Menilai Kecap PSI-Grace Natalie

Wednesday, July 1st, 2015 - Rumor

Riuh juga ya soal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pimpinan Grace Natalie ini. Beritanya banyak. Ada di mana-mana. Di medsos aktif betul. Ada soal kafe solidaritas, komentar dana aspirasi, pemilihan pimpinan KPK, dsb. Cuma ada yang saya belum tahu: apa badan hukumnya, aktanya di notaris mana, duitnya dari mana, sama nomor rekeningnya berapa.

Kalau soal visi-misi, idealisme, dsb, ya wajarlah, kecap selalu nomor satu. Tak apa. Gagasan kepemimpinan muda, pucuk partai antara 37-40 tahun, ya boleh-boleh saja. Tapi bukan berarti yang muda tak punya potensi korupsi. Dari berbagai kasus bisa kita lihat, bibit korupsi ada yang dimulai sejak dini. Seingat saya, beberapa politisi yang pernah berurusan KPK ternyata mulai main proyek sejak usia 25-26 tahun.

Setiap ada yang bikin parpol, saya selalu curiga. Curiga yang positif sambil berharap semoga nantinya parpol ini tidak brengsek. Bayangkan saja modal yang harus keluar di awal: cari 50 deklarator, bikin akta notaris, pendaftaran badan hukum yang syaratnya seingat saya harus punya kantor di semua provinsi mencakup 75% jumlah kabupaten/kota dan 50% jumlah kecamatan. Belum lagi biaya operasional, promosi, lobi, pernak-pernik, dsb. Sementara sumbangan dibatasi: perorangan maksimal Rp1 miliar, perusahaan maksimal Rp7,5 miliar.

Bagaimana merekrut anggota ber-KTA? Ini juga tidak mudah. Tak sekadar banyak-banyakan follower di medsos. Butuh taktik dan logistik. Kalau belum ada logistik? Ya, minimal janji. Ingatkah kita pernah ada satu partai yang dulu menjanjikan 1 caleg disubsidi Rp5 miliar. Kalau ada 300 caleg berarti Rp1,5 triliun. Nah, berbondong-bondonglah orang daftar karena tertuju pada Rp5 miliar itu, padahal masih janji. Tapi, meskipun janji, anggota bisa terdaftar dulu dan lolos verifikasi. Setelah lolos verifikasi, bagaimana nasib si Rp5 miliar tadi? Ya gampang saja jalan keluarnya: pecah kongsi.

Ini pelajaran. Jangan mudah tergiur angka dan bilangan.

Kembali ke PSI. Saya tidak berpikir negatif bahwa partai ini disokong konglomerasi tak terlihat di belakangnya. Walau isu ini sempat muncul di permukaan akhir-akhir ini. Tapi faktanya belum kuat. Posisi saya sebagai rakyat biasa dan anak muda (sesuai target pasar PSI) sederhana saja: selama pendiri dan pimpinan partai belum memajang SPT pribadi di website, sehingga masyarakat luas bisa tahu berapa harta anda, berapa pajak anda; memasang hasil penilaian BI checking; plus memajang rekening koran rekening partai, semua partai bisa jadi sama saja. Mau baru atau lama. (Ya, meskipun undang-undang cuma mensyaratkan laporan pengeluaran, neraca, dan arus kas sebagai syarat keterbukaan keuangan partai).

Saya kenal Grace. Saya pikir pendidikan politik terbaik buat masyarakat saat ini yang seharusnya bisa dia rintis adalah memberikan contoh keterbukaan pendanaan partai dan relasi kuasa/kepentingan yang dia bela. Jujur di depan lebih baik ketimbang ketahuan oleh wartawan di kemudian hari.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Menilai Kecap PSI-Grace Natalie | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: