Sepakbola di Tangan Ahli Tato, Kaskus dkk

Saturday, May 9th, 2015 - Opini Publik

Kadang begini ya. Orang tidak bisa dinilai satu sisi saja, entah karena gelar akademiknya, kekayaannya, bentuk fisiknya, agamanya, dan sebagainya. Setiap orang itu unik. Makanya, yang profesor bisa jadi sebenarnya bodoh, yang kaya bisa jadi miskin, dan seterusnya.

So, kita tidaklah pantas untuk memberikan satu stempel kepada sesama. Lagi-lagi, setiap orang itu unik. Dan, unik itu bikin hidup jadi asyik.

Sekarang lagi ramai soal Tim Transisi PSSI. Banyak pro dan kontra. Banyak keraguan, banyak juga optimisme. Saya tidak tahu yang benar yang mana, karena mereka belum bekerja. Kalau dibilang banyak dari mereka tidak tahu sepakbola, ya bisa benar, bisa salah juga. Nyatanya, yang katanya orang ngerti bola juga gak bisa tuh bawa Indonesia banyak juara.

Tapi, yang saya tahu, sepertinya keunikan dalam mengelola sepakbola sudah menjadi fenomena pada masa sekarang ini. Lihat saja pengelolaan sepakbola di beberapa negara Eropa seperti Inggris. Di sana ada tim peneliti/akademisi khusus yang menelusuri latar belakang pekerjaan ayah calon pemain bola, karena ada penelitian yang menyebutkan latar belakang pekerjaan sang ayah mempengaruhi kualitas pemain. Ada juga model Luis Enrique, yang naik ke atas tower untuk melihat jarak antarpemain Barca, kemudian mengukur dan menghitungnya dengan penggaris.

Saya tidak tahu juga, Tim Transisi ini akan bikin bola Indonesia macam bagaimana. Saya tak mau juga memberi stempel bahwa mereka tidak tahu bola makanya tidak layak mengurus bola. Siapa yang tahu, toh mereka belum bekerja.

Yang jelas di tim itu ada pemilik pabrik tenun yang sudah dari tahun 60-an ada. Kini memasok seragam militer untuk 30 negara, termasuk Amerika, Jerman, Inggris, Saudi Arabia. Termasuk memasok rompi antipeluru dan pakaian antiradiasi. Soal menggantang kain dan mencelup sudah jagonya. Selain itu jangan lupa, perusahaan ini langganan masuk MURI karena konsistensinya menjalankan upacara bendera sampai sekarang. Salut. Kloplah dengan personel tim transisi lainnya yang mantan Danjen Kopassus yang punya prestasi dalam hidup, naik haji bareng gubernur 2013 lalu. Siapa yang berani mendebat bahwa naik haji adalah momen istimewa dalam hidup kaum Muslim.

Soal franchise, sepertinya di tim ini banyak jagonya. Ada master franchise usaha fitness yang berdiri dari 60-an. Punya usaha es krim potong dan di-franchise-kan juga ada di tim ini.

Ahli tato juga ada. Pemimpin federasi tato Indonesia.

Dokter yang berpengalaman transfusi darah juga ada. Sampai-sampai sekarang punya ‘hubungan darah’ dengan Wapres.

Ahli agama, pendukung MU, yang pernah saya lihat kasih ceramah di Ahmadiyah juga ada.

Ahli forum online ada. Kebisaannya adalah memanfaatkan vBulletin yang murah kemudian mengembangkannya hingga jadi situs yang (konon) diakuisisi 250 miliar.

Semasa SMA jadi pemain Persib, arsitek, dan promotor batu akik juga ada.

“Ahli” tenun kain, pimpinan lembaga pemberantas korupsi yang pernah semalam di tahanan juga ada.

Yang dari kalangan bola, siapa yang bisa memungkiri fakta pesepakbola Indonesia yang paling gres bisa jebol gawang kiper Eropa sekelas Massimo Taibi adalah Paul Breitner-nya Indonesia ini.

Walikota Solo sobat presiden juga ada. Saya ingat beberapa percakapan orang Katolik di sana, betapa bangganya orang Katolik di Solo punya walikota ini.

Selebihnya ada orang Bawaslu, staf khusus urusan Indonesia timur, walikota, gubernur bank sentral, anak ahli intelijen yang komisaris perusahaan telekomunikasi, dsb.

Unik juga tim ini. Ahli tato, transfusi darah, pemasok seragam perang, arsitek, ahli tenun, pewaralaba, pengawas pemilu, Islam moderat, pengusaha gym, es potong…

Coba kita lihat, kompetisi macam apa yang bakal dihelat dalam waktu dekat. Semoga unik juga. Tidak ikut FIFA, tidak apa-apa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Sepakbola di Tangan Ahli Tato, Kaskus dkk | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: