Cermin Kebaikan Dokter Rakyat Kecil

Sunday, January 5th, 2014 - Opini Publik

Selain Dr. Lo, di Solo, ada Dr. Dewi Utami. Keduanya orang baik. Sama-sama mengobati orang sakit dengan biaya terjangkau-bahkan gratis.

Dr. Dewi praktek di Jl. RM Said. Di sebuah bangunan sederhana beratap rendah, dindingnya triplek. Yang datang ke sana mulai dari penunggang mobil pribadi hingga pejalan kaki. Ruang periksanya tanpa AC, hanya kipas angin. Kasur yang kusam dengan sapu lidi untuk membersihkan. Ada tirai serupa blacu yang memisahkan ruang periksa dengan tempat meramu obat.

Aruna berobat ke sana. Dia kerap batuk dan muntah. Diagnosa Dr. Dewi, Aruna mau keluarkan dahak tapi tidak bisa. Dr. Dewi masuk ke balik tirai, meramu obat. Sebotol obat sirup + puyer. Tarif? Rp20 ribu. Aruna sembuh.

Kata orang Solo, Dr. Dewi ini baik dan manjur. Banyak yang cocok. Tarifnya bisa 20 ribu, 15 ribu, 5000, bahkan gratis. Buka jam 4 sore, rata-rata pasien 60. Pernah sampai 150 orang. Kebanyakan mereka yang tak mampu. Dengan tarif segitu, Dr. Dewi menerima masih askes.

Yang unik juga adalah kartu periksa. Cuma dari karton potongan 10 x 10 cm. Merah. Tulisannya “Kartu Periksa”. Ada tertera “Nama Penderita” bukan “Pasien”, umur, alamat. “Penderita” yang mau diobati cuma dipanggil oleh Dr. Dewi, nama dan lokasi tinggal. (Aruna, Purworejo). Logat Solonya kental.

Daripada bicara “prestasi” tidak jelas ala Denny JA, lebih baik memperbanyak pembicaraan tentang orang mulia seperti Dr. Lo dan Dr. Dewi ini. “Kartu Periksa” Dr. Dewi itu jauh lebih berpengaruh ketimbang “Atas Nama Cinta” sang ahli survei..

Bukan cuma berpengaruh, melainkan menyediakan harapan, menyediakan hidup buat mereka yang tak mampu. Ada gugatan dan pembelaan sosial di dalam kartu itu.

Hebat!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Cermin Kebaikan Dokter Rakyat Kecil | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: