Tim Komunikasi Presiden dan Zoon Politicon

Thursday, August 13th, 2015 - Opini Publik

Tim komunikasi presiden naif juga rupanya. Tak ingatkah teori yang sudah berabad lamanya: manusia adalah zoon politicon. Manusia adalah makhluk politik. Dan, politik tak bisa direduksi sebatas partai politik.

Memagari diri dengan mengeluarkan pernyataan bahwa reshuffle kabinet tidak ditujukan untuk mengakomodir partai politik tak ada gunanya. Ini pendidikan politik yang buruk. Politik meliputi semua aspek. Pemilihan menteri, baik sebagai jabatan pembantu presiden maupun jabatan politik, tentu penuh pertimbangan politik dalam arti yang seluas-luasnya.

Politik itu seni mengelola kekuasaan — dalam pengertian seluas-luasnya. Kekuasaan politik, kekuasaan sumber daya ekonomi, kekuasaan jaringan, kekuasaan militer, kekuasaan massa, dsb.

Karena kantor kepresidenan tidak memberikan penjelasan yang transparan tentang pertimbangan dan latar belakang (terutama hubungan-hubungan “mistik”) di balik layar, saya yakin, rakyat akan mencari informasi itu secara spontan masing-masing. Silakan cek Google, keyword “Tom Lembong” paling populer tuh.

Ini kabinet uang. Kata saya. Mereka yang dipilih sedikit banyak menunjukkan bagaimana pemerintah akan bertindak membelanjakan dan mengelola uang rakyat. Cek integritas dan kita awasi sama-sama. Lihat juga tangga dan jalur politik mereka.

Poin utama adalah belanja. Tak lama lagi pemerintah akan belanja. Triliunan duit bakal mengucur. Tanda-tandanya sudah jelas: polemik kereta cepat Jepang atau Cina, proyek infrastruktur, dsb. Dari 10 proyek infrastruktur yang quickwins saja ada dana Rp220 triliun bakal mengalir. Belum lagi dana dekonsentrasi yang sudah parkir di rekening daerah-daerah. Dana desa pun begitu. Belum lagi beberapa proyek kemaritiman yang memang jadi janjinya Nawa Cita.

Posisi RR sebagai Menteri Kemaritiman sudah bisa ditebak sejak lama. Tanda-tanda zaman sudah kelihatan. Beberapa sayap relawan Jokowi giat mendesakkan. “Rekan kita satu ini (maksudnya menko maritim sebelumnya) pantas diganti,” kata RR di kantor Barisan Relawan Jokowi (6/8). RR memang tipikal right shooter (tembak langsung), khas aktivis. Beliau memang dekat dengan kelompok aktivis pro-demokrasi.

Bagaimana dengan DN, menko perekonomian? Menpora mungkin salah baca peta. Wong calon menteri, ditawari jadi tim transisi sepakbola. Ya, emoh lah. Saya tak paham betul untuk menebak bagaimana arah kebijakan ekonomi di tangan beliau. Ekonom yang jago menjawab itu. Tapi preseden fakta bisa bicara, ada tanda-tanda beliau mesra dengan kekuasaan, politik maupun ekonomi. Sumber informasi saya sempat heran bukan kepalang. Ada apa di balik ini semua. Putra semata wayang DN, kelahiran 1982, tiba-tiba melejit terlebih dahulu jadi komisaris BRIlife. Setahu dia, anak ini tak ada pengalaman di bidang asuransi. Pengalaman kerja setahun di ADARO (perusahaan batubaranya Sandiaga Uno). Istrinya, punya usaha bisnis tas lokal di Pondok Indah Mal.

Tapi, kelihatannya, memang alumnus Bank Mandiri harus eksis terus di kekuasaan ya. Apalagi gubernur BI-nya juga jebolan situ.

TL, 44 tahun, mendag, menggeser RG. CEO Quvat Capital, pernah di Farindo Investment (Farallon Capital, yang beli BCA dulu), pernah di BPPN ngurusi restrukturisasi aset Sinar Mas salah satunya, juga paham betul bisnis tambang. Hebat. Apakah aset BLBI bakal dikejar lagi dengan lebih semangat, Pak Jokowi? Setahu saya Kang Teten masih memiliki mimpi yang belum selesai untuk menuntaskan setuntas-tuntasnya Rp600 triliun duit BLBI yang menguap. Mungkin cocok berkolaborasi dengan TL, yang pernah di BPPN ini. Meskipun harus menyesuaikan lagi antara kultur Harvard-nya TL dengan kultur UNJ-nya Kang Teten. Atau gairah antikorupsi Kang Teten ala Kalibata berpadu dengan model hitungan-hitungannya Morgan Stanley ala TL. Beberapa berkas BLBI masih mangkrak di Kejagung, institusi di bawah presiden. Ya, tapi TL di perdagangan sih.

LP, menkopolhukam. Selamat Pak. Apa TOBA jadi dijual? Sebelum ramai polemik posisi menkopolhukam, sudah ramai rumor tentang lesunya bisnis batubara yang membuat TOBA, perusahaan batubara yang ada kaitan dengan LP, hendak ditawarkan ke investor baru. Kita tunggu moral pak menteri: berpihak ke rakyat atau mementingkan bisnis penyelamatan TOBA.

Bang Andrinof menepi ternyata. Apa kabar bang? Lama gak ketemu dan kontak nih. Padahal bang Andrinof ini berjasa besar bukan kepalang. Sesaat setelah Jokowi terpilih jadi gubernur DKI Jakarta, beliau sudah berpikir untuk mendorong lagi Jokowi jadi presiden. Maklum, penciuman pelaku survei jauh lebih tajam ketimbang kita yang orang biasa.

Seskab PA. Ya, no comment. Semoga makin bagus komunikasinya dengan KMP saja.

Jadi, tantangan ke depan jelas. Ada uang, ada orang. Tinggal kita lihat saja pilihan kebijakannya: Jepang atau China? Impor atau tidak? Remisi atau tidak? Kejar BLBI atau diam? Minta fee proyek atau tidak? Freeport mau diapain? Mahakam mau digimanain? Newmont urusannya pegimana? Itu “pemain” kayu mau tetep begini? Gula juga status quo aja? Sawit? Petral? Beras? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Ya, begitulah sepengetahuan pendek saya. NOTE: saya enjoy aja berpendapat, kan: bukan trader, bukan anggota dan simpatisan parpol, bukan afiliasi konglomerasi, dsb.

Arena persilatan mulai menggeliat.

Salam.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Tim Komunikasi Presiden dan Zoon Politicon | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: