Karena Pemain Thailand Tak Makan Indomie dan Bakwan

Sunday, June 14th, 2015 - Opini Publik

Ketika sepakbola Indonesia masih berkutat di meja hijau, sepakbola Thailand sudah moncer betul di lapangan hijau, stadion. Stadion yang betul-betul stadion: tidak ada calo, pedagang asongan yang tidak tertata rapi, sistem karcis musiman yang elektronik, dan pertandingan yang tanpa ada presiden klub di bangku pemain cadangan sambil teriak-teriak seperti pelatih.

Itulah Thailand Premier League. Jelas sponsornya (Toyota, Coca Cola), perusahaannya bonafid (minimal jelas pernyataan persnya dan tidak sembunyi-sembunyi seperti QNB), jelas penyelenggaranya (Thailand Premier League, Co. Ltd. Ini perusahaan yang jelas reputasinya dan standarnya internasional). Makanya, pelatih sekelas Sven Goran Errikson atau pemain seperti Robby Fowler pernah manggung di sana.

Lembaga siarnya juga beres. True Vision (dulu namanya United Broadasting Corp). Kontrak dan pembayarannya bukan sistem partai tunda seperti di sini. Reputasi medianya juga kelas internasional. True Vision ini sering menang lomba program siaran HAM dan didistribusikan ke Channel 4, HBO, dan BBC. Jadi ini bukan sekelas TV yang beli program siaran bola pakai DP kecil, lalu dimasukkan di neraca sebagai program persediaan acara biar neracanya ‘gemuk’ dan bisa dipakai ajukan utang. Pun, setiap klub di sana punya media sendiri (cetak maupun TV) yang profesional. Semacam Barca TV, Chelsea TV, dsb. Mereka mengacu ke sana.

Operator liganya jelas, badan hukum klubnya juga jelas, termasuk income-nya. Mereka punya aset lancar maupun tidak lancar yang terukur. Khususnya aset seperti tanah, sarana klub, lisensi, hak siar, dsb. Tak seperti di sini, yang remang-remang asetnya. Coba kalau jelas seperti di sana, waktu pemain tidak digaji (anggaplah itu sebagai utang gaji dan pemain adalah kreditor), pailitkan saja itu klub. Tapi kurator bakal tanya balik, emang klub punya aset apaan? Paling juga komputer, mesin faks, sama motor.

Ketika politisi di sini pada sibuk berbalas twit tentang pertandingan bola asing (ini termasuk politisi anggota tim transisi), di sana, pengurus, pemain maupun supporter sudah punya semboyan: sepakbola asing cuma kesenangan, sepakbola Thailand ada dalam darah. Di sana, berdasarkan riset 2011, Thailand Premier League ditonton 69% orang, menyusul Liga Inggris, Piala Raja, dan Liga Spanyol. Penonton bola Thailand sudah menyasar gen-Y (orang usia 20-an) yang merupakan pasar potensial marketing. Makanya, pemain Korea yang keren-keren dikontrak di klub Thailand, tapi pemain Korea yang bisa main bola, bukan yang bisa nyanyi sama joget.

Soal nasionalisme, jempolan. Tak bakal ada statement bahwa sepakbola tidak butuh negara. Mereka cinta negaranya, tiap jam 8 pagi dan 6 sore, pertandingan bisa berhenti dulu, buat diperdengarkan lagu kebangsaan Thailand. Jadi, minimal tiap 2 kali sehari, pemain dan supporter bisa nangis mendengarkan lagu kebangsaan, bukan hanya pas pertandingan.

Karena bagus dan tertata, makanya sponsor kelas dunia masuk: Coca Cola, Toyota, Nike, Yamaha, PTT Group, dsb. Tak perlu jadi besan wapres dulu untuk membujuk perusahaan jadi sponsor seperti di sini.

Kini, kita tak bisa GeeR lagi. Indonesia bukan lagi kelasnya Thailand. Mereka itu sekarang bersaing dengan Uzbekistan dan negara Timur Tengah lainnya untuk lolos Piala Dunia. Ketika jubir sedang sibuk broadcast ke wartawan soal kondisi terakhir kisruh PSSI-Menpora dari Madrid (lokasi wisuda sang anak), ingat, dua tahun lalu Thailand cuma kalah 1-2 dari Real Madrid.

Aspek apa lagi coba? Nutrisi, penanganan cedera, rumput stadion, pembangunan lapangan bola, kurikulum bola…Kalah jauh. Masih banyak saya lihat pemain bola kita makan Indomie dan bakwan goreng jam 2 pagi sambil nunggu pertandingan Champion. Di klub-klub bahkan mereka sampai berutang di warteg sekadar untuk isi perut. Kalau cedera, boro-boro dipikirkan secara profesional penanganannya. Yang ada mereka pergi sendiri ke klinik pakai BPJS.

Hasilnya adalah 5-0. Tapi ada satu keberhasilan: opini kekalahan bisa diredam dengan cepat dan efektif dengan adanya program pemeliharaan para buzzer medsos. Termasuk di kaskus.

Kasihan para pemain dan supporter.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Karena Pemain Thailand Tak Makan Indomie dan Bakwan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: