Puisi Denny JA atau Broadcast Sutan Bhatoegana?

Sunday, January 5th, 2014 - Opini Publik

Mungkin pengetahuan saya tentang sastra terlalu dangkal. Tapi sependek referensi saya, tak ada karya sastra Denny JA yang “mengganggu” hidup saya-mengubah pandangan saya tentang apa itu Tuhan, bumi, dan manusia.

Saya selalu “gelisah” bila mengingat Kembang Gerbera-nya Sitor Situmorang. Olenka-nya Budi Darma. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan-nya Umar Kayam. Membunuh Orang Gila-nya Sapardi Djoko Damono. Merahnya Merah Iwan Simatupang, GRES-nya Putu Wijaya. Robohnya Surau Kami AA Navis. Aki, Ave Maria-nya Idrus. Bahkan cerpen Martin Aleida dan Sihar Ramses Simatupang yang dimuat di edisi awal majalah Primair, masih membekas.

Waktu kuliah, berbulan-bulan saya tidak bisa tidur karena Crime and Punishment-Fyodor Dostoyevski sama seperti Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer bikin saya selalu merinding. Javid Nama-nya Muhammad Iqbal juga masih terasa bekasnya di benak, meski saya lupa detail isinya apa.

Waktu SD, Si Jamin dan Si Johan, Merari Siregar, bikin saya bercucuran. Derai-Derai Cemara-nya Chairil Anwar, “Hidup hanya menunda kekalahan” menimbulkan entah apa namanya di dada saya.

Tapi, Denny JA, cuma tiga hal yang saya ingat: pertama, klien pertamanya adalah Golkar. Kedua, dia membeli akun twitter ratusan juta. Ketiga, insiden “jebolnya” iklan dia di Media Indonesia. Penobatannya sebagai tokoh sastra berpengaruh melawan akal sehat saya.

Supaya otak saya seimbang, saya akses puisi-esai.com. Mau tahu juga, mungkin pendapat saya salah, dan dia memang tokoh sastra hebat.

Denny ini ternyata memang tak pernah berniat jadi penyair. Dia itu, “Sedang mencari bentuk lain agar kegelisahan sosial dan komitmen itu sampai ke publik dalam bentuk yang pas.”

Dalam perjalanannya selaku penulis, “Saya pernah sampai ke “aneka puncak gunung.” Namun “aneka puncak gunung” itu masih tak memadai untuk mengekspresikan anak batin saya yang satu ini.”

Tahun 2011 dia meriset soal puisi. Sampelnya 5 puisi yang dimuat koran ternama sepanjang Januari-Desember 2011. Puisi-puisi itu dikasihlah untuk dinilai oleh kelompok yang berpendidikan tinggi, menengah, rendah. Seraya dibandingkan dengan Aku-nya Chairil Anwar dan Khotbah-nya Rendra. Hasilnya, mereka yang berpendidikan tinggi sekalipun tak paham maksud puisi itu.

Jadi kesimpulannya kata Denny, puisi itu harus: 1. Menyentuh hati. 2. Memotret manusia konkret dalam situasi sosial. 3. Ditulis dalam bahasa yang dimengerti publik luas dan tersusun indah. 4. Ia harus menggambar dinamika sosial.

Teknisnya puisi esai itu minimal 10 ribu karakter. Ada catatan kaki! Biar terlihat berangkat dari fakta sosial.

Bingung? Ini model puisi esainya Denny:

“Ayah dan anak yang saling bertengkar saja tak cukup untuk menjadi bahan sebuah puisi esai. Untuk menjadi puisi esai, kasus ayah dan anak itu harus masuk dalam sebuah setting sosial. Misalnya sang ayah pembela Orde Baru, sementara anaknya pembela Orde Reformasi. Mereka saling menyayangi namun harus berhadapan frontal karena memilih jalan politik yang saling bertentangan.”

Tahun 2012, Denny terbitkan Atas Nama Cinta. Hasilnya, satu juta hits online mobile dan twitter dalam sebulan, “Suatu yang tidak pernah terjadi dalam sejarah buku puisi bahkan buku umum sekalipun.”

Kini masalahnya, apakah ada di antara teman-teman yang mengalami kegelisahan, terganggu, mengalami “moksa”, trance, atau apapun namanya semacam pengalaman “spiritual”; membuat perubahan dalam hidup, memikirkan ulang tentang prinsip-prinsip kemanusiaan, dsb dsb, ketika membaca karya Denny JA? Apakah karya Denny JA itu membantu kita menuntaskan satu-satunya tugas besar kita sebagai manusia yaitu menjadi manusia? Atau mungkin ada sekelompok orang yang sembunyi-sembunyi menyebarluaskan karya Denny JA karena takut ditangkap penguasa karena karyanya itu melawan prinsip penguasa yang antidemokrasi, lalim, dan sejenisnya? Adakah yang mati karena keranjingan kata-kata seperti Dead Poet Society karena karya Denny?

Kalau saya, jawabannya tidak. Jelaslah bahwa orang ini sama sekali tidak berpengaruh dalam hidup saya, sebagai pembaca sastra alakadarnya.

Bahkan, Sutan Bhatoegana yang mem-broadcast Tahajud Call setiap dini hari, menurut saya, jauh lebih bermanfaat dan berpengaruh ketimbang Denny JA.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Puisi Denny JA atau Broadcast Sutan Bhatoegana? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: