Kiamat di Mata Saya

Tuesday, May 26th, 2015 - Dapur Berita

Selama SD saya ikut belajar agama Islam di kelas. Maklum SD negeri, yang Katolik cuma saya sendiri. Jadi, saya tahu kalau matahari terbit dari barat dan ada bunyi terompet malaikat dari langit, itu tanda kiamat.

Saya juga sekolah minggu. Tapi di situ tak banyak cerita tentang kiamat. Tak banyak juga cerita tentang rambut dibelah tujuh atau lidah yang diseterika. Yang ada cuma cerita bahwa kalau akhir zaman kita akan diselamatkan. Duduk di sisi kanan Allah Bapa Yang Maha Kuasa. Meskipun pernah ada satu sekte yang mendekati saya dan berkata, meskipun saya Katolik tapi saya belum hidup baru. Kebaikan dan keselamatan itu beda. Orang baik belum tentu diselamatkan, orang selamat pasti baik. Mantap sekali sekte ini. Saking mantapnya sekte ini, saya usir dia. Mau baik kek, mau selamat kek, saya tidak peduli. Agama ada bukan untuk bikin pusing.

Sedikit banyak tahu juga saya tentang Marxisme-Komunisme. Membangun surga di muka bumi lebih penting daripada menanti surga di sana. Agama itu candu yang melemahkan revolusi. Tak ada cerita kiamat di sini. Setiap hari bisa jadi kiamat selama pemerintahan berbasis proletariat tidak terbentuk.

Kini, saya tidak pernah percaya kiamat itu ada. Saya cuma yakin manusia harus hidup sebaik-baiknya dan takut sama Tuhan. Apapun agamanya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Kiamat di Mata Saya | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: