Mengapa Membela Kroasia di Piala Dunia?

Thursday, June 12th, 2014 - Opini Publik

Kepentingan saya sederhana saja: menjaga suasana Piala Dunia tetap khusyuk. Khusyuk itu artinya hati yang bulat, berserah penuh, bersungguh-sungguh. Mengapa Piala Dunia harus khusyuk dan dijauhkan dari gemuruh maki-maki pilpres? Karena Piala Dunia lebih mahal dari pilpres. Pilpres ‘cuma’ Rp7,9 triliun (untuk satu putaran), Piala Dunia Rp105 triliun (harga seluruh pemainnya saja, belum termasuk infrastruktur dll yang bisa mencapai Rp400 triliun).

Jadi, kalau bicara pilpres, saya tak ikut right side maupun left side. Saya ikut Lou Reed (pentolan Velvet Underground): Walk on The Wild Side. Bagi saya, tak terlalu penting yang menang nomor satu atau nomor dua. No matter who you vote for, the government always gets in, kata Bonzo Dog Band. Sebab, ada penulis yang menyarankan, dengarkanlah Gimme Some Truth-nya John Lennon atau Political World-nya Bob Dylan, dan percayalah, “Taman bunga tak seharum dan semerbak seperti yang kau kira.”

Kebetulan Kroasia main pertama lawan Brasil. Saya salah satu fans Kroasia, sejak satu gol manis Davor Suker dibalas dua gol si kutu buku Lilian Thuram (World Cup 1998), sejak gol chip Suker ke gawang Peter Schemeichel (Euro 1996). Sejak saya tak berhenti memikirkan mengapa Alan Boksic bisa berlari dengan gaya khasnya seperti itu.

Di Kompas hari ini ada tulisan bola Budiarto Shambazy tentang kutukan Brasil 1950, saat Samba main mulus sejak pertandingan perdana tapi kalah 1-2 dari Uruguay di final. Tulisan itu mau bilang, bisa saja Kroasia senasib dengan Meksiko yang digasak 4-0 di pertandingan perdana 1950. Jangan sampai terjadi.

Saya senang Kroasia, salah satunya karena di sana tak butuh waktu sampai seabad bagi seseorang untuk dinobatkan sebagai legenda. Perang besar di Dynamo Zagreb Ground dengan orang-orang Serbia terjadi tahun 1990; tahun 1992, Kroasia lepas dari Yugoslavia. Tahun 1998, jadi semifinalis Piala Dunia, dan siapapun yang ada dalam tim saat itu, telah menjadi legenda. Jadi, kalau soal bapak bangsa, Franjo Tudjman, sang presiden, adalah nomor satu. Tapi kalau soal taktik sepakbola, Miroslav Blazevic nomor satu, Tudjman nomor dua. Dua-duanya sahabat karib. Tudjman memanggil Blazevic dengan sebutan hewan peliharaan, Ciro.

Kompas menulis kelebihan Niko Kovac, pelatih Kroasia saat ini, adalah pandai memotivasi pemain dengan pendekatan patriotisme. Bisa jadi betul, meskipun berat juga jika melihat fakta Mandzukic harus absen di laga perdana karena hukuman kartu merah. Sejak zaman Blazevic, patriotisme memang andalan Kroasia, sebab motivasi itu penting bagi seorang pesepakbola, katanya — meskipun kompleks juga jika melihat kenyataan orang Kroasia yang hampir tidak mau melulu diidentikkan dengan nasionalisme Balkan, karena mereka lebih merasa ingin dianggap sebagai orang Eropa saja. Titik.

Saya tentu berharap Kroasia bermain seperti anak-anak The Bad Blue Boys (terinspirasi dari seringnya anak-anak Kroasia nonton Bad Boys, Sean Penn), kelompok garis keras pendukung Dynamo Zagreb, yang siap mati di lapangan untuk membela tim. Cikal bakal militer Kroasia adalah Bad Blue Boys ini, punya jiwa patriotik, liar, pemberani, apalagi kalau harus bertempur dengan kelompoknya Arkan, pendukung Red Stars yang dikaitkan dengan Serbia. Brasil bisa digulung habis nanti malam. Mungkin saja.

Tapi, memang betul, politik suka usil dan mengintervensi sepakbola. Saya masih ingat pada tahun 1995 lihat pertandingan kandang Kroasia vs Estonia untuk kualifikasi Euro 1996. Waktu itu Kroasia menang telak 7-1. Ternyata belakangan saya tahu, Tudjman bertaruh skor 6-1 untuk Kroasia saat itu. Makanya Blazevic berteriak “Jangan bikin gol lagi” kepada kapten Boban saat posisi 6-1 menit 85. Tapi Boban justru kasih umpan terobosan ke Boksic dari sisi kanan gawang, Boksic backhill ke Suker yang langsung tendang ke pojok kanan gawang lawan. Skor jadi 7-1, menit 89. Saya bersorak, Tudjman tidak. Bagi Blazevic sederhana saja. “Apa ada di dunia ini pemain sepakbola yang tidak pernah sekali pun mendapatkan uang dengan cara ilegal?” Wajar saja Blazevic mudah tergoda uang dan politik, saat itu. Meskipun Suker tak peduli dan tetap bikin 7-1.

Jika saja, nanti malam itu bukan pertarungan sepakbola melainkan sastra, Brasil bolehlah dibilang menang telak, karena mereka punya Paulo Coelho. Sama seperti Boban pernah bilang, Italia pasti menang telak dari Kroasia karena Italia punya Dante Alighieri, Petrarch, dan Leopardi. Padahal Boban ini berkelas juga seleranya: terpengaruh Anton Chekhov, Fyodor Dostoevsky, memuja Borges dan sedikit Gabriel Garcia Marquez. Boban juga yang meledek Roberto Baggio untuk sering-sering membaca Siddharta-nya Hermann Hesse, sementara ketua PSSI-nya Italia pernah disuruhnya lebih rajin lagi membaca Nietszhe.

Tapi, nanti malam itu pertandingan sepakbola. Saya adalah pembenci timnas Brasil — sakit hati saya melihat Aron Mohamed Winter tak jadi man of the match gara-gara gol Branco yang bikin skor 3-2 di perempat final USA 1994. Jujur, saat itu saya suka sekali bintang Inter Milan yang muslim itu main bagus dan bikin gol di piala dunia. Sebagai minoritas, dia hebat berada di timnas oranye. Tak mudah berada di posisi seperti Aron.

Posisi Kroasia saat ini juga tidak mudah. Lawan favorit juara di laga perdana. Saya pikir tak masalah. 1-0 untuk Kroasia, sama seperti Senegal menghancurkan Perancis — negara yang bertahun-tahun menjajah mereka — di laga awal 2002.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Mengapa Membela Kroasia di Piala Dunia? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: