Bisnis Media Online Wajib Kuat Nafas dan Iman

Friday, June 5th, 2015 - Bisnis Media

Saya baca di Bisnis Indonesia hari ini artikel Ahmad Djauhar yang melaporkan perkembangan bisnis media massa global dalam 67th World News Media Congress di AS. Kesan yang saya tangkap dari laporan itu adalah keprihatinan tentang rendahnya revenue (iklan) bagi media online. Media cetak masih menjadi cash cow bagi perusahaan media yang mengembangkan sistem konvergensi. Contoh salah satu grup media di Singapura menunjukkan kontribusi media online bagi total revenue perusahaan tidak lebih dari 5%. Angka 5%-7% adalah angka rata-rata global kontribusi revenue dari media online bagi total penerimaan perusahaan.

Intinya media cetak dan elektronik masih menjadi “primadona”.

Ada alasan mengapa media online masih belum jadi primadona penerimaan. Duplikasi informasi yang terlalu besar dan anggapan bahwa berita media online bukanlah informasi serius adalah beberapa di antara alasan itu. Makanya Jeff Arvis, guru besar Entrepreneurial Journalism dari AS, bilang bahwa cara berjualan informasi dari media online jangan melulu kuantitas tapi harus tetap menjaga kualitas atau nilai. Jangan cuma mengejar pageviews dan impresi tapi sajikanlah jurnalisme berkualitas. Mulailah meninggalkan penyajian berita ala koran dan menggantinya dengan model newsletter. Dalam bahasa Juan Senor, peneliti pada Innovation Media Consulting, Inggris, berinvestasilah dalam jurnalisme berkualitas secara konstan.

1.000% saya sependapat dengan semua argumen itu.

Saya tidak mengalami pembandingan yang setara dengan kasus di atas karena Gresnews.com tidak melakukan konvergensi dalam arti memiliki sayap media cetak, elektronik, dsb. Tapi saya mengamini fakta bahwa ekosistem media online yang ada di Indonesia sekarang masihlah dihuni para pengejar traffic. Caranya gampang saja kalau mau begini: judul bombastis, broadcast medsos, jika perlu pasang iklan di FB, Twitter. Ambil topik seks, artis, hantu, dan sejenisnya. Traffic bakal naik pesat.

Sementara berinvestasi dalam jurnalisme berkualitas secara konstan adalah hal yang tidak mudah. Ini karena menyangkut faktor sumber daya manusia dengan segala lebih-kurangnya. Mencari dan membangun profesionalisme wartawan di Indonesia yang benar-benar kokoh sangat dipengaruhi banyak faktor, antara lain faktor waktu, kurikulum pendidikan, uang, dsb. Profesionalisme yang bagus harus ditopang dengan karakter personal yang bagus pula. Dan persoalannya, lembaga atau sertifikasi apa yang bisa menjamin apa yang namanya kualitas karakter personal itu, tidak pernah ada. Teori jurnalistik bisa dipelajari, karena itu sebatas pengetahuan. Pengalaman dan jam terbang terbangun seiring waktu. Tapi kualitas karakter? Ah, itu urusan dalamnya laut bisa diterka, dalamnya hati siapa yang tahu.

Kalau kita melihat bagaimana para media planner merencanakan placement iklan di media online, kita bisa menyadari betapa posisi media online (apalagi yang masih tergolong baru) masihlah marjinal. Rate kecil, sementara cost produksi lebih tinggi. Alhasil pakailah jalan pintas. Tak usahlah repot-repot membangun SDM dan mutu jurnalistik, pakai saja cara “tuyul” dan agregasi konten dari sana-sini. Ini hal yang tidak sehat tapi dilakukan banyak pihak. Jangan bicara dulu bagaimana hak kekayaan intelektual dilanggar, masih jauh itu.

Namun, media online dengan segala pelik bisnisnya haruslah tetap ada. Perkembangan teknologi dan zaman menuntut itu semua. Banyak jalan menuju Roma. Media cetak, elektronik, digital yang menyajikan jurnalisme berkualitas, pastilah akan selalu ada.

Ya, bisnis media online memang mensyaratkan pengelolanya kuat nafas dan iman.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Bisnis Media Online Wajib Kuat Nafas dan Iman | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: