Naifnya Speaker Mesjid Pak JK

Saturday, July 18th, 2015 - Opini Publik

Saya turut menyatakan simpati dan mengutuk tindakan sekelompok orang yang menyerang umat Islam yang tengah salat Ied di Tolikara. Itu tindakan biadab.

Perkembangan berita dan isu kasus ini begitu cepat. Menurut saya, ada persoalan yang jauh lebih mendasar ketimbang urusan speaker masjid, seperti dibilang Pak Wapres JK.

Mari kita berdiskusi dengan kepala sedingin es. Buang prasangka dan benci. Kita letakkan porsi persoalannya pada kerangka hidup bernegara hukum.

Betul bahwa penegak hukum harus cepat dan akurat mengungkap kasus penyerangan masjid di Tolikara. Hukum nasional punya perangkat dan instrumen untuk itu. Apakah ini kejadian yang terencana? Apakah ada kaitan dengan keluarnya surat dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Badan Pekerja Wilayah Toli yang intinya melarang umat Islam membuka Lebaran? Apa saja alat bukti yang dipenuhi?

Itu pertanyaan dasar saja. Situasi di lapangan pasti dinamis.

Sebetulnya, ini peristiwa adalah tamparan sekaligus tantangan buat polisi di Papua sana. Sebab, kira-kira sebulan sebelum peristiwa ini, Gedung GIDI Jemaat Mondu di Distrik Yambi juga hangus dibakar hingga rata tanah. Polisi juga belum bisa mengungkap apa motif dan siapa pelakunya. Polisi cuma menyebut pelakunya adalah organisasi kriminal bersenjata.

Apakah ada kaitan antara peristiwa di Yambi, Puncak Jaya itu dengan peristiwa di Tolikara? Adakah kaitannya juga dengan penyerangan Gereja Baptis Papua dan gereja Kingmi beberapa waktu sebelumnya?

Presiden Jokowi jangan main-main dan anggap enteng semua ini. Fokus selesaikan dan jelaskan ke publik seluruh hasilnya seterang-terangnya.

Tudingan terhadap GIDI sebagai pihak yang diduga terlibat dalam kasus Tolikara sudah menjadi viral di mana-mana. Kabarnya, besok bakal ada pernyataan resmi dari GIDI. Kita tunggu saja. Yang jelas Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) telah mengutuk peristiwa Toli. GIDI sendiri adalah anggota dari Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII). GIDI termasuk anggota penuh di situ bersama 80-an gereja lainnya, bukan anggota Associate (data 2005).

Apakah ada kaitan antara ajaran GIDI dengan dorongan melakukan kekerasan oleh jemaatnya? Apakah GIDI mengajarkan kebencian? Siapa GIDI?

Kita harus bicara fakta dan bukti.

Tanpa harus mengadili keyakinan orang, pemerintah harus ambil tindakan segera, terutama Kementerian Agama, untuk melakukan cross-check dan “pembinaan”. Karena apa? Karena GIDI terdaftar di Kementerian Agama. Berdiri sejak 1963 dan didaftar ulang pada 6 Januari 1989. Bentuknya adalah otonom dan gereja nasional, dengan masa berlaku tak terbatas. Sistem “pemerintahan” GIDI ini disebut: Presbiterian-Kongregasional.

Mari kita bicara dalam skala yang lebih besar lagi. Isu ketidakadilan dan menganaktirikan Papua sudah lama terdengar. Kekayaan alam saudara kita semua di sana itu dikeruk habis-habisan tanpa ada imbal hasil yang adil dan sepadan untuk memajukan kehidupan rakyat di sana. Akibatnya, peran negara untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan keadilan umum seperti amanat Konstitusi diambil oleh pihak lain. Sudah jadi rahasia umum, Papua dan daerah timur di Indonesia adalah lahan empuk misi dan zending. Ini kadang menimbulkan gesekan sosial.

Pernah saya baca brosur dari World Team. World Team ini adalah mitra strategisnya GIDI di Papua. Semboyannya for the Glory of God. Ada orang asing di sana? Ya, ada. Bohong kalau bilang gak ada. Kontaknya ada di Amerika Serikat, Australia, dan Kanada. Ada kerja sama dengan gereja Injil Israel? Ada. Mereka membutuhkan banyak relawan pekerja dan prayer warriors di Papua untuk mewujudkan misi Gospel. Mereka membutuhkan banyak tenaga pilot untuk mengoperasikan maskapai mereka Tariku Aviation. Meskipun banyak orang Papua mengaku beragama Kristen tapi kata mereka masih banyak orang Papua yang menerapkan kepercayaan kuno dan roh-roh. Itulah mengapa Injil harus masuk ke sana.

Visi GIDI sendiri sederhana: Semua umat GIDI masuk surga. Misi mereka ada empat yakni penginjilan, pemuridan, pembaptisan, dan pengutusan. Oh iya, untuk pengetahuan saja, sama seperti lembaga misi atau zending pada umumnya, GIDI ini secara spesifik mengacu pada satu ayat dalam Injil. Kisah Para Rasul 1 ayat 8. Bunyinya: Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Sebagai ilustrasi, orang Katolik seperti saya ini yang katanya percaya Kristus, tapi suam-suam kuku ibadahnya, dianggap oleh mereka belum mengalami kelahiran baru. GIDI membedakan antara beragama Kristen dan murid Kristus.
Semua orang GIDI percaya Yesus, tapi hanya sedikit orang yang menerima dan memiliki Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.
Banyak orang yang menggunakan nama kristen, tapi tanpa Kristus karena banyak orang tidak melewati proses pemuridan. 90% jemaat GIDI Klasis Sentani Jayapura adalah jemaat-jemaat pindahan (terjadi jemaat bersifat kesukuan).

GIDI pun “mengambil alih” sejumlah peran yang seharusnya dilakukan negara/pemerintah. Mereka membentuk basis jemaat, membuka jalan ekonomi/bisnis, merintis kegiatan hukum dan HAM (ada LBH GIDI), pemberdayaan wanita, pemuda, membangun sekolah dan sarana kesehatan, bahkan punya media massa (radio, TV, surat kabar).

Setelah berkiprah selama 52 tahun di Papua, ini hasilnya:
– Anggota Jemaat: 976.000 jiwa yang sudah terdaftar dalam Surat Baptisan (Sumber: statistik GIDI 2009).
– Jemaat lokal: 2.061 buah gereja.
– Terdiri dari 8 wilayah: Bogo, Toli, Yamo, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Pantai Utara, Pantai Selatan, Jasumbas.
– Pos PI sebanyak 104 buah.
– Tenaga Missionaris/Penginjil lokal dan internasional sebanyak 92 kepala keluarga atau 582 orang yang melayani di dalam negeri dan luar negeri.
– Kerja sama dengan gereja-gereja Injili di Luar Negeri: Israel, Papua New Guniea, Palau, Belanda, Aboriginal, Yunani, Pakistan dan Ethiopia.

Apakah semua paparan tentang GIDI di atas serta-merta menunjukkan bahwa organisasi GIDI atau jemaatnya adalah pelaku penyerangan masjid? Belum tentu. Harus dibuktikan.

Apakah ajaran GIDI sarat kekerasan dan kebencian? Belum tentu juga. Sama dengan saya yang tidak pernah percaya berita-berita teroris itu ajaran Islam. Apalagi pada pidato peringatan HUT ke-51 GIDI, Presiden GIDI Pdt. Dorman Wandikbo menekankan kepada jemaat salah satunya adalah “jangan pernah menyakiti orang”.

Pak Jokowi, dari Aceh sebaiknya anda langsung ke Papua dan bikin kantor khusus di sana untuk memastikan negara betul-betul hadir dan bekerja (jangan hadir doang). Di Papua masih banyak ketidakadilan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Naifnya Speaker Mesjid Pak JK | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: