Mengapa Saya jadi Begini?

Thursday, April 23rd, 2015 - Dapur Berita

Awalnya adalah Gabriel Garcia Marquez. Satu kalimatnya saya kutip untuk esai yang saya kirim ke lomba menulis mahasiswa nasional. Ternyata juara. Hadiahnya jadi wartawan di salah satu surat kabar nasional.

Tak lama. Cukup nyaris 3 tahun saja. Lantas pimpinan surat kabar bikin surat pindahkan saya ke Pangkalan Bun. Respons pertama adalah buka Wikipedia dan situs-situs lain. Cek berapa jumlah penduduk di sana, berapa jarak antarrumah, apa klub sepakbola yang terkemuka di sana. Iseng aja. Lalu saya tanya pimpinan itu, apa yang harus saya lakukan di sana, apa targetnya. Dia bilang, yang penting ke sana saja dulu. Mantap, manusia ini menyerupai Yesus yang bilang “Pergilah kamu diutus.”

Setiap manusia terlahir bebas. Tak selayaknya ada orang pongah sok menentukan nasib kita. Saya resign, robek semua surat-menyurat perusahaan, dan tiba-tiba langit cerah sekali. Hari itu juga ke KPK, bikin laporan korupsi. Terserah KPK mau proses atau tidak. Yang penting saya bisa beli laptop dari uang tali kasih.

Itu laptop banyak gunanya. Buat main camfrog sampai bikin rilis bantuan hukum; buat tulis diary sampai nulis buku; buat bikin desain portal berita sampai akhirnya meledak sendiri. Episode jadi direktur di lembaga bantuan hukum tertua dan ternama, indah. Orangnya cerdas-cerdas dan berani. Terbukti banyak tokoh yang lahir dari situ.

Umur belum 28 belagu jadi direktur utama perusahaan sendiri: portal berita. Nekat dulu. Yang penting niat baik dan hidup bebas. Mulai memikirkan hal yang sebelumnya tidak terpikirkan: menggaji puluhan orang. Makin berat hidup, makin senang. Asyik.

Tak terasa, April ini sudah 6 tahun jadi wiraswasta. 2 tahun primaironline.com, 4 tahun gresnews.com. Banyak orang yang saya menaruh hormat atas bantuan, ketabahan, dan persahabatan. Kadang, meski saling diam, kami saling mendoakan yang terbaik buat masing-masing. Maaf, jika ada salah sikap atau kata dari saya selama ini. Tak ada niat buruk, tapi cuaca hidup memang banyak musimnya. Kadang kita khilaf.

Sekarang tinggal kita lakukan yang terbaik saja. Cita-citanya masih sama: bicara yang benar. Lebih-kurangnya terserah orang menilai. Jika dianggap tak ada manfaat, abaikan saja karya yang kami buat. Sederhana. Orang bebas memilih. Termasuk memilih untuk sejahtera dan merdeka sekaligus.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Mengapa Saya jadi Begini? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: