Setelah Kalah Sepakbola: Padi Tumbuh Tidak Berisik

Tuesday, June 16th, 2015 - Opini Publik

Mau ke mana anak-anak bola itu setelah semua kekalahan ini? Militer.

Saya dengar bisik-bisik beberapa pemain bola mendaftar jadi tentara. TNI jadi ‘labuhan’ hati. Mereka masuk jalur khusus sepakbola. Dilatih kemiliteran, tapi tetap bisa merintis jalur prestasi di sepakbola nasional yang sekarang lagi berduka.

Itulah kondisinya. Mau bagaimana lagi. Jangan kita berpikir semua kehidupan ini adalah kehidupan kelas menengah: pendidikan sarjana, kerja kantoran, gajian rutin, ngafe, gonta-ganti gadget, maki-maki pemerintah di medsos, dan sejenisnya. Banyak pemain bola datang dari kelas bawah, berpendidikan sekadarnya, dan hidup mengandalkan kaki buat menyepak bola. Apakah mereka kaya-raya dengan nilai kontrak bombastis? Tidak juga. Tidak semua. Makanya jangan seenaknya berkata, “Dikasih tarkam juga hidup.”

Ada kutipan bagus dari buku To Kill A Mockingbird (karangan Harper Lee, terbitan 1960, berkisah tentang pengacara yang melawan diskriminasi kulit hitam; tahun 1961 dapat Pulitzer untuk kategori fiksi; tahun 1962 difilmkan dengan bintang utama Gregory Peck): “Kau tidak akan pernah memahami seseorang hingga kau melihat sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Situasi sulit, kekalahan, keterpurukan, kekurangan uang, dan seterusnya kadang bisa mengubah orang jadi tak rasional dan egois. Sudut pandang orang lain tidak digubris, yang benar adalah kita. Ujungnya adalah saling menyalahkan. Ini gejala umum yang terjadi di kalangan kelas menengah yang katanya berpendidikan. Itulah salah satu alasan mengapa Google enggan merekrut banyak pelamar dari kelas menengah berpendidikan tinggi: jika sukses mereka sombong, menyebut itu peran mereka seorang; jika gagal mereka menyalahkan situasi sekitar dan sesama.

Yang juga hilang adalah eling. Kehilangan pijakan: di mana kita sekarang, seperti apa kita dahulu, mau apa kita ke depan. Rasionalitas goyah. Seolah, kita tidak bisa kalah dan rasional dalam waktu yang bersamaan. Sama seperti Bob Dylan bilang, tak bisa mencintai dan rasional dalam waktu berbarengan.

Akhirnya solidaritas nasional kita lenyap perlahan. Konflik Menpora-PSSI itu bagi saya cuma sebagian kecil masalah sepakbola, yang mari sama-sama kita nobatkan kedua pihak itu sebagai orang-orang bodoh dan egois. Masalah negeri ini lebih besar dan merah-putih harus diselamatkan: kemiskinan, pengangguran, harga mahal, korupsi, kekerasan, pendidikan, dsb.

Saya pikir TNI boleh diberi peran di sini sebagai sekoci. Melatih pemain secara fisik dan mental, memberi gelora merah-putih dan NKRI, dan yang terpenting menjaga masa depan dan periuk pemain supaya tetap terisi. Di titik ini tak perlu ada pandangan negatif tentang militeristik ala TNI dan sebagainya sebagaimana di-endorse donor-donor asing.

Agaknya, tentara seperti Maulwi Saelan justru lebih cinta sepakbola nasional ketimbang pengurus dan pejabat yang makan duit bola dari keringat pemain. Soal antikorupsi, beliau juga patut dipuji. Skandal Senayan 1962 adalah buktinya. Soal pembinaan, militer Cakrabirawa macam beliau juga punya preseden bagus. Ada Piala Soeratin yang berarti ada juga muncul pemain keren sekelas Ronny Patinasarani, Abdul Kadir, dan Anjas Asmara.

Kita lupakan dua kali 0-5 yang menyakitkan ini. Kita tutup diri dulu bak Sakoku-nya Restorasi Meiji. Tan Malaka bilang, padi tumbuh tidak berisik.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Setelah Kalah Sepakbola: Padi Tumbuh Tidak Berisik | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: