Logika Ignatius Ryan Pemohon Hukuman Mati

Wednesday, August 6th, 2014 - Opini Publik

Mari geser sedikit sudut pandang kita dalam persoalan Ignatius Ryan Tumiwa, lelaki pengangguran yang mengajukan permohonan uji Pasal 344 KUHP di Mahkamah Konstitusi atau ramai disebut sebagai kasus minta “suntik mati”. Menghadap-hadapkan dua fakta bahwa Ryan adalah lulusan magister UI dengan langkahnya menguji pasal “suntik mati” itu hanya akan membawa kita pada keheranan yang sesat. Pada zaman ketika lulusan SMK dari Salatiga bisa mengalahkan insinyur Oxford seperti sekarang ini, gelar pendidikan atau asal universitas bisa jadi tak lagi penting dibicarakan. Jadi, tak ada guna terheran-heran bertanya, “Kok bisa ya magister UI seperti itu?”

Menurut saya, Ryan ini cerdas luar biasa. Permohonannya itu mempermasalahkan hal-hal yang sangat mendasar: kematian, keadilan, negara…Hal-hal yang usianya setua sejarah umat manusia. Tak cermat kita membaca persoalan ini, akan jatuhlah kita pada kesesatan logika.

Media massa, saya kira, sudah masuk jebakan logika, dengan terus memperbesar volume pemberitaan tentang Ryan yang magister UI tapi kok meminta pasal “suntik mati” dihapuskan. Hakim MK seperti Patrialis Akbar juga sama, masuk “kubangan” Ryan, dengan menyarankan agar Ryan menarik permohonan dengan nasihat bahwa orang yang bunuh diri itu akan kekal di neraka (Jika argumennya seperti ini tak perlu ada hukum dan pengadilan, cukup penuhilah dunia ini dengan pemuka agama). Hakim MK yang lain juga sama nasibnya, terjerumus langkah Ryan, dengan menyatakan pada sidang pendahuluan 16 Juli lalu, “Coba berapa lama tiga hakim ini ngobrol dengan saudara? Kan berarti saudara hebat, ya.” (Kalau begini urusannya, wartawanlah orang paling hebat di muka bumi ini, karena bisa berlama-lama ngobrol dengan hakim dan orang-orang penting lainnya). Faktanya Ryan adalah WNI (sama seperti kita) yang punya hak konstitusional untuk mengajukan permohonan di MK.

Poin penting dari fenomena Ryan ini bukan hanya pada dia mengalami depresi karena hidup sebatang kara dan pengangguran (Ryan bilang uang untuk membeli biskuit dari tabungan dan peninggalan orang tuanya tinggal cukup hingga sebulan lagi) melainkan pada hal-hal berikut (Ingat, yang dia uji adalah pasal yang berbunyi: Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun):

Lihat pengakuan Ryan bahwa dia itu sebenarnya pernah datang ke kantor Departemen Kesehatan dan meminta disuntik mati. Tapi petugas Depkes tidak mau karena ada ancaman pasal 344 itu.

Lihat juga pengakuan dia bahwa lebih baik dibius atau disuntik mati ketimbang bunuh diri dengan melompat dari apartemen seperti dilakukan oleh artis-artis dan orang terkenal yang dia baca di koran (dia mencontohkan artis Hongkong).

Dalam argumennya, Ryan ini selalu menyeret-nyeret kekuasaan, otoritas, simbol kewenangan, mulai dari bendera merah putihnya yang dicuri sehingga ia merasa dirinya terancam; tidak diundang pertemuan warga oleh Pak RT hingga ia merasa diabaikan posisi sosialnya; SMS ke Ahok dan SBY yang tidak dibalas sehingga ia merasa terpinggirkan; merasa susah untuk meminta bantuan LBH atau advokat; hingga merasa terganjal oleh pasal KUHP ketika ia minta disuntik mati kepada petugas Depkes.

Cara berpikir detail, teliti, dan penuh perhitungan sebagai bekas akuntan di perusahaan ternama ala Ryan ini tak bisa dianggap bodoh untuk membaca rumusan pasal itu. Ryan itu minta bunuh diri, disuntik mati, atau apapun bentuknya, dengan syarat. Dia itu ingin subjek lain (petugas Depkes, dokter, atau siapapun juga) yang merampas nyawa dia karena permintaan dia sendiri dengan kesungguhan hati. Karena apa? Karena ancaman 12 tahun penjara itu tertuju kepada “barang siapa yang merampas nyawa orang lain” itu. Itulah bisa jadi mengapa dia beranggapan lebih baik disuntik mati ketimbang bunuh diri dengan melompat dari apartemen.

Inilah persoalan yang sama peliknya dengan perdebatan tentang euthanasia dan kode etik kedokteran (Dokter bisa dipidana jika melakukan euthanasia; bagaimana membuktikan permintaan dengan kesungguhan hati itu? Apakah dengan pernyataan tertulis? Bagaimana kalau orangnya sedang sekarat/koma? Apakah boleh diwakilkan keluarga padahal tertulis jelas adalah harus “atas permintaan dia sendiri”? Dsb). Sebagai catatan Gereja Katholik juga berdebat sengit tentang euthanasia ini dulu.

Kasus Ryan ini kasus yang pelik, rumit. Sayang sekali jika hakim MK cuma berkomentar minta permohonan dicabut karena orang bunuh diri akan kekal di neraka atau Ryan ini bikin malu negara. Alasan permohonan Ryan itu dia minta disuntik mati karena masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan menjadi beban masyarakat. Karena apa? Karena masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan ini tidak mendapat tunjangan dari pemerintah. Ini tidak adil baginya, apalagi jika meminta mati dengan disuntik pun masih “dipersulit” karena yang menyuntik mati ada ancaman 12 tahun penjara.

So, anda bisa bayangkan dampaknya permohonan Ryan ini bagi dunia kedokteran dan nyawa kita sekalian. Apapun putusan MK nantinya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Logika Ignatius Ryan Pemohon Hukuman Mati | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: