Kilatan Intelektual Mahkota Wartawan

Thursday, April 9th, 2015 - Bisnis Media

Sebetulnya saya sudah mau tidur tapi Tajuk Harian Bisnis Indonesia hari ini bikin mata melek lagi, badan segar kembali. Judulnya: Tutup Situs Pelanggar HKI.

Saya kutipkan bagian pentingnya:

“Di sektor lain, kalangan penerbit media digital pun dirugikan dengan banyaknya situs yang mengaku sebagai situs berita namun kontennya hanya mencomot naskah berita dari situs media asli.

Betul-betul sebuah perampokan karena penerbit media digital yang benar melakukan investasi yang tidak sedikit untuk beroperasi secara baik. Di sisi lain situs media tak jelas asal-usulnya tinggal mengambil seenaknya.”

Empat tahun lalu, ketika saya dkk mulai cerewet tentang situs berita agregasi, banyak yang mencemooh. Bukan cuma mencemooh melainkan menganggap kami adalah perampok. Merampok siapa? Merampok orang kaya si pemilik grup media digital dengan kendaraan UU ITE yang ketika itu baru seumur jagung berlaku. Sebab ada ancaman pidana 9 tahun dan ganti rugi materiil 3 miliar bagi mereka yang menurut kami melanggar hak kami. Ya, saya memang meminta ganti rugi 10 miliar (3 miliar materiil, 7 miliar immateriil) ketika itu karena salah satu situs agregasi berita yang lagi hot-hotnya ketika itu mengambil konten-konten gresnews.com, yang disedot secara otomatis menggunakan iframe.

Kasus kami laporkan ke Polda Metro Jaya. Dua tahun diproses dan kami sukses: SP3! Tak masalah. Saya tak menyalahkan polisi. Penyidik Polda Metro profesional menangani kasus ini. Kami dapat forum yang adil: tiga kali gelar perkara besar, ahli dihadirkan seimbang, diawasi oleh pimpinan pengawas penyidik. Perwakilan Kominfo pun antusias datang dan memberikan keterangan dari sisi regulator.

Sedikit melipir konteks. Waktu itu saya ingat film Flash of Genius. Dirilis 2008, tentang seorang profesor bernama Robert Kearns yang menemukan teknologi wiper mobil yang bisa berhenti beberapa detik (berkedip-kedip seperti kelopak mata) supaya tak menghalangi pandangan pengemudi. Dia terinspirasi ketika bersama keluarganya pergi ke gereja di saat hujan dan merasakan betapa sulitnya mengemudi dengan wiper yang tak ada jeda gerakannya. Ini kisah nyata diangkat dari salah satu artikel New Yorker tahun 1993. Tapi, penemuan dia ternyata dipatenkan oleh Ford. Dia menuntut sampai 40 tahun lamanya (kehilangan istri dan anaknya, melarat). Akhirnya, pengadilan memenangkan dia. Ford membayar USD30 juta, Chrysler USD18,7 juta, dan sederet pabrikan mobil harus setor ke dia atas penemuannya itu. Mahkamah Agung di AS juga menjadikan putusan perkara ini sebagai yurisprudensi perkara paten.

Cerita ini juga saya koar-koarkan saat gelar perkara. Intinya, kilatan intelektual, momen ketika orang berpikir, menemukan, berkarya, dengan akal budinya, haruslah dihargai (mahal). Jangan main gampang. Keuntungan lari ke perampok.

Tapi, lawan kami, si pengelola agregasi berita, tampaknya punya pikiran pendek saja. Mengaku keluar duit USD2.700 untuk melayani tuntutan kami dengan menyewa pengacara, tersirat dia ingin mengatakan saya bego. Tak paham bisnis (Ya, mungkin benar begitu tapi saya masih punya nurani). Argumen dia sederhana, justru agregasi menguntungkan penerbit macam saya, bisa promosi, menjangkau pembaca lebih banyak, dsb. Buktinya, kata dia, portal berita lain tidak ada yang protes, yang gede-gede malah (dia sebut beberapa media yang katanya gede dan tidak pernah protes soal ini).

Ya, memang betul ada keuntungan promosi gratis tapi dia tidak lihat bahwa dia bisnis juga. Narik iklan dari traffic portal yang kontennya tidak dia hasilkan sendiri. Tanpa wartawan, tanpa harus bikin perusahaan pers, tanpa perlu daftar dewan pers, dsb. Cukup web designer, account executive, admin. Alexa naik, iklan banyak. Sementara situs berita beneran mampus ngurusin pembinaan wartawan, mengawal etika pers, disidang dewan pers, ribut dengan narsum, cari iklan, urus pajak, pelototin typo, dimaki-maki pembaca karena salah akurasi, genjot SEO, dsb. Itu proses yang harus dilalui pengelola media massa yang waras.

Gobloknya lagi, banyak mereka yang ngaku wartawan, orang media yang katanya sudah karatan dan ubanan, berpikir gampang model begini juga. Bikin aja satu web. “Gak usah gaji wartawan. Kan ada wartawan dexxx.com, komxxx.com, dll.” Kata dia, kan tinggal diolah aja: ganti judul bombastis, share di medsos. Foto? “Kayak gak ada google aja.”

Saya pernah SMS salah satu anggota Dewan Pers (sekarang mantan) soal gejala kramotak wartawan kayak gini. Tanggapan sesepi bulan di atas kuburan dalam puisi Sitor Situmorang.

Lanjut orasi saya di gelar perkara. Saya bilang, persoalan duit nanti dulu. Pinggirkan dulu. Saya cuma mau ceritakan bagaimana suatu berita itu bisa tersaji manis di hadapan pembaca: Wartawan kami tinggal di kos pinggiran kota. Naik motor membelah Jakarta yang awut-awutan. Tanpa sarapan, mata masih ngantuk, datang ke pengadilan. Pantau sidang seharian, mencatat, menulis berita dan mengirimkan ke kantor via email. Disunting oleh editor dan ditayangkan. Di jalan raya, dia menghadapi bahaya. Kesehatan dipertaruhkan karena makan tidak teratur demi mengejar bahan berita. Masa depan gelap, gaji segitu-gitu aja. Terima amplop, saya sikat.

Alhasil jadilah itu berita. Ditayangkan di website kami, tempat dia mencari makan. Sejam kemudian, agregator mencaplok dan menayangkan lagi. Beberapa hari kemudian, di salah satu majalah bisnis, pengelola agregasi berita ini pun mendapat gelar sebagai enterpreneur digital, perusahaan agregasinya itu bermasa depan cerah, kapitalisasinya sekian sekian sekian. Katanya model one stop service ini adalah cara menikmati berita digital masa depan. Buka satu, dapat semua topik.

Masa depan digital nenek lu!

Makanya saya bilang di mana-mana. Bagaimana pers kita mau sehat kalau hak wartawan dirampok oleh segelintir orang yang punya duit banyak tapi gak mau ribet pikir itu yang namanya pembinaan kewartawanan dan prinsip jurnalistik. Karya jurnalistik harusnya lebih berharga mahal.

Struktur industri media massa (terutama online yang saya tahu) terlalu acak-acakan. Mereka yang tak berkarya justru mendapatkan uang lebih banyak. Mereka yang tak keluar peluh, justru jadi mogul. Daripada mendidik wartawan, lama dapat iklannya, lebih baik jualan traffic pakai konten orang. Traffic banyak, bikin lagi perusahaan agensi online, tawarkan placement iklan ke klien. Duit muter di situ-situ aja. Di mana wartawan yang benar-benar wartawan? Ya masih liputan sampai malam, nunggu satu statement narsum, yang kalau luput jadi sasaran makian redaktur.

Intinya adalah agregator berita, situs-situs berita tidak jelas, mereka semua ini memang merusak ekosistem pers nasional. Merusak kepercayaan pembaca, merusak sumber pemasukan halal media-media yang benar-benar media.

Kalau begini terus, susah buat pers kita naik kelas.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Kilatan Intelektual Mahkota Wartawan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: