Bangsa Terunggul di Planet Bumi

Monday, October 14th, 2013 - Opini Publik

Saya pernah membaca kisah ini. Ketika Korsel dilatih Guus Hiddink menjelang Piala Dunia 2002, hal yang pertama dilakukan Hiddink adalah meminta agar tiga meja makan yang memisahkan antara pemain junior dan senior di tim Korsel diganti menjadi hanya satu meja makan panjang, sehingga antara pemain senior dan junior dapat berada sedekat mungkin ketika makan bersama. Tapi cara itu gagal, senior dan junior saling diam, tak ada komunikasi. Lalu Hiddink membuat aturan baru yang meminta pemain senior mencatat apa saja yang dilakukan dan dikeluhkan pemain junior setiap hari. Cara ini berhasil. Komunikasi terjadi.

Hiddink bilang, pemain Korsel punya semua syarat untuk menjadi juara. Tapi, Hiddink menilai ada sesuatu dalam budaya Konfusian yang menghambat kemajuan sepakbola Korsel, yakni senioritas yang terlalu berlebihan itu. Itulah yang membuat Korsel cuma jadi top dog di Asia bukan dunia.

Akhirnya, setelah persoalan budaya itu kelar, Hiddink membuat pemain Korsel ini tidak hanya menjadi robot yang berlari-lari. Ditanamkanlah cara bermain kolektif serta konsep think and play. Selain memperkuat fisik pemain.

Alhasil, saya masih ingat, lewat RCTI, saya lihat di Busan Stadium, supporter Korsel membawa spanduk bertuliskan Our First Winning Made in Busan. Mereka menang 2-0 lawan Polandia di pertandingan pertama, terus melaju sampai semifinal, setelah mengalahkan Italia dan Spanyol di perdelapan dan perempat final. Korsel kalah 1-0 dari Jerman di semifinal.

Tahun 2007, saya ada di stadion GBK, Jakarta. Melihat pertandingan terakhir di penyisihan grup, ketika Timnas kalah 1-0 dari Korsel. Kim Jung Woo yang tembak bola dari luar kotak penalti menit 30. Para veteran Korsel di Piala Dunia 2002 masih ikut ke Senayan, salah satunya Lee Chun Soo. Pada pertandingan sebelumnya lawan Bahrain, timnas menang 2-1 (stadion serasa roboh ketika Budi Sudarsono dan Bepe jebol gawang) dan kalah 1-2 dari Arab Saudi (betapa gembiranya lihat Eli Aiboy gocek kiper). Saat itu, Ricardo Salampessy main bagus sekali mengawal sisi kanan pertahanan.

Saya termasuk yang sangat mendukung Coach Indra Sjafri melakukan provokasi di media massa yang mengecilkan Korsel, yang akhirnya memang betul bahwa pemain Korsel kemarin itu cuma sekumpulan lelaki lemah yang mudah kita permainkan. Bertahun-tahun kata ‘raksasa’ Asia, julukan buat Korsel, membuat kita minder dan bangga pada pencapaian kecil. Tahun 1994, Primavera kita yang berlatih di Italia kalah 2-1 dari Korsel dan kekalahan tipis itu sudah bikin kita bangga, sama seperti ketika kita cuma kalah 1-0 dari Korsel pada 2007.

Akhirnya bertahun-tahun pula kita mengidap sindrom psikologi orang kalah yang begitu bangga ketika berhasil menahan imbang atau kalah tipis. Ini sangat merusak mental kita, membuat kita mudah menyerah, dan mudah diadu domba.

Saya termasuk yang meyakini bahwa sepakbola adalah alat perjuangan politik untuk mengangkat derajat bangsa. Konsep bangsa memang imajiner tapi sepakbola adalah fakta. Sepakbola bukan cuma urusan menang-kalah angka tapi soal cara hidup, berkebudayaan. Lihat saja, ketika pendukung Barca ingin memprotes diktator Rivera mereka menyanyikan lagu kebangsaan God Save the Queen. Barca menjadi labuhan hati para imigran miskin yang ingin mengikatkan diri pada identitas Catalan. Barca menang, Catalonia berarti juga menang. Ketika Jenderal Franco lebih memilih Real Madrid, pendukung Barca makin kencang menentang sang diktator; Lihat pula kisah Mussolini, yang pada paruh babak masuk ke ruang ganti pemain dan mengancam akan membunuh pemain Italia jika tak juara Piala Dunia 1930; saat Glasnost dan Perestroika pasca-Uni Soviet dikeluarkan, timnas Rusia terkena imbasnya karena lapangan-lapangan bola dialihkan menjadi kepemilikan privat sehingga mereka kesulitan berlatih; kenapa Hitler ingin Polandia di bawah kekuasaan Jerman, karena salah satunya Jerman membutuhkan striker Polandia untuk bermain di timnasnya.

Sepakbola memang politik tapi bukan politik kacangan rebutan jabatan atau berebut mengundang pemain timnas makan malam. Politik sepakbola adalah mengangkat derajat bangsa, pamor ideologi, sama seperti ketika Sebes mempopulerkan sosialisme dalam sepakbola di lapangan hijau.

Pernah saya menulis soal ini di Media Indonesia tahun 2006 berjudul Sosialisme Sepakbola. Saur Hutabarat berkomentar, “Anak muda, sosialisme kau sudah mati.” Komentar itu lebih lumayan ketimbang komentar seorang redaktur yang bilang, “Sudahlah sepakbola cuma urusan menang-kalah.” Saat itu sedang ramai berita tentang pemberontakan Mari Alkatiri di Timor Leste, pemecatan 691 anggota angkatan bersenjata. Belakangan kita dengar Timor Leste juga begiat ingin menaikkan derajatnya lewat sepakbola.

Kembali ke soal timnas U19, saya pikir inilah saatnya kita bukan hanya mengubah sepakbola melainkan mengubah cara kita berpikir, cara kita hidup, cara kita berbudaya. Jangan jadi orang kalah. Jangan mau kalah. Kita harus menang dan bekerja keras menuju ke kemenangan.

Saya lihat timnas U19 bukan hanya mengubah cara bermain, tapi juga cara mengelola sepakbola dan kehidupan. Sudah ada High Performance Unit (HPU) yang mengadopsi model matematika dan statistik. Tujuh pertandingan di AFF 2013 kemarin, timnas melakukan 3400-an passing dan menemui target sebanyak 2700-an, yang artinya mendekati Barca yang rata-rata 700 passing per pertandingan. Cara soccernomic inilah yang dipakai Milan Lab ketika mengalahkan Barca 2-0 di Champion League lalu.

BPPT juga merekomendasikan model terapi batu es untuk mempercepat pemulihan pemain timnas, sementara tim gizi mengatur asupan makanan, dan psikolog mendampingi pemulihan mental pemain. Ya, inilah sepakbola modern. Di Eropa, latar belakang pekerjaan sang ayah pun menjadi perhatian pelatih untuk menentukan militansi dan kehendak untuk menang para pemainnya. Inilah sebetulnya kesempatan bagi Otonomi Daerah untuk memperpendek jarak antara gunung dan kota, laut dan daratan, bumi dan langit, kaya dan miskin, melalui sepakbola, agar para pemain hebat di daerah terpencil, anak keluarga sederhana, keluar dari sarang dan membanggakan bangsa. Jadi tak ada lagi dikotomi antara tarkam dan tarkot (antarkota). Jakarta dan non-Jakarta.

Kita sudah melangkah di rel yang benar, bukan hanya untuk menang di lapangan hijau, tapi menang dalam cara kita berbudaya, bekerja, untuk terus meninggalkan mindset bahwa kita bangsa kalah.

Saya sudah berpikir bahwa kita harus menjadi yang paling unggul di planet ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Bangsa Terunggul di Planet Bumi | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: