Pengusaha dan Janji Manis Pak Jokowi

Wednesday, June 3rd, 2015 - Opini Publik

Beberapa waktu belakangan, saya sering mendengar keluhan dari teman-teman pengusaha, kecil sampai besar. Dari yang pengeluaran bulanannya (gaji, operasional, dll) Rp5 juta sampai Rp6 miliaran. Dari yang karyawannya cuma tiga orang sampai 1.200-an.

Sekarang zaman edan! Zaman sulit. Apalagi triwulan I tahun ini urusan pajak benar-benar bikin kepala pusing tujuh turunan.

Teman-teman yang usaha konsultan, media massa, spa and massages, makanan, barang hiburan seperti boneka, properti, jasa hukum, data center, aplikasi IT, EO, jasa media sosial, periklanan, perhotelan, pertambangan, sampai makelar/broker, pada menjerit. Rekanan agen asuransi kantor sampai maklum dan bilang ini kesulitan lagi merata di mana-mana. Para pimpinan perusahaan yang setiap bulan harus berjibaku mengisi periuk karyawan stress berat.

Banyak dari teman-teman itu saya kenal lama. Mereka telah menjadi manusia yang benar-benar berbeda setelah beranjak dari status “digaji” menjadi “menggaji”. Mereka jadi lebih banyak berdoa dalam hati, berpikir positif, pantang menyerah, selalu menyalakan harapan, banyak mempelajari hal baru, dsb. Mereka banyak bekerja dalam senyap, tak ada di koran/online/dsb, tapi menciptakan hal paling penting bagi martabat orang yakni pekerjaan. Kadang, dompet sudah kulit ketemu kulit tak masalah asalkan karyawan bisa gajian dan moral pasukan tidak turun. Artinya masih ada harapan di sana. Hidup jadi lebih punya arti ketika melihat keluarga karyawan bahagia karena bekerja di perusahaan kita.

Untuk teman-teman yang membuka usaha di bidang konsultan, media, jasa hukum, riset politik, dsb situasi lebih tidak mengenakkan lagi. Mereka kerap dituding sebagai “pemain”, “teman koruptor”, “pedagang kasus”, dsb. Saya tidak tahu benar-tidaknya. Tapi dari beberapa yang saya kenal, mereka tak seperti itu. Mereka berjuang dari bawah, bukan dari keluarga orang kaya, mengumpulkan logistik dan jaringan sedikit demi sedikit, bekerja dan berpikir tak ada batas waktunya, tak peduli libur atau hari kerja. Mereka bukan proposalist (ahli proposal) ke lembaga donor. Itu semua benar-benar usaha dan kerja keras mereka, kecerdasan mereka, karena mereka punya tanggung jawab terhadap perusahaan dan karyawan.

Pak Jokowi, waktu kampanye dulu Anda berbusa-busa bilang soal ekonomi kreatif, ekonomi UKM, keadilan anggaran, insentif pajak, birokrasi yang bersih dan cepat, dan sebagainya. Sekarang janji itu dinanti. Anda jangan hanya berpikir memukul konglomerasi dan mafia besar di balik lawan politik Anda, tapi ingat juga banyak orang yang berbisnis dari bawah dan menghidupi banyak orang, serta tetap lurus tanpa korupsi duit negara. Hidup di lapangan tak semudah mengangkat aktivis menjadi komisaris BUMN atau staf khusus di Istana sana, yang hidup dari duit dan fasilitas negara.

Pak Jokowi, sampai hari ini, saya merasa Anda belum berbuat sebanyak apa yang Anda janjikan selama kampanye waktu itu.

Semoga kritik ini bisa Anda dengar.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Pengusaha dan Janji Manis Pak Jokowi | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: