Harga Pasaran Menyuap Pejabat

Wednesday, July 29th, 2015 - Rumor

Temans, sering-seringlah menyantap berita kasus korupsi. Tapi jangan dengan penuh amarah. Nanti jadinya kita maki-maki nir rasio. Santai aja. Anggap aja sebagai hiburan dan pengingat bahwa kita jauh lebih bahagia dari para koruptor. Doakan pula mereka supaya selalu sehat untuk menjalani proses hukum dan tombol kalkulatornya masih lengkap. Alias masih ada tombol bagi (/) dan minus (-). Jangan cuma kali (x) dan tambah (+). Takutnya tidak “berkah”.

Ambil juga hikmahnya buat ukur-ukur harga pasar. Pasaran lawyer fee yang senior berapa, dibayarnya berapa kali, dan bagaimana. Kekayaan gubernur yang punya satu istri dan yang lebih berapa, investasinya ke mana, cara muter duitnya bagaimana. Kalau ketangkep KPK bagaimana dan berapa. Banding-bandingkan deh dengan kita orang biasa. Enakan mana.

Hari ini kita dapat pelajaran berharga dari kasus gubernur dan istri yang baru jadi TSK. Kata PH (penasihat hukum) istri muda sang gubernur, perempuan yang umurnya 40-an tahun itu adalah berasal dari keluarga mapan. Pengusaha pula, berbisnis kecantikan. Kenapa kaya? Karena bapaknya saja pejabat (mantan pejabat sekarang). Kok bisa pejabat kaya raya? Memangnya pejabat apa? Jawabnya: bapaknya perempuan itu adalah mantan Sekretaris Dirjen di Kementerian Kesehatan.

Oh, begitu cara berpikirnya. Berarti kalau anak pejabat=orang mapan. Kalau mau kaya, jadilah pejabat, jangan jadi pengusaha. Bagooooos. Negara ini memang gemah ripah loh jinawi. Gaji pejabatnya bisa bersaing dengan gaji CEO Apple. Mungkin. Tapi bisa juga memadukan dua pendekatan: pejabat sekaligus membuka bisnis sampingan. Misal, bisnis jasa mutasi pejabat negara. Emangnya bisa beli apartemen Mediterania kalau cuma mengandalkan gaji dan otak-atik kuitansi SPPD?

Pelajaran lainnya adalah model investasi. Dari mereka, kita bisa belajar, betapa bodohnya kita dalam berinvestasi. Jangan happy dulu kalau punya apartemen yang yield-nya 10% dan katanya nilainya naik sampai 20% per tahun. Lihat tuh cara Pak Gubernur. Tahun 2008 “cuma” punya kekayaan Rp562 juta, tahun 2012 udah melonjak sampai Rp3,8 miliar. 570% nih naiknya selama menjabat 4 tahun (2008-2012) alias 142-an% per tahun bin 11-an% per bulan.

Tapi, ingat, walau dompet dan rekening sudah kembali “fitri” setelah lebaran alias bokek, kita jangan mudah emosi dulu. Jangan kelihatan miskinnya dengan kaget kok bisa melonjak segitu kekayaannya. Santai aja. Duit bisa dicari, kewarasan yang sulit. Malah pertanyaannya kudu dibalik: cuma segitu bos naiknya?

Lihat deh bebandanya gubernur ini. Properti/tanah/harta tidak bergerak? Dikit aja, cukup Rp193 juta (Mungkin belum terpengaruh iklan Agung Podomoro atau Alam Sutera ya). Kendaraan? Cukup Rp128 juta aja. Avanza lah. Surat berharga? Gak usah banyak-banyak, cukup Rp48 juta (takut dikerjain market kali). Harta bergerak lain? Cukup Rp186 juta (bisa berupa ternak kambing, ayam, sapi, perhiasan akik, mungkin). Setara kas gedein, main pendek aja di bawah 3 bulanan bisa cair. Jadi kalau punya Rp400 jutaan tahun 2008, tahun 2012 bisa punya Rp3,2 miliar (cari sendiri deh caranya).

Kelihatannya Pak Gub ini senang tiki-taka pendek merapat. Macam Barca-lah.

Dulu bro Uchok Sky FITRA agak lebay sih rilisnya. Terlalu flying in the sky mungkin waktu bilang penghasilan Gubsu Rp300 jutaan sebulan alias Rp3,6 miliaran per tahun. Main yang logis-logis aja bro. Kalau gaji gubernur di Sumut Rp7 jutaan dan pajak dan retribusi daerahnya antara Rp2,5 T – Rp7,5 T, berarti sebulan gubernur dapatlah 8 kali upah pungut. Rp56 jutaan lah sebulan alias Rp672 juta setahun. Kalikan aja lama menjabat.

Kelihatannya kekayaannya logis ya. Dari penghasilan dan keringat sendiri. Pantas betah dua periode. Walau tanggungan anak dan istri banyak, tapi gubernur mungkin rajin menabung. Disisihkanlah 30% dari penghasilan sebulan. Adalah Rp200 jutaan setahun. Makanya ditaruh di setara kas itu. Lapor deh LHKPN ke KPK. Sipp, kata KPK. Udah patuh dan masuk akal.

Tapi, macam gak tahu aja. Kan ada juga strategi mobil Kijang. Harta atas nama anak, istri, paman, keponakan, supir, etc. Terus, mau jadi kepala daerah emangnya sama dengan pemilihan ketua kelas. Ada 33 kabupaten/kota di Sumut. Taruhlah damainya Rp1 M per kabupaten/kota buat biaya kampanye, lobi, serangan fajar, dsb, sudah habis Rp33 miliar. Mana cukup dari rajin menabung, bisnis kecantikan, atau warisan sesdirjen tok.

Tengak-tengok sana-sini, yang paling konkrit dan gurih ya dana bansos. Mantap ini, kan. Kasih sumbangan 10 mesin jahit, tulis 100 mesin jahit. Itu pun kalau sampai ke rakyat. Kadang nyangkut di pabrik.

Tahun 2009 ada dana bansos terealisasi Rp284 miliar. Tahun 2010 Rp348 miliar. Tahun 2011 Rp351 miliar. Kalau begini, mantap nih. Tinggal enaknya berapa persen deh buat pimpinan. Ya, masak ada orang masak sayur asem, wanginya kita gak dapat.

Kalau orang biasa kayak kita cuma bisa berdoa kepada Tuhan. Ya, Tuhan, semoga tombol kalkulator pemimpin hamba masih dan akan selalu lengkap adanya, matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di barat, serta hujan turun masih merata bagi yang kaya maupun papa. Amin.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Harga Pasaran Menyuap Pejabat | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: