Mencintai KPK dengan Kritik yang “Kejam”

Friday, August 14th, 2015 - Opini Publik

Wibawa KPK hilang ya? Lembaga independen pemberantas korupsi yang dibentuk pakai undang-undang tersendiri jadi bahan olok-olok gara-gara pernyataan merah-kuning-hijau yang tidak jelas dari wapres. Bisa jadi mendekati remuk kewibawaan seperti Komisi Yudisial. Lembaga pengawas yang disebut dalam Konstitusi tapi sekarang komisionernya mohon-mohon sana-sini supaya sang hakim cabut laporan.

Wapres itu kelihatannya tidak sembarangan bilang, “KPK tidak jelas.” Ini bisa dibaca sebagai sinyal keruntuhan KPK yang semakin kuat. Wapres sudah membaca itulah.

Ini fakta yang saya dengar dan saksikan: laporan masyarakat ke KPK semakin turun mutu maupun kuantitasnya; penetapan tersangka, penggeledahan, penangkapan dsb dihadang praperadilan; menyadap, dipersoalkan; undang-undangnya pun terancam dibongkar ulang; personel internal, terutama penyidik dan jaksa, digunting; bahkan saya dengar situasi internal memanas, saling curiga, tidak puas, dsb; ada pula beberapa saya dengar mau menggugat pimpinan KPK karena “PHK” yang dinilai sepihak dan melanggar aturan hukum.

Mimpi buruk yang bakal semakin buruk akan segera terjadi, sepertinya. Terpilihnya komisioner baru nanti kelihatannya tidak akan membawa banyak perubahan. Kelak, jika tidak segera rebound dan melawan, KPK bakal berakhir sebagai lembaga pencatat pengaduan korupsi semata (lembaganya tidak dihilangkan tapi kewenangannya dibikin buntung).

Pengungkapan kasus OCK mungkin dirayakan sebagai bukti bahwa KPK masih ada. Tapi tunggu dulu. Lihat saja nanti persidangan dan putusannya. Pertandingan belum selesai.

Berharap KPK mengungkap BLBI yang ratusan triliun itu? Berat. Masih ingat kasus VLCC Pertamina yang sampai sekarang tak tuntas juga kan, alasannya sulit barang buktinya karena si kapal sudah berlayar jauh mengarungi samudera entah ke mana. Akhirnya dilimpahkan ke Kejagung dan entah bagaimana lanjutannya. Itu cuma kapal, bagaimana kalau seperti duit BLBI yang mengalirnya jauh melampaui samudera-samudera.

Berharap kasus SKL BLBI terkuak bak naik-naik ke puncak gunung, menjangkau menteri/mantan menteri, mantan presiden, hingga konglomerat kakap? Secara matematika, pimpinan sekarang yang tinggal berapa bulan lagi ini bakal sibuk urus praperadilan dan revisi undang-undang plus perkara-perkara harian. Pimpinan yang baru belum tentu mau dan semangat usut BLBI.

Begitulah mungkin makna di balik istilah merah-kuning-hijau KPK yang disebut tidak jelas itu. Dan nanti secara simplistis orang-orang akan menuding ini corruptor fight back, pelemahan KPK, pro-koruptor, dsb, tanpa bisa membuktikan secara hukum dalam forum yang namanya pengadilan.

Makanya, dipikir ulang. Jangan sampai seperti lagu remaja Cinta ini Membunuhku. Cara mencintai KPK yang salah menyebabkan sadar atau tidak sadar telah membunuh KPK pelan-pelan.

Cintailah KPK dengan mengkritiknya secara “kejam”, bukan membela dengan irasional dan membabi buta. Biar KPK bangkit dan rock and roll lagi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Mencintai KPK dengan Kritik yang “Kejam” | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: