Potensi Sakit Jiwa Orang Indonesia

Wednesday, June 24th, 2015 - Opini Publik

Saya pikir, penjelasan Prof. Hubertus Kasan Hidayat di acara ILC semalam ini perlu disebarluaskan. Psikiater lulusan UI itu memaparkan dengan bernas kondisi kejiwaan orang Indonesia ketika berbicara kasus Engeline.

Intinya begini. Terdapat setidaknya 5% dari penduduk Indonesia yang mengalami gangguan kejiwaan. Angka itu berarti kira-kira 10 jutaan penduduk Indonesia. Dalam pengertian tertentu, gangguan kejiwaan itu bisa disebut bipolar disorder, yaitu sejenis gangguan kejiwaan yang ditandai dengan perubahan mood seseorang yang sangat ekstrim.

Beberapa klien dan kasus yang ditangani Prof. Hubertus menunjukkan fakta yang mengerikan. Mereka yang mengalami gangguan kejiwaan semacam itu cenderung melakukan kekerasan bahkan pembunuhan terhadap anak dan pembantu rumah tangga. Bukan hanya anak angkat melainkan anak kandung juga! Prof menyebutkan istilah untuk menggambarkan situasi itu dengan kalimat begini: “Kecelakaan yang tidak disengaja tapi terjadi.” Artinya meskipun tidak disengaja, kematian korban terjadi.

Dalam kondisi masyarakat Indonesia yang serba nrimo, banyak orang hidup dalam siksaan yang luar biasa. Dia mencontohkan banyaknya situasi di Indonesia, ketika pasangan suami-istri mempertahankan rumah tangga karena alasan anak. Padahal keduanya, suami-istri, hidup dalam siksaan psikologis yang luar biasa. Ini situasi yang memiliki potensi besar bagi yang menghidupinya untuk mengalami gangguan kejiwaan.

Sebagai pembanding. Data lain yang dikutip Persi menyebutkan 1 juta orang dewasa di Indonesia mengalami gangguan kejiwaan taraf berat. Sebanyak 11,6% orang dewasa Indonesia memiliki potensi mengalami gangguan kejiwaan berat. Angka itu berarti sekitar 23 jutaan orang. Data itu dilansir 2013, mengutip pernyataan Prof. Budi Anna Keliat, ahli kejiwaan UI.

So, kondisi marah-marah terus yang tidak jelas setiap hari, murung, bersedih, sensitif, mudah tersinggung, kehilangan percaya diri, kehilangan gairah bekerja, merasa diri tidak berguna, perasaan terbebani, perasaan bersalah, dsb, harus diwaspadai dan segera diobati (Prof. Hubertus maupun Prof. Budi Anna Keliat sama-sama menyatakan gangguan kejiwaan bisa diobati).

Teman-teman semua, semoga kita semua menjalani hidup ini dengan ikhlas dan sebaik-baiknya. Pramoedya Ananta Toer bilang, hidup ini seimbang. Barangsiapa memandang hanya pada kesenangannya, dia orang gila; barangsiapa memandang hanya pada penderitaan, dia sakit.

Banyaklah bersyukur dalam kondisi apapun, cintailah keluarga dan sesama, bekerjalah sebaik-baiknya untuk kebahagiaan bumi dan semua yang kita cintai, ciptakanlah sesuatu yang bisa membuat kita semua bisa memimpikan hal-hal yang terbaik dalam hidup. Terakhir, beragamalah dengan hati yang senang karena Tuhan Maha Asyik.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Potensi Sakit Jiwa Orang Indonesia | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: