, jaket, ponsel, masker, dsb; biaya koordinasi sana-sini; biaya legalitas; dan jangan lupa promosi (yang dalam hal ini ya lewat jaket-jaket driver Go-Jek yang ada logonya itu) yang “dikonversi” menjadi subsidi tarif promo itu aja gampangnya. Bandingkan dengan pasang iklan gila-gilaan di koran dan TV deh kayak online shop.

Dengan perhitungan jumlah driver saat ini 30 ribu, pengunduh aplikasi ada 2 juta (ambil angka pesimis 5% dari pengguna aplikasi itu yang booking setiap hari, jadi 100 ribuan booking per hari), dengan rata-rata Rp40 ribu ongkos per trip.

Nah, bisa dihitung tuh beli paket helm, jaket, masker, ponsel misal sepaketnya Rp200 ribu x 30 ribu jadi Rp6 miliar (Di luar ponsel ZTE yang dibeli drivernya dengan cara mencicil Rp7.000 selama 100 hari atau Rp50 ribu per minggu sampai harga Rp700 ribu ke perusahaan. Ini kan bisa ambil barang dulu, bayar mundur ke pemasok atau sistem kerjasama gimana gitu, sama dengan sepertinya pemakaian kartu Simpati karena ada tarif free untuk grup), aplikasi dan development dll Rp500 juta, subsidi tarif promo ya kira-kira kalau rata-rata orang bayar ojek Rp40 ribu ambil saja 75%-nya disubsidi dulu (hitung-hitung biaya promosi dan 25% dari ongkos kan dibayar ke driver tuh yang Rp10 ribu) jadi Rp3 miliar/hari untuk subsidi promo. Gak tahu sanggup berapa lama subsidi ini, karena gede juga per hari Rp3 miliar. Apalagi, duit penghasilan driver bisa diambil harian via Bank CIMB Niaga.

Duit masuknya ini yang gendeng, gurih, dan jelaaaas. Hitung deh.

Kalau sehari ada 100 ribu booking saja (terlalu gede gak nih estimasinya? Bandingkan saja waktu baru berdiri, Gojek punya 200 driver dengan bookingan harian 60, berarti setara 30%. Kalau sekarang ada pengunduh aplikasi 2 juta maka ambil 5% saja ya target pesimis lah) maka dengan tarif rata-rata Rp40 ribu per booking trip, hasilnya Rp4 miliar/hari.

Ke driver ceban, sisanya Rp30 ribu (disubsidi dulu selama promosi). Maka biaya subsidi promo Rp3 miliar/hari. Nah, emang bener Gojeknya belum dapat apa-apa dari sini, malah keluar uang banyak dulu. Tapi lihat kalau sudah tidak promo deh.

Bagi hasil 80-20. Sehari masuk Rp4 miliar: Rp800 juta masuk perusahaan, Rp3,2 miliar untuk 30 ribu pengojek, per pengojek dapat Rp106 ribu/hari, Rp3 juta/bulan. Berapa trip? 100.000/30.000=3 trip rata-rata driver.

Dari bagi hasil 20%, Gojek dapat Rp800 juta x 30 hari x 12 bulan=Rp288 miliar/tahun. Investornya Gojek bilang mereka siap balik modalnya 7 tahun. Kalikan 7=Rp 2 triliun bos.

Kalau nanti Gojek punya sistem pembayaran sendiri (wallet atau apalah), setiap transaksi pakai itu ambil saja 100 perak berarti: Rp100x100.000=Rp10 juta/hari x 30 hari= Rp300 juta x 12 bulan =Rp3,6 miliar. Kalikan 7 tahun = Rp25 miliar.

Jadi 7 tahun lagi Gojek punya duit sampai Rp2,25 triliun. Bagi sendiri deh per tahunnya berapa tuh. Belum lagi kalau ada unit-unit usaha lain.

Kalau IPO? Isi sendiri pengalinya.

Mau minta modal bank? Yah, ngapain, kalau udah moncer begini.

Kalau cuma biayain KY setahun sih kecil. Mau biayain KPK, ah remeh, tinggal tambah promosi dan jumlah bookingan sedikit. Mau gantiin hibah luar negeri yang Rp2 triliun di RAPBN 2016 juga bisa, kalau bookingan gojeknya ditambahin gasnya lebih kenceng lagi.

Kalau gini, sebenarnya kita tuh gak perlu asing-asing lagi. Eh tapi, sayang, Gojek investornya orang asing juga.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Berapa Valuasi Perusahaan Go-Jek? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: