Kalkulator di Balik Kisruh PSSI-Menpora

Monday, April 20th, 2015 - Rumor

Tetiba ingin menulis sepakbola. Saya cinta sepakbola, fans berat Timnas Indonesia sejak SD. Cita-cita saya adalah menjadi bek timnas Indonesia, sayang pupus karena cedera lutut. Jadi, sedih juga melihat sepakbola nasional hari-hari belakangan ini: kompetisi berhenti, ribut di mana-mana, PSSI sampai beku, pesepakbola nganggur dulu dalam ketidakpastian.

Saya juga senang bisnis. Termasuk (jika ada peluang) bisnis sepakbola. Suatu hari nanti saya bermimpi punya sekolah seperti La Masia dan klub yang kuat. Makanya, saya kira wajar bagi siapa pun pebisnis yang melihat besarnya potensi pasar sepakbola di Indonesia: 88% penggemar sepakbola di Indonesia adalah penggemar kompetisi sepakbola nasional/ISL; 168 juta penduduk Indonesia adalah penggemar fanatik ISL; semester I tahun 2014, pertumbuhan fans ISL naik 17%. Ini data saya kutip dari laman BV (Bakrie Viva) Sports Indonesia, perusahaan yang memegang hak komersial ISL, yang berada di bawah PT. Visi Media Asia Tbk (VIVA).

Kisruh pengelolaan sepakbola nasional saat ini memang tidak sederhana. Memang, harapan saya (dan rakyat pada umumnya) adalah timnas kita juara (minimal) Piala Asia dan lolos Piala Dunia. Tapi untuk sampai ke situ prosesnya sulit. Konon, timnas yang kuat adalah hasil pembinaan usia dini dan kompetisi berjenjang yang kuat dan konsisten. Kompetisi yang baik dikelola oleh profesional terbaik. Saya pikir, tak ada salahnya unsur bisnis masuk dalam pengelolaan, asal prinsip-prinsip bisnis dan cita-cita prestasi sepakbola nasional dijunjung setinggi-tingginya.

Tapi ini bukan dunia ideal ala Plato. Kenyataannya pahit. Setelah pembekuan PSSI oleh Menpora Imam Nahrawi, saya pikir friksi tajam di kalangan akar rumput (pro dan kontra) harus dikelola secara produktif, jangan sampai membuat kita semua apatis terhadap sepakbola. Ada baiknya fakta dan kondisi sebenarnya dipaparkan seterang-terangnya supaya masyarakat tahu. Soalnya, masih banyak fans fanatik sepakbola di Indonesia yang sekadar tahu bersorak dan bergoyang di stadion. Tidak tahu bagaimana sebenarnya bisnis ini berjalan. (Saya kira, banyak pemain bola juga belum tahu soal ini).

Saya kira Menpora dan BOPI tahu peta dan duduk persoalan, terutama soal bisnis bola ini. Ketegasan (atau kegarangan?) mereka akhir-akhir ini pasti ada alasannya. Saat kompetisi ISL (QNB League) berhenti sejenak 12 April lalu, mereka pasti tahu konsekuensi bisnisnya. Faktanya, ada investasi Rp1,5 triliun yang sudah disepakati oleh PT. Liga Indonesia dan BV Sports untuk penayangan hak komersial ISL selama 10 tahun (diteken 2013).

Sebenarnya bukan rahasia umum juga kalau dipaparkan detail siapa pebisnis/pejabat di balik ISL ini. Toh, VIVA sudah melantai sejak 2011 di Bursa dan laporan keuangannya bisa kita baca sama-sama. Kita juga bisa mengetahui bahwasannya PT. Liga Indonesia sejak 2009 adalah operator liga Indonesia yang pada 2011 dicabut dan digantikan dengan PT Liga Prima Sportindo (yang dikenal dengan kompetisi IPL). Awalnya 99% saham PT Liga Indonesia adalah milik PSSI dan 1% milik Yayasan Sepakbola Indonesia yang dipimpin oleh Nirwan Bakrie. Tapi sejak RUPS 2011, pemegang 99% saham PT LI adalah klub-klub peserta ISL dan 1% milik PSSI.

Namanya perusahaan (PT) maka profit adalah juga menjadi tujuan. VIVA Group sendiri sudah lama berinvestasi di sepakbola. Kalau nilai saat ini Rp1,5 triliun untuk masa 10 tahun berarti Rp150 miliar per musim (Ini saya kutip dari publikasi resmi PSSI). Musim 2014-2015 sendiri sedianya berlangsung selama 10 bulan (Jan-Nov 2015) dengan jumlah pertandingan sebanyak 380 (ISL saja), Divisi Utama ada 511 game (mulai bergulir seharusnya 15 April), belum lagi U-21, dsb.

Nilai investasi untuk hak komersial (mencakup hak siar, branding, sponsorship, merchandise, dsb) Rp150 miliar semusim ini sebenarnya naik kalau dilihat sejarahnya. Waktu tahun 2007, ketika PT LI belum ada dan masih namanya Badan Liga Indonesia, Cakrawala Andalas Televisi (CAT) membayar hak komersial ke BLI masih seharga Rp100 miliar untuk kontrak 10 tahun, mencakup lisensi eksklusif, media rights, dan hak komersial lainnya (artinya kira-kira harganya Rp10 miliar/musim untuk minimal 150 game/musim).

Tahun 2011 direvisi dengan kesediaan CAT me-review nilai setiap tahun, meminta tambahan jumlah pertandingan minimal 200 game/musim (termasuk dan tidak terbatas pada Divisi Utama, U-21, Perang Bintang, dsb).

Tahun 2013 diteken lagi kontrak perubahan (amendemen) yang mencantumkan nilai komersial Rp50 miliar untuk musim kompetisi 2012-2013 (Memang agak berbeda, sih. Di laporan keuangan tidak tercantum angka Rp1,5 triliun/10 tahun. Yang tercantum dalam perikatan hanya Rp50 miliar itu).

Bagaimana bayarnya? Dikompensasikan dengan biaya yang belum dipergunakan, ya dari sisa yang Rp100 miliar waktu 2007 itu. (Perjanjian ini diteken 2 Juli 2013, semuanya saya kutip dari Laporan Keuangan VIVA 2014 (unaudited)).

Pada 26 Agustus 2013, ada perjanjian juga antara PT LI dan Viva Sports untuk hak siar digital terestrial tayangan ISL. Pembayaran untuk hak siar ISL musim 2009-2010 dan 2010-2011 sebesar Rp20 miliar (DP 10%, sisanya dibayar 3 kali per 4 bulan mulai Desember 2013-Desember 2014). Jangka waktu hak siar ini selama 20 tahun lho, sampai 26 Agustus 2033.

Konon KPPU sudah mengendus dugaan monopoli hak siar ISL ini. Ada laporan masyarakat ke KPPU September 2013. Surat lidik sudah keluar: Penyelidikan Nomor 6/Lid-L/II/2014 tentang Dugaan Pelanggaran Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 dalam Pengelolaan dan hak siar ISL. Menpora waktu itu Roy Suryo sudah diperiksa. Tapi hingga sekarang gak ada kabar beritanya dari KPPU (semoga nanti para wartawan menagih ke KPPU).

Waktu musim itu (2012-2013), ada 250 pertandingan ISL: MNC dapat 70, VIVA 30, sisanya K-Vision (Kompas). Berapa nilai kontrak BV Sport dengan MNC, VIVA, K-Vision, tidak disebut pasti. Yang kita tahu cuma modalnya: Rp50 miliar untuk musim 2012-2013, Rp20 miliar untuk musim 2009-2010 dan 2010-2011.

Untuk musim ini, BV dan PT LI menggandeng Qatar National Bank untuk kontrak sampai 2017 (3 tahun). Nilainya berapa juga tidak diketahui pasti. Yang kita tahu cuma saham QNB Indonesia, 7%-nya punya Grup Bosowa punyanya Aksa Mahmud, adik ipar JK. Sementara VIVA, komisaris utamanya adalah Rachmat Gobel (Menteri Perdagangan), Dirutnya Anindya Bakrie.

Hal-hal seperti di atas seharusnya dibuka saja, toh bukan rahasia lagi. Supaya kita semua tahu keadaannya. Oh, ini bukan cuma soal nasionalisme dan keinginan kita punya timnas yang bagus lho. Ada juga urusan bisnis dan politik di situ.

Nah, kalau sudah begini, kita semua bisa merenung dan berpikir lagi. Apa solusi supaya sepakbola kita juara di mana-mana? Bagaimana menjembatani urusan bisnis yang memang wajar ingin mendapat keuntungan, urusan investasi triliunan, urusan kontrak-kontrak, urusan pajak, urusan hajat hidup pemain, urusan prestasi, urusan supporter yang ingin nyaman nonton di stadion maupun di TV, urusan pembinaan usia dini, urusan FIFA, urusan citra politik, urusan utang ke pihak ketiga (mustahil kan pakai duit sendiri untuk bisnis), dan urusan macam-macam lainnya?

Jadi agenda untuk Menpora, BOPI, PSSI, PT Liga, dsb itu bukan hanya saling menonjolkan ego, tuntutan hukum, dll; ini urusan uang mau bagaimana enaknya?

Catatan: Saya tidak ada kepentingan apapun dengan bisnis, politik, media sepakbola ini. Saya berlaku sebagai pembeli tiket nonton timnas dan berlangganan TV yang menayangkan ISL. Penggemar sepakbola.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Kalkulator di Balik Kisruh PSSI-Menpora | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: