Portal Berita Khusus Sampai Pemilu Saja

Monday, December 9th, 2013 - Bisnis Media

Menjelang pemilu seperti sekarang ini, jumlah pemain portal berita semakin banyak. Itu bagus. Selain karena alasan kebebasan pers, dari sudut bisnis, tentu ibarat berjualan ponsel di Roxy yang ramai pesaingnya lebih menguntungkan ketimbang berjualan ponsel di Pasar Induk yang sedikit pesaingnya. Sebab, pasar akan semakin gemuk. Dan itu berarti potensi pemasukan semakin besar.

Tapi persoalannya, di mana tempat untuk jurnalisme yang bermutu tinggi? Di mana kebenaran ditemukan? Apakah kualitas mental dan praktis para wartawan juga meningkat dengan menjamurnya portal berita?

Sudah banyak pendapat dan studi yang menjelaskan tentang bagaimana kemunculan internet mengubah ideal dan praktis masa lalu tentang jurnalisme masa kini. Pun mengubah kebiasaan para pembaca/pemirsa untuk menerima dan menggunakan informasi. Pandangan Newsonomics, misalnya, memberikan 12 poin trend media baru pada era internet ini, seperti pembaca adalah reporter sekaligus editor; reporter yang dituntut bertindak bak seorang blogger; bertumbuhnya portal perkotaan; kemenangan media yang multiplatform; seni memanfaatkan konten yang dibuat orang lain; hingga semboyan ’general news is dying’.

Kita sekarang hidup di era Darwinian Content. Konten yang lemah diterkam oleh konten yang kuat.

Jelaslah dengan demikian, internet memberikan potensi di satu sisi bagi perkembangan media baru, tapi di sisi lain memberikan tantangan etik bagi masa depan jurnalistik. Apakah itu?

Kembali ke soal media online dan pemilu, saya kira ada persoalan penting yang perlu dibahas. Banyak sekali saya mendengar ungkapan bahwa pemilu adalah lahan basah buat media. Selain potensi membanjirnya iklan politik di media-media yang telah mapan, juga potensi bagi para praktisi untuk membangun media online yang bersifat propaganda bagi kepentingan politik. Hari ini ICW melansir pernyataan bahwa media akan menjadi sarana bunuh-bunuhan politik dengan saling memberitakan kasus hukum di antara entitas politik. Klop.

Politik telah mengubah lingkungan jurnalistik kita menjadi semakin cepat berubah dan tidak stabil. Dan, meminjam analisis David Craig–profesor jurnalistik dari Universitas Oklahoma–dalam lingkungan jurnalistik yang cepat berubah dan tidak stabil itu, yang seharusnya menjadi penekanan penting adalah kualitas karakter personal para wartawan. Poinnya saat ini adalah kualitas personal, keutamaan personal para wartawan, dan bukan lagi sekadar kode etik dan pedoman yang bisa dengan mudah dilanggar.

Pembangunan karakter personal wartawan, itu yang tak banyak dibicarakan di negeri ini–yang lebih suka membicarakan sensasi, intrik, spin doctor, dan sejenisnya. Masih terlalu banyak pelaku media yang bangga berlindung di balik korporasi media yang sudah lama berdiri (saya tidak menyebut istilah media besar atau mainstream) tanpa berpikir bagaimana membangun kualitas karakter personalnya sebagai wartawan. Alhasil mereka limbung ketika tak lagi pakai baju media sebelumnya.

Tahun depan adalah tahun kelima saya memimpin korporasi media yang saya–dan orang-orang yang saya hormati–dirikan. Selama kurun waktu itu, saya mengamati betapa masih rendahnya kualitas karakter personal wartawan. Berulang-ulang saya menekankan karakter utama yang harus dikembangkan para wartawan adalah karakter yang haus akan kebenaran. Karakter itu diwujudkan dengan sikap dan perilaku yang adil dalam bertugas. Jika dua hal itu terwujud, wartawan akan memikiki sikap mental yang positif dalam bekerja: punya vitalitas, tak mudah menyerah, kreatif, independen…

Tapi saat ini, masih sedikit wartawan yang peduli pada persoalan karakter personal itu. Apalagi pada tahun politik nanti. Lemahnya karakter personal akan membuat wartawan dengan mudah diperdaya oleh kekuatan politik, digunakan untuk kepentingan ‘pembunuhan politik’. Jangan anggap enteng persoalan ini, jika tak ingin profesi wartawan semakin merosot derajatnya di mata masyarakat, dan dianggap sebagai profesi yang tidak terhormat.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Portal Berita Khusus Sampai Pemilu Saja | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: