Terpisah Karena Hosti

Friday, August 7th, 2015 - Opini Publik

Mungkin, sebentar lagi, akan tiba waktunya ketika hosti tak lagi jadi roti untuk menakut-nakuti. Tak pula jadi Tembok Berlin yang memisahkan kita sebagai saudara sebumi. Paus Fransiskus bilang, orang Katolik yang bercerai – tanpa pembatalan resmi dari gereja – dan menikah lagi, seharusnya tak dikucilkan. Mereka boleh terima hosti.

Gereja adalah rumah Allah yang pintunya selalu terbuka. Selalu ada tempat buat setiap orang, dengan segala masalahnya. No closed doors! No closed doors! Kata Paus, bukan kata saya.

Betul, apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Tapi, anak-anak yang orang tuanya bercerai lantas ikut-ikutan dikucilkan dalam komunitas gereja, adalah titipan Tuhan yang tidak boleh dipisahkan juga dari kasih sayang kita. Saya rasa Tuhan maha adil dalam hal ini (dosa kekal atau tidak kekal urusan Beliau). Masa depan dan kebahagiaan anak-anak tak bisa dihapuskan hanya karena ketentuan gereja dan hosti.

Paus yang rada-rada Marxist ini saya pikir kekinian juga. Setelah mengecam korupsi, pembunuhan atas nama agama, membawa salib palu arit hadiah Evo Morales, dan sebagainya, kini dia membawa pulang sesuatu yang hilang dari cara kita ber-Tuhan: kerinduan dan kasih sayang antar sesama manusia, dengan segala keburukan dan persoalannya,

Mereka yang selama ini pergi dan dikucilkan komunitas gereja karena perceraian, yang sekaligus rindu akan keluarga dan kenangan, akan kembali lagi dan menikmati hosti. Sama seperti mereka yang monogami sampai mati.

Manusia dihargai karena manusianya. Bukan karena persoalannya. Bukan sebab perceraiannya. Begitulah, mungkin, surga bisa dibangun di muka bumi, dan kita tak lagi berkelahi, saling memaki, karena perbedaan dari sudut mana kita berdiri.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Terpisah Karena Hosti | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: