Jayalah Terus Tangkap Tangan KPK

Wednesday, April 15th, 2015 - Opini Publik

Saya pikir pernyataan Wakil Ketua KPK Zulkarnain kemarin, “Saya kira OTT itu sudahlah jangan ada lagi” adalah salah satu tonggak sejarah perjalanan KPK yang patut dicatat. OTT adalah Operasi Tangkap Tangan. Konteks pernyataan Zul begini: OTT itu menguras tenaga (kata dia). Masih ada 36 perkara yang harus diselesaikan oleh pimpinan KPK saat ini yang masa berlakunya kira-kira enam bulan lagi. Kalau perkara-perkara itu tidak diselesaikan, pimpinan KPK jilid IV akan terbebani.

Sejak dulu saya berketetapan, mentalitas fans atau haters sebaiknya jangan dipakai ketika kita bicara KPK. Sebab, mentalitas macam begitu akan membawa kita kepada kesesatan logika model argumentum ad hominem. Kita akan cenderung menyederhanakan masalah dengan menyebutkan (dalam konteks Zul, misalnya) hal-hal sebagai berikut: “Wajar saja Zul begitu, wong dia pro koruptor.” atau “Zul kan bekas koordinator staf ahli jaksa agung makanya mentalnya korup.” atau “KPK dirusak dari dalam oleh orang model Zul.” atau “Gak usah didengerin, itu corruptor fight back.” atau “Ah itu paling titipan isu BG, kan Zul tuh yang gak setuju kasus BG naik jadi sidik dan tersangka.” atau “Dari mukanya aja dah kelihatan korup.” atau “Zul nih gak sadar kalau korupsi kejahatan luar biasa.” Dan sejenisnya.

Memang, faktanya, bahasa Zul bertolak belakang dengan Johan Budi yang masih ‘keras’ dengan istilah bahwa KPK akan “move on”, “speed up”, “come back”, “kembali ke jati diri”, dan sebagainya. Johan tentu akan lebih disukai dan mendapatkan headline: “KPK Bangkit Lagi”.

Pujian berlebihan atau makian berlebihan memang sama daya rusaknya. Sesumbar berlebihan atau menyerah keterlaluan juga sama tidak bergunanya. Inti persoalannya bukan di situ, bukan pada soal KPK bangkit atau terpuruk yang diukur dari banyak-tidaknya OTT. Kritislah soal OTT ini. Zaman sudah berganti, teman-teman.

Sependek yang saya tahu dan alami, OTT ini memang menggairahkan bagi para wartawan dan pemirsa sekalian. Dramatis. Obat sementara menumpahkan kemarahan publik terhadap hidup bangsa ini yang begini-begini aja, yang sama-sama kita tumpahkan kepada koruptor sebagai penyebabnya. Seberapa besar pertimbangan aspek hukum dan keadilan mempengaruhi kegandrungan kita akan OTT perlu penelitian lebih lanjut. Kita senang lihat OTT karena dari situlah keadilan ditegakkan atau kita senang lihat OTT karena kita marah kepada keadaan, bercampur baur.

Beberapa jenis orang yang kena OTT atau ketakutan berurusan dengan KPK pernah saya saksikan dengan mata kepala sendiri: mulai dari yang dijebak di kamar hotel, digerebek di kamar mandi, dijitak ketika sampai di kantor KPK, ketakutan melihat foto-foto di koran yang ditempel di ruang pemeriksaan, mendadak rajin salat, setengah gila jam 4 pagi keliling kantor KPK, menangis terisak-isak ketika dikasih makan KFC, dsb; bagaimana proses OTT juga macam-macam: mulai dari tukar-menukar nomor telepon target antara wartawan dan penyidik, laporan matang orang dalam, buntut-membuntuti, dsb. Memang benar kata Zul: menguras energi.

Peredaran isu berita juga seru: bocoran BAP, ‘konpers terbatas’ KPK dengan beberapa media saja, spekulasi para OB dan sopir KPK, mengelabui pengacara, pinjam mulut LSM biar nge-lead berita, dsb. Itu yang bikin betah wartawan di KPK. Menantang.

Pertanyaannya, apa itu semua yang akan kita capai? Rasanya tidak (saya sudah meminta wartawan gresnews.com di KPK untuk ukur-ukur diri. Meninggalkan saja konpers yang digelar kelewat dini hari agar beristirahat supaya esok hari fit, tidak jatuh sakit, dan bisa menggali aspek lain informasi. Pembaca perlu banyak pendalaman dan variasi berita karena mempertontonkan muka tersangka dan sejenisnya di layar dan halaman media, sudah banyak yang melakukan).

Pendeknya begini saja. OTT itu penting tapi bukan untuk gagah-gagahan dan menarik simpati lewat isu berita. OTT penting karena KPK adalah penegak hukum yang punya wewenang untuk itu. Tapi menjadikannya itu sebagai drama yang berlebihan, bahkan dengan dalih memberi efek jera sekalipun, itu tidak ada gunanya. Sulit bagi kita untuk menilai secara objektif pemberantasan korupsi di negeri ini bila situasinya adalah matematis seperti ini: karena tidak ada OTT maka KPK lemah (Ini mungkin penyebab Johan perlu turun gunung beberapa hari sebelum wartawan tahu ada OTT terhadap Adriansyah. Seolah Johan perlu untuk membuktikan bahwa KPK masih ada, buktinya masih ada OTT. Inilah penyebab utama mengapa aspek pencegahan KPK tidak pernah nyaring terdengar, karena publik dibiasakan oleh KPK dengan aksi-aksi dramatis OTT).

Tapi Zul juga tidak tepat dengan menyatakan sudahlah OTT tidak perlu lagi. Ini sama saja dengan mengundang begal dengan mengatakan, sudahlah polisi tidak perlu patroli lagi. Entah apa maksudnya, tapi ini kontraproduktif. Mau dilakukan atau tidak dilakukan OTT, sebaiknya pimpinan diam saja.

Bagi kita sebagai anggota masyarakat, sudah harus mulai bersikap dewasa bahwa dengan atau tanpa OTT, korupsi tetap harus dilawan. Penegakan hukum dalam kasus korupsi tujuannya sama dengan tujuan hukum secara universal yaitu keadilan. Buat siapa? Saya juga tidak tahu persisnya buat siapa, yang jelas bukan buat orang-orang yang sudah terbukti merampok uang negara.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Jayalah Terus Tangkap Tangan KPK | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: